Connect with us

Coretan Redaksi

Ketika Posisi Kita Berjarak

Published

on

Surabaya, lingkaran.net – Membangun Indonesia itu tidak bisa hanya Jawa saja, Kalimantan saja, atau luar Palau saja. Indonesia pernah memanjakan Timor timur dan melupakan yang lainnya. Apa yang terjadi? Papua bergolak teriak merdeka, begitu juga Aceh saat itu. Kini semua berada dipangkuan Indonesia, Kecuali Timor Timur.

 

Indonesia itu berada diantara Sabang sampai Merauke. Rakyat adil dan makmur yaitu rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Keadilan dan kemakmuran akan terwujud kalau diikat oleh nasionalisme. Gotong royong sebagai sebangsa dan setanah air.

 

Pada 17 Agustus 1962 presiden Soekarno pada pidato kepresidenan menyerukan tentang membangun karakter atau Character Building. Bung karno menjelaskan pembangunan karakter pada masyarakat Indonesia akan pentignya rasa nasionalisme. Pancasila sudah menjadi dasar negara indonesia sudah sepatutya kita menjalani nilai-nilai yang terkandung pada Pancasila. Tidak boleh ada keganjilan, semua harus merata. Semua harus mendapatkan keadilannya. Keadilan tidak melihat jabatan tidak melihat uang tidak melihat saudara ataupun keluarga. Keadilan hanya melihat kebenaran.

 

Kekayaan dan kemakmuran berbeda, kemakmuran bersifat kolektif sedangkan kekayaan bersifat individulistik. Kemakmuran merupakan prospek dari keadilan. Kemakmuran pada masyarakat Indonesia pada saat ini sangatlah tidak ada karena keadilan di Indonesia masih belum bisa ditegakkan. Masih banyaknya kasus – kasus yang diselesaikan dengan tidak adil atau tidak menguntungkan. Aparat bersenggama dengan pemilik kuasa dan harta. Hukum tak lagi bisa merangkum kosa kata kebenaran dan keadilan.

Hari ini kudengar sesenggukan Soekarno… Menangis lirih sambil bersenandung :

Ku lihat ibu pertiwi
Sedang bersuasah hati
Airmatanya berlinang, Mas intan yang terkenang
Hutan, gunung, sawah, lautan…
Simpanan kekayaan ..
Kini ibu sedang lara
Merintih dan berdoa…

Kuberanikan bertanya : Ada apakah gerangan bapak ? Kenapa kelihatan bersedih? Dengan sedikit tersenyum beliau bergumam getir (berbicara dng suara tertahan di dl mulut)…. Bumi yang aku perjuangkan bersama para pejuang ini ternyata tak mampu memberi kemakmuran dan kebahagiaan… Lihatlah Papua yang kaya raya, tapi tak bisa menikmati, Asmat kurang gizi. Kemerdekaan yang aku perjuangkan bersama pendiri bangsa ini tak mampu mengantarkan kalian kepada kesejahteraan dan keadilan serta kemakmuran.

Betapa kalian lihat, kemerdekaan yang sejatinya memberi ketenangan, tapi teror dan pembunuhan terjadi dimana mana, ulama dan guru ngaji serta kyai dibantai, pendeta disengsara. Papua membara, rakyat hidup melarat, banyak anak tak sekolah, murid tak lagi menghormati gurunya, pelajar saling kejar dan hajar, korupsi merajalela, kebutuhan pokok serasa menohok, rakyat tak punya harapan, mereka saling cerca dan fitnah, rumah ibadah mereka jarah, tanah tanah Indonesia kalian jual ke para investor pembual. Lihatlah Jakarta, para pribumi tak lagi bisa bermimpi, Meikarta menggurita, ditopang penguasa serakah. Bukanlah seperti ini Indonesia yang merdeka itu. Kemerdekaan bukanlah sikap hidup bar bar dan tak berbudaya..

 

Kalian ini sejatinya bersaudara, kalian terikat oleh darah merah dan semangat putih, semangat merah putih. Tak ada jarak diantara kalian, kalian satu, satu tubuh, satu Indonesia. Kalian berjarak karena keadilan hanya kata kata, kemakmuran hanya slogan. Jarak dibuat karena mereka ingin menjarah, kalian lebih suka dengan kata aku dan kamu.

Kalau kalian Indonesia, semestinya tak adalagi posisi aku dan kamu, yang ada adalah kita. Indonesia adalah kita. Rasakanlah kalian adalah tubuh, seperti satu tubuh, ketika bagian yang satu sakit, maka yang lainnya juga akan terasa sakit. Kalian berjarak karena kalian tak lagi merasakan aliran merah putih. Jiwa dan raga kalian tak lagi merasakan nikmatnya ber Indonesia.

 

Sambil menatap tajam kedepan dan menengadah ke langit, Sang Proklamator bergumam lalu mengajak menyanyikan satu bait lagu :

Satu nusa
Satu bangsa
Satu bahasa kita

Tanah air
Pasti jaya
Untuk Selama-lamanya

Indonesia pusaka
Indonesia tercinta
Nusa bangsa
Dan Bahasa
Kita bela bersama

Diakhir perjumpaan itu Sang Proklamator mengatakan : Kalau kalian ingin tidak berjarak, kalian lihat bagaimana itu Nabi dan sahabatnya, Nabi menjalankan prinsip keadilan yang terwarnai dengan nilai nilai Ketuhanan… Kalian punya itu…. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa… Kemudian beliau menutup dengan menyitir satu bait ayat :

Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. al-Hujurat [49]: 13)

 

Lalu beliau lanjutkan dengan menggambarkan kehidupan mukmin di zaman Rasulullah SAW : ” Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]. (M. Isa Ansori)

 

 

BAGAIMANA REAKSI DAN KOMENTAR ANDA?.
Share your vote!
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
Share this
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Artikel

Miris Belum Menikah Di Usia “Kritis”?

