Connect with us

SOSIAL BUDAYA

“Jembatan Penyeberangan Orang (Jpo), Riwayatmu Kini …?”

Published

on

Surabaya, lingkaran.net –  Memiliki banyak jalan raya, yang selain padat arus lalu-lintasnya, juga tergolong relatif rawan kecelakaan bagi para penyeberang jalan. Maklum, tidak sedikit pengguna jalan raya yang memacu kendaraannya dengan cukup kencang untuk ukuran di dalam kota.

Alhasil, bagi pejalan kaki yang hendak menyeberang jalan, kini tidak perlu risau. Salah satu solusi jitunya adalah dengan banyak dibangunnya Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang melintas di atas jalan raya. Kini, dengan memanfaatkan JPO tersebut, maka pejalan kaki yang hendak melintasi jalan raya, akan terjamin keselamatannya dari “sambaran” kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi alias “ngebut”. Pejalan kaki yang menggunakan JPO, juga akan “dimanja” sejenak dengan berbagai fasilitas, yaitu: JPO yang dilengkapi dengan atap, dan kamera CCTV (Close Circuit Television).

 

Memang, dari segi “keamanan”, bagi pejalan kaki yang ingin menyeberang jalan raya, JPO adalah salah satu alternatif yang “pas”. Sedangkan yang masih belum “pasti” adalah dari segi “kenyamanan”. Lho, kok bisa begitu, apa alasannya? Nah, fakta dan realita yang akan berkata. Mungkin “merawat” itu akan tidak kalah sulit dan rumitnya dengan “membangun” JPO itu sendiri.

 

JPO tak terawat

Ada beberapa JPO yang keadaan dan keberadaannya tampak kurang terawat alias kurang mendapatkan perhatian dari pihak atau institusi yang terkait. Ada JPO yang lantai maupun atapnya rusak (berlubang atau jebol), kurangnya lampu penerangan sehingga suasananya tampak “temaram” alias “remang-remang”, bau “pesing” yang sangat menusuk hidung, banyak sampah yang berserakan, adanya para “gepeng” (gelandangan dan pengemis), dan pedagang asongan yang nongkrong sambil menjajakan dagangannya. Kemudian di saat malam sudah larut dan keadaan sudah mulai sepi dan sunyi, kebanyakan pejalan kaki “keberatan” untuk menyeberang jalan via JPO dengan alasan tidak adanya jaminan “keamanan” atas tindakan kriminal dari ulah para penjahat yang sengaja memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan dalam menjerat mangsanya yang lagi lengah.

 

Nah, fenomena yang tersebut di atas hendaknya benar-benar dikaji ulang dan harus mendapatkan ekstra perhatian dari pihak maupun instansi yang terkait demi mencegah hal-hal yang tidak kita inginkan bersama dan sekaligus agar keadaan dan keberadaan JPO tersebut bisa berfungsi secara maksimal dan tepat guna sebagaimana mestinya alias tidak “mubazir” sehingga akan benar-benar bermanfaat bagi semua pihak yang menggunakan JPO.

( Prof. Dr. SUGENG TJAHJONO, ST, SH, MM, PhD – Pemerhati Lingkungan ).

BAGAIMANA REAKSI DAN KOMENTAR ANDA?.
Share your vote!
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
Share this
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

SOSIAL BUDAYA

Rumah Ambruk Reni DPRD PKS datangi Korban: Tahun 2018 Pemkot Perbaiki 1.038 Rumah Tidak Layak Huni

Published

on

lingkaran.net SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya pada Tahun 2018 ini menetapkan kuota perbaikan rumah tidak layak huni (RTLH) sebanyak 1.038 unit dan perbaikan 1.000 jamban. Total anggarannya Rp.30.671.917.914. Kuota tersebut bisa diakses melalui usulan kelurahan yang bersumber dari usulan pengurus RT/RW. Juga melalui temuan anggota DPRD saat reses atau laporan masyarakat.

Ini disampaikan anggota Komisi D DPRD Surabaya,Reni Astuti, S.Si saat mendatangi rumah Roboh yang dihuni Mbah Supenah, 58, janda 4 anak dan 1 cucu, di Dukuh Kupang Timur X-A/17, wilayah RT 2/RW VIII, Kelurahan Pakis, Kecamatan Sawahan,Enam Hati yang lalu,Senin (12/2/2018).

Kondisi rumah sudah lapuk tidak pernah diperbaiki karena keterbatasan dana, lalu roboh saat terkena hujan dan angin.Turut hadir di lokasi Kasi Trantib dan Pembangunan Kelurahan Pakis, Hajar Sulistiyono; Kasi Linmas Kelurahan Pakis, Yuli Purwianto; Staf Kasi Pembangunan Kelurahan Pakis, Musholli; Ketua RW VIII, Sulthon; serta Yayan dan Effendy warga yang melaporkan.

“Tahun ini kuota perbaikan rumah tidak layak huni mencapai 1.038 dan 1.000 untuk perbaikan jamban. Warga yang rumahnya akan diperbaiki harus sabar menunggu karena bergilir. Yang didahulukan yang mendesak,”  Reni.

Kepada Supenah, Reni menjelaskan bahwa dirinya sudah melaporkan ke Dinas Sosial (Dinsos) yang menjalankan program RTLH, Reni akan mengawal proses perbaikan rumah karena kondisi darurat dan status tanah memenuhi kriteria program. Sebelumnya, rumah Supenah tidak masuk usulan karena tidak terpantau.

“Syarat bedah rumah itu tanahnya tidak dalam sengketa. Kalau rumah Mbah Supenah ini lebarnya sekitar 4 meter dan panjangnya sekitar 15-an meter. Perbaikan menyesuaikan anggaran yang tersedia. Yang penting setelah diperbaiki bisa ditempati Mbah Supenah dan 4 anaknya berikut 1 cucu,” Reni memberi pengertian ke Mbah Supenah.

Usai melihat langsung kondisi rumah yang ambruk, Reni menyempatkan melihat kamar kos yang menjadi tempat tinggal sementara Supenah. Lokasinya ada di sisi Barat, bersebelahan persis dengan rumah yang ambruk.

Biaya kos Rp450.000/bulan. Satu kamar di lantai dua ditempati anak dan cucunya. “Terkadang salah satu anak saya tidur di bawah (teras kos). Yang penting bisa buat taruh pakaian dan tidurnya anak serta cucu,” tutur Supenah kepada Reni.

Reni memberikan bantuan
uang kos selama sebulan. Ini untuk meringankan beban Supenah yang kesehariannya membuka warung kopi di teras rumahnya yang ambruk. Hasil warung cukup untuk makan sehari-hari.Sementara itu, Supenah menuturkan rumahnya ambruk pada Jumat (9/2/2018) pagi. “Rumah ini buatan tahun 1975. Saya tidak bisa bangun karena tidak ada biaya. Saya janda dengan 4 anak. Anak saya menganggur dan kalau kerja seadanya,” sebut Supenah.

Keinginannya rumah segera diperbaiki dan ditempati sehingga tidak perlu lagi kos. “Pihak RW baru tahu pagi (Senin, 12/2/2018). Langsung dilaporkan ke LPMK, kelurahan. Juga dilaporkan ke Mas Yayan yang merupakan jamaah pengajian saya. Oleh Mas Yayan disampaikan ke Bu Reni dari DPRD,” tutur Shulton, ketua RW VIII, Kelurahan Pakis.

Musholli selaku Kasi Pembangunan Kelurahan Pakis menambahkan, pihaknya sudah mendata dan mengambil foto kondisi rumah yang ambruk. Selanjutnya akan dikoordinasikan dengan Dinas Sosial.

Sumber:web Anggota DPRD komisi D Reni Astuti

BAGAIMANA REAKSI DAN KOMENTAR ANDA?.
Share your vote!
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
Share this
Continue Reading

SOSIAL BUDAYA

Cagub Jatim Melihat Liga Dang Dut Indonesia

Published

on

Jakarta, lingkaran.net – Calon Gubernur Jawa Timur Syaifullah Yusuf dan Calon Wakil Gubernur Jatim Emil Dardak menghadiri acara Liga Dangdut Indonesia di Studio 5 Indosiar jakarta.

Malam ini kompetisi menghadirkan 5 perwakilan dari Jawa Timur untuk dipilih 1 orang yang lolos ke babak Final.

Gus Ipul duduk dikursi depan, sedangkan Emil Dardak didampingi istrinya Arumi Bachsin.

Gus Ipul panggilan akrabnya memakai baju khas Madura, sedangkan Emil memakai baju batik warna putih bermotif hitam.

Walaupun dipanggung politik Jawa Timur mereka sedang bersaing ketat, tapi diacara tersebut mereka berdua duduk berdampingan tampak gayeng dan menebar senyum penuh keakraban.

Ramzi host Indosiar menggoda kedua tokoh tersebut, yaitu dengan meminta oleh oleh dari keduanya, dan dikasih oleh oleh khas Jawa Timur. (red)

BAGAIMANA REAKSI DAN KOMENTAR ANDA?.
Share your vote!
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
Share this
Continue Reading

Trending