Connect with us

Artikel

Kitakah Predator Sosial itu?

Published

on

Surabaya, lingkaran.net – Predator merujuk pada sikap hewan yang memburu, menangkap dan memakan hewan lain. Hewan lain yang dimakan disebut mangsa. Predator dalam pemaknaan predator sosial adalah siapapun yang hidup dalam lingkungan kemasyarakatan tapi sikap dan perilakunya selalu berupaya mengambil kepuasan atas dirinya sendiri.

Dalam perspektif psikologi, perilaku ini dikategorikan sebagai perilaku anti sosial ( antisocial personality disorder ). Mereka yang terkategori seperti ini adalah orang orang yang dramatik. Selalu berlebihan dalam bersikap dan jarang sekali bisa mematuhi norma norma sosial yang berlaku. Cenderung melebih lebihkan sesuatu yang sebetulnya sederhana. Individu dengan riwayat seperti ini cenderung untuk melanggar hak hak orang lain meski sudah disepakati. Robert Harte menggambarkan sebagai seseorang yang menawan, memanipulasi, dan menerjang apa saja secara kejam. Sama sekali tidak memiliki hat empati. Semena mena melakukan apa saja yang dia inginkan, melanggar norma dan ekspektansi sosial tanpa sedikitpun merasa bersalah atau menyesal.

Mereka yang dengan berperilaku seperti ini biasanya secara persisten akan melanggar hak orang lain dan hukum. Mengabaikan norma dan konvensi sosial, impulsive, serta gagal membina komitmen interpersonal. Individu seperti ini biasanya akan terus menerus menerus melakukan tingkah laku kriminal atau anti sosial., namun bukan tindakan kriminalitas. Gangguan perilaku seperti ini lebih disebabkan oleh ketidak mampuan seseorang untuk mengikuti norma norma sosial yang ada selama mereka menjalani masa perkembangannya diusia remaja maupun dewasa.

Kawan…. Siapakah mereka predator sosial itu? Bukankah sikap itu sangat melekat dengan kita dan sekitar kehidupan kita. Bukankah keangkuhan yang kita pelihara yang tidak mau mendengarkan pendapat orang lain dan memaksakan apa yang kita anggap sebagai sebuah kebenaran adalah bagian dari sikap anti sosial? Menyepakati norma kebenaran yang berlaku dan berupaya menjaganya adalah sikap bijak untuk mencegah diri perilaku antisosial.

Al Qur’an menyebut mereka sebagai orang orang yang munafik :
” Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (QS. Al-Baqarah: 11-12)

” Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Al-Syuura: 30)

Predator sosial merupakan cerminan sikap kita yang tak selalu menyadari bahwa apa yang kita ucapkan, apa yang kita lakukan bisa menghambat perencanaan dan capaian menuju masa depan yang lebih baik. Predator sosial cenderung susah melakukan perencanaan.

Assallammualaikum wr wb… Selamat pagi, selamat beraktifitas, semoga kita dihindarkan dari sikap yang bisa merugikan masa depan yang lebih baik… Jadikan diri menjadi selalu bermanfaat bagi sesama… Aamiien

Surabaya, 11 Pebruari 2018

Oleh : M. Isa Ansori

Pengajar di STT Malang , Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak ( LPA) Jatim, Anggota Dewan Pendidikan Jatim

BAGAIMANA REAKSI DAN KOMENTAR ANDA?.
Share your vote!
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
Share this
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Artikel

Sekolah Yang Membahagiakan

Published

on

Surabaya, lingkaran.net – Pegiat pendidikan yang memanusiakan, Pengajar di STT Malang, Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak ( LPA ) Jatik, Anggota Dewan Pendidikan Jatim

Surabaya,Lingkaran.net-Tulisan ini mencoba merespon apa yang ditulis oleh Bapak Kenthar Kentar Budhojo, masih layakkah ada pendapat bahwa sekolah itu harus memanusiakan ? Bukankah sekolah itu kan memang diperuntukkan bagi manusia ? Bukankah di kepolisian itu juga ada sekolah untuk anjing agar bisa membantu kerja kerja kepolisian di medan – medan yang sulit ?

Saya akan memulainya dari sudut pandang kebutuhan. Siapa yang membutuhkan dan untuk apa serta apa saja yang mendasari kebutuhan. Apa yang dimaksud dengan kebutuhan ? kebutuhan adalah suatu perasaan kekurangan yang muncul secara naluriah akan sesuatu di dalam diri manusia yang ingin dipenuhi atau pun dipuaskan karena dianggap perlu dan penting yang kemudian mendorong seseorang untuk berprilaku hingga akhirnya dapat memenuhinya. Kebutuhan juga bisa diartikan sebagai segala sesuatu yang dibutuhkan manusia untuk mempertahankan hidup serta untuk memperoleh kesejahteraan dan kenyamanan.

Dari pemahaman tentang kebutuhan, sejatinya bisa dipahami bahwa yang paling membutuhkan dalam hubungan persekolahan, lebih luas dalam proses pendidikan adalah para peserta yang mengikuti proses proses sekolah ( baca : Pendidikan ). Dalam kaitan sekolahnya manusia maka sesungguhnya yang membutuhkan proses perubahan dalam pendidikan adalah manusia sebagai peserta prosesnya. Siapakah manusia yang mengikuti proses itu? Dalam sistim pendidikan orang yang mengikuti proses pendidikan dan membutuhkan perubahan untuk menjalankan fungsi fungsi kehidupannya disebut dengan murid.

Maslow menggambarkan kebutuhan dalam sebuah hierarky. Bahwa kebutuhan manusia itu bertingkat – tingkat dan pemenuhannyapun memerlukan tahapan. Dalam pandangannya, Maslow mengatakan kebutuhan manusia yang tertinggi adalah kebutuhan akan aktualisasi. Kebutuhan akan diakuinya keberadaan seseorang, kebutuhan existensial. Murray (1964: 161) menyebutnya “suatu konstruk (fiksi atau konsep hipotesis) yang mewakili suatu daya dalam diri seorang individu pada bagian otak, kekuatan yang mengatur persepsi, apersepsi, pemahaman, konasi, dan kegiatan sedemikian rupa untuk mengubah situasi yang ada dan yang tidak memuaskan ke arah tertentu”.

Sekolah Yang Memanusiakan?

Sekolah yang memanusiakan dalam pandangan saya adalah sekolah yang bisa memahami kebutuhan perubahan yang dibutuhkan oleh manusia sebagai peserta didiknya. Dalam hubungan proses disana, ada yang disebut dengan guru dan ada yang disebut dengan murid. Sehingga kalau bicara tentang sudut pandang kebutuhan, maka sejatinya kebutuhan siapa yang dipenuhi ? Kebutuhan guru ? Kebutuhan murid ? Atau kebutuhan guru dan murid ?

Kejadian – kejadian dalam dunia pendidikan yang menggambarkan adanya ” konflik ” antar guru dengan murid, guru dengan wali murid sejatinya menggambarkan ketidak harmonisan dalam memenuhi kebutuhan pemuasan pendidikan masing masing pihak, kesannya salah satu pihak mendominasi dan pihak yang lain merasa tertindas. Pernahkah anda merasakan putra putri anda selalu mendapatkan beban tugas pembelajaran yang menurut anda sangat memberatkan atau tidak masuk akal? Misalnya setiap guru yang mengajarkan mata pelajaran, atas nama pendidikan dan kepentingan prestasi anak lalu memberi tugas tugas yang harus dikerjakan oleh muridnya? Apa yang akan dirasakan oleh anak, bila tugas tugas itu tidak mampu diselesaikan?

Sekolah itu harus membahagiakan !

Mengapa? Karena pada dasarnya sekolah yang didalamnya ada kebutuhan perubahan perilaku yang dilakukan dalam proses pendidikan, dibutuhkan suasana yang nyaman. Suasana nyaman itu bisa terpenuhi bila apa yang menjadi kebutuhannya juga terpenuhi. Sekolah yang membahagiakan itu seperti apa? Bagi saya sekolah yang membahagiakan itu adalah sekolah yang dalam proses pembelajaran dan kebutuhan perubahan perilaku selalu mendasarkan pada apa yang dibutuhkan oleh muridnya. Nah adakah sekolah kita yang seperti itu ? Bukankah konflik konflik dalam dunia pendidikan kita lebih mencerminkan pada dominasi pihak tertentu?

” Anak Anak itu seperti busur panah, sekali dia melesak terlepas, maka dia akan memasuki dunianya ” ( Ali Bin Abi Thalib )

” Allah tak akan merubah nasib suatu kaum, kalau bukan kaum itu sendiri yang membutuhkan perubahan ” ( Al Qur’an )

Nah saya hanya ingin mengatakan bahwa sebuah perubahan akan terjadi kalau perubahan itu dimulai dari mereka yang membutuhkan perubahan. Dalam hal pendidikan di sekolah, maka sebuah pembelajaran itu akan dianggap baik dan membahagiakan, bila bila proses proses yang dipakukan mampu menangkap apa yang dibutuhkan oleh murid. Pendidikan yang memanusiakan adalah pendidikan yang melibatkan kebutuhan anak didiknya. Begitu juga sekolah yang memanusiakan, sekolah yang mampu membahagiakan peserta didiknya. Membahagiakan peserta didik itu mampu melayani kebutuhan perubahan sesuai dengan keunikan dan keragaman para anak didiknya. Semoga kita semua ditakdirkan seperti itu… Aamien. (M. Isa Ansori)

Surabaya, 23 Pebruari 2018

BAGAIMANA REAKSI DAN KOMENTAR ANDA?.
Share your vote!
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
Share this
Continue Reading

Artikel

Catatan Oase : Merindukan ” Orong – Orong ” Sunan Kalijogo di Negara Kertagama

Published

on

Surabaya, lingkaran.net – Penulis adalah pegiat pendidikan yang memanusiakan, Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak ( LPA ) Jatim, Pengajar di STT Malang dan Anggota Dewan Pendidikan Jatim

Surabaya,Lingkaran.net-Jagat raya berbunga – bunga, meliuk semerbak wewangian peradaban laku ketika Daeng Acarya Nadendra tafakur, sebersit cahaya menyemburat menerangi telatah Majapahit dibawah Duli Paduka Hayam Wuruk. Dengan permenungan yang dalam, tergoreslah dari pena sang empu Daeng Acarya Nadendra yang kelak dikenal dengan nama Empu Prapanca.

Dalam ketafakurannya sang empu membayangkan sebuah tatanan desa desa yang membentuk sebuah kadipaten dan kerajaan yang tertata, harmoni dan hormat kepada raja. Tersusunlah bait bait tata krama dalam sebuah catatan dengan nama Dewacawarnana yang berisi uraian tentang desa desa. Nama itu kelak kemudian lebih dikenal dengan nama Negarakertagama.

Negarakertagama yang berarti negara yang tertata berdasarkan aturan aturan agama, menunjukkan betapa beradabnya Raja Hayam Wuruk dan cita cita Majapahit dalam menginspirasi Nuswantara. Kitab ini menceritakan bagaimana keadaan di keraton Majapahit pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk, seorang raja yang agung di tanah jawa dan juga di Nusantara, yang mulai bertahta dari tahun 1350 hingga 1389 Masehi, pada puncak kejayaan kerajaan Majapahit.

Kitab ini berisi syair yang bersifat pujasastra, artinya karya sastra yang berisi mengagung-agungkan Raja Majapahit Hayam Wuruk, serta kewibawaan dari kerajaan Majapahit. Karena bersifat pujasastra, tentu hanya hal-hal yang baik saja yang dituliskan, hal-hal yang kurang membantu bagi kewibawaan Majapahit, tidak bisa ditemui dalam kitab ini. Adab yang berlaku adalah bagaimana menghormati dan menutup aib sang raja dan berupaya mentaati sang raja sebagai pemimpin yang diserahi Tuhan. Tradisi mikul dhuwur dan mendem jeru sudah dipegang dan dijadikan laku menghormati sesama apalagi kepada junjungan dan orang tua serta kerabat.

Jauh hari sebelum tradisi mikul duwur dan mendem jeru berkembang di bumi Majapahit, syahdan nun jauh di dataran gurun pasir Jazirah Arab, seorang bayi kecil yang kelak bergelar ” Al Amin ” lahir pada tanggal 20 April 571 M. Atau lebih dikenal dengan tanggal 12 Rabi’ul Awwal Tahun Gajah. Muhammad lahir ketika tentara gajah yang dipimpin oleh Abrahah dengan ponga ingin menghancurkan rumah Allah yang bernama Ka’bah. Dengan ijin Allah maka hancurlah pasukan yang dikenal kuat dengan batu sijjil yang dibawah oleh burung Abbabil. Apa yang dibawah oleh Nabi Muhammad pada saat masa masa penyebaran ajaran ketuhanan yang dibawahnya? Nabi mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang hidup dengan budi luhur, mentaati agama, saling menghormati serta menutup aib siapapun. Tradisi hidup bermoral dan saling menjaga nampaknya berkembang pesat sehingga menjiwai tradisi tradisi kehidupan dan berkembangnya agama agama. Hidup berdampingan, saling menghormati menjadi bagian yang diajarkan dalam kitab kitab suci agama. Dan inilah yang bisa jadi menjadi fajar sesemburat yang menjiwai Si Empu Prapanca melakukan laku penghormatan dan pengabdian totalitas kepada Sang Raja.

Jiwa dan laku beradab sejatinya adalah tradisi bangsa Indonesia yang tersurat didalam Lima Sila yang kita kenal dengan Pancasila. Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan serta dengan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Rangkaian sila pertama diharapkan menjadi penuntas segala laku cara kita bersosial dan bernegara. Namun cara bernegara kita ini seolah kemudian menjadi terpisah pisah, antar sila sati dengan sila yang lainnya seolah terpisah, padahal sejatinya adalah saling menjiwai. Tak mungkin seseorang yang hubungannya dengan belum selesai bisa menghargai manusia dengan keadabannya, apalagi bisa melahirkan pemimpin yang baik yang mempunyai laku adil. Sunan Kalijogo mengibaratkan cara bernegara dan beragama kita seperti ” orong – orong “, antara kepala dan badan terpisah, tak ada kesatuan gerak pikir dan laku, sehingga perlulah dibuatkan penghubung diantaranya berupa kayu. Kayu melambangkan ” sodo ” alif yang menunjukkan kesatuan dan kesejatian yang tunggal dengan Tuhan Yang Maha Pencipta dan Maha Welas Asih.

Sejatinya bangsa Indonesia ini adalah bangsa yang santun, bangsa yang jujur dan bangsa yang adil, namun sayangnya ditengah perjalanannya menjadi bangsa yang agung dan besar itu tak semua mampu menjiwai negara kertagama, yang menjadikan sandaran agama menjiwai caranya bernegara. Indonesia berduka.

Masihkah ada harapan Indonesia yang beradab? Ditengah kemelut kebangsaan yang kita hadapi dan keserakahan para penjarah kekayaan negara yang berselingkuh antara kekuasaan dan pemilik modal…… Sayup sayup kita masih pernah mendengarkan teriakan takbir Bung Tomo menggelorakan semangat arek arek Suroboyo melawan tentara Inggris yang membonceng sekutu.

Bismillahirrohmanirrohim..
MERDEKA!!!

Saudara-saudara rakyat jelata di seluruh Indonesia
terutama saudara-saudara penduduk kota Surabaya
kita semuanya telah mengetahui bahwa hari ini
tentara inggris telah menyebarkan pamflet-pamflet
yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua
kita diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka tentukan
menyerahkan senjata-senjata yang telah kita rebut dari tangannya tentara jepang
mereka telah minta supaya kita datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan
mereka telah minta supaya kita semua datang pada mereka itu dengan membawa bendera puitih tanda bahwa kita menyerah kepada mereka

Saudara-saudara
di dalam pertempuran-pertempuran yang lampau kita sekalian telah menunjukkan
bahwa rakyat Indonesia di Surabaya
pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku
pemuda-pemuda yang berawal dari Sulawesi
pemuda-pemuda yang berasal dari Pulau Bali
pemuda-pemuda yang berasal dari Kalimantan
pemuda-pemuda dari seluruh Sumatera
pemuda Aceh, pemuda Tapanuli, dan seluruh pemuda Indonesia yang ada di surabaya ini
di dalam pasukan-pasukan mereka masing-masing
dengan pasukan-pasukan rakyat yang dibentuk di kampung-kampung
telah menunjukkan satu pertahanan yang tidak bisa dijebol
telah menunjukkan satu kekuatan sehingga mereka itu terjepit di mana-mana

hanya karena taktik yang licik daripada mereka itu saudara-saudara
dengan mendatangkan presiden dan pemimpin2 lainnya ke Surabaya ini
maka kita ini tunduk utuk memberhentikan pentempuran
tetapi pada masa itu mereka telah memperkuat diri
dan setelah kuat sekarang inilah keadaannya

Saudara-saudara kita semuanya
kita bangsa indonesia yang ada di Surabaya ini
akan menerima tantangan tentara inggris itu
dan kalau pimpinan tentara inggris yang ada di Surabaya
ingin mendengarkan jawaban rakyat Indoneisa
ingin mendengarkan jawaban seluruh pemuda Indoneisa yang ada di Surabaya ini
dengarkanlah ini tentara inggris
ini jawaban kita
ini jawaban rakyat Surabaya
ini jawaban pemuda Indoneisa kepada kau sekalian

hai tentara inggris
kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk kepadamu
kau menyuruh kita mengangkat tangan datang kepadamu
kau menyuruh kita membawa senjata2 yang telah kita rampas dari tentara jepang untuk diserahkan kepadamu
tuntutan itu walaupun kita tahu bahwa kau sekali lagi akan mengancam kita
untuk menggempur kita dengan kekuatan yang ada
tetapi inilah jawaban kita:
selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah
yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih
maka selama itu tidak akan kita akan mau menyerah kepada siapapun juga

Saudara-saudara rakyat Surabaya, siaplah! keadaan genting!
tetapi saya peringatkan sekali lagi
jangan mulai menembak
baru kalau kita ditembak
maka kita akan ganti menyerang mereka itukita tunjukkan bahwa kita ini adalah benar-benar orang yang ingin merdeka

Dan untuk kita saudara-saudara
lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka
semboyan kita tetap: merdeka atau mati!

Dan kita yakin saudara-saudara
pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita
sebab Allah selalu berada di pihak yang benar
percayalah saudara-saudara
Tuhan akan melindungi kita sekalian

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
MERDEKA!!!

Nah kawan… Harapan itu masih ada, harapan mengembalikan Indonesia menjadi bangsa yang besar dan beradab… Surabaya adalah kota dimana Bung Tomo menggelorakan semangat melawan penjajah dan menjadikan Indonesia menjadi negara bermartabat. Siapapun anda, tak peduli anda berasal dari mana, selama anda menjadi orang surabaya dan berada di Surabaya, anda adalah pejuang dan bertanggung jawab menjadikan Surabaya sebagai permulaan awal membangun bangsa yang semakin kehilangan adabnya. Mari kita mulai dari sesuatu yang mudah dan kita bisa, saling menghargai dan saling mengapresiasi tanpa harus merasa paling benar dan paling kuasa.

(M. Isa Ansori)

BAGAIMANA REAKSI DAN KOMENTAR ANDA?.
Share your vote!
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
Share this
Continue Reading

Artikel

SISTEM EKONOMI KAPITALIS HANYA MEMBAWAH PETAKA

Published

on

Surabaya,lingkaran.net – Sistem Ekonomi KAPITALIS ternyata tidak selamanya mampu menopang kekutan Negara mana pun termasuk barat yang mengkoar-koarkan bahwa kapitalis penopang kejayan negara ternyata itu hanaya sebuah ilusi negara barat untuk mendukung VISI dan MISI mereka,untuk menguras kekayaan negara Lain.

Sistem Ekonomi KAPITALIS Telah menimbulakn ketidak adilan ekonomi yang sangat dalam , khususnya karena sistem moneter yang hanya menguntungkan pemilik modal dalam hal ini Investor-Investor atau swasta yang pemilik modal termasuk barat melalu hegemoni mata uang kertas dan sistem riba.

Sistem Ekonomi KAPITALIS Tidak mampu mengentaskan masalah kemiskinan dan ketimpangan pendapatan Hanya berending dengan hayalan tinggi di kalangan Masyarakat.

Sistem Ekonomi KAPITALIS, Paradigmanya tidak mengacu kepada kepentingan masyarakat secara menyeluruh, sehingga ada dikotomi antara individu, masyarakat dan Negara.Tidak mampu menyelaraskan hubungana antara negara-negara di dunia, terutama antara negara-negara maju dan negara berkembang.

Sistem Ekonomi KAPITALIS Terlalaikannya pelestarian sumber daya alam,negara yang memiliki Sumber Daya Alama yang begitu pesat besar dan luasnya,akan berakir dengan sebuah cerita dan tak ada konstribusinya untuk masyarakat karena dikuasai oleh SWASTA Atau pemilik MODAL.

BAGAIMANA REAKSI DAN KOMENTAR ANDA?.
Share your vote!
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
Share this
Continue Reading

Trending