Published

on

Surabaya, lingkaran.net – Berbicara menikah, ibarat mengerjakan sebuah teka-teki silang (TTS), yaitu gampang-gampang susah atau susah-susah gampang. Bahkan sebagian besar orang mengatakan, bahwa jodoh, ajal, dan rejeki adalah “suratan Illahi”. Hal itu dikarenakan, bahwa masalah menikah memang merupakan “privacy” seseorang. Fakta dan realita telah membuktikan, ternyata banyak orang yang usianya telah memasuki “masa kritis”, namun masih belum juga memiliki “calon istri” sbg idaman dan tambatan hati. Padahal tidak sedikit di antara mereka juga berparas ayu dan ganteng, status ekonominya jg mapan dengan pangkat, jabatan, maupun kedudukan yang strategis di sebuah instansi, bahkan tidak sedikit pula yang tergolong kaya-raya pula. Nah, dari fenomena tersebut kemudian timbul pertanyaan, “Kapankah usia ideal untuk menikah ?”

Kiranya sudah banyak sekali berbagai macam teori yang dikemukakan oleh para ahli yang berkompeten di bidangnya beserta dengan sederet riset yang telah sukses dilakukannya. Namun dalam tulisan kali ini, memang sengaja untuk tidak disajikan teori-teori yang terkait tentang batasan umum dalam mengambil keputusan untuk menikah. Mengapa? Karena teori-teori tersebut tidak bisa dengan serta-merta ditetapkan sebagai “harga mati” yang mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat.

Batasan umur dalam mengambil keputusan untuk menikah maupun usia ideal untuk menikah, tentunya didasarkan pada pertimbangan aspek medis dan kematangan psikis, karena masih banyak hal untuk dipertimbangkan secara seksama terkait tentang rencaba pernikahan yang akan sangat “subjektif” dan tergantung oleh keadaan setiap orang, terkait dengan pengalaman, pengetahuan, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, sosial-ekonomi, budaya, dan sebagainya.

Satu hal yang kiranya penting untuk digaris-bawahi, bahwa menikah itu memang pada hakikatnya memiliki banyal sekali manfaatnya, di antaranya yaitu: membuat hidup dan kehidupan ini lebih tenang dan berkualitas, memperoleh keturunan sebagai generasi penerus, dan sebagai sebuah wujud “ibadah”, karena menikah itu bagian dari ibadah. Janganlah mengambil keputusan untuk mengakhiri “masa lajang” dengan gegabah atau terburu-buru akibat adanya tekanan dari pihak keluarga dan lingkungan sekitar maupun gara-gara umur yang semakin “kritis” dan sebagainya demi mengejar status formalitas maupun strata belaka, karena hal tersebut nantinya justru akan memicu timbulnya berbagai macam efek negatif dalam pernikahan itu sendiri, seperti adanya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perselingkuhan, perzinahan, pelecehan maupun penyimpangan seksual, perceraian, serta hal-hal negatif lainnya yang tidak diinginkan.

( Prof. Dr. SUGENG TJAHJONO, ST, SH, MM, PhD – Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Dan Manajemen Kepelabuhanan (STIAMAK) Barunawati Surabaya ).

BAGAIMANA REAKSI DAN KOMENTAR ANDA?.
Share your vote!
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
Share this
Continue Reading

Artikel

Kitakah Predator Sosial itu?

Published

on

Surabaya, lingkaran.net – Predator merujuk pada sikap hewan yang memburu, menangkap dan memakan hewan lain. Hewan lain yang dimakan disebut mangsa. Predator dalam pemaknaan predator sosial adalah siapapun yang hidup dalam lingkungan kemasyarakatan tapi sikap dan perilakunya selalu berupaya mengambil kepuasan atas dirinya sendiri.

Dalam perspektif psikologi, perilaku ini dikategorikan sebagai perilaku anti sosial ( antisocial personality disorder ). Mereka yang terkategori seperti ini adalah orang orang yang dramatik. Selalu berlebihan dalam bersikap dan jarang sekali bisa mematuhi norma norma sosial yang berlaku. Cenderung melebih lebihkan sesuatu yang sebetulnya sederhana. Individu dengan riwayat seperti ini cenderung untuk melanggar hak hak orang lain meski sudah disepakati. Robert Harte menggambarkan sebagai seseorang yang menawan, memanipulasi, dan menerjang apa saja secara kejam. Sama sekali tidak memiliki hat empati. Semena mena melakukan apa saja yang dia inginkan, melanggar norma dan ekspektansi sosial tanpa sedikitpun merasa bersalah atau menyesal.

Mereka yang dengan berperilaku seperti ini biasanya secara persisten akan melanggar hak orang lain dan hukum. Mengabaikan norma dan konvensi sosial, impulsive, serta gagal membina komitmen interpersonal. Individu seperti ini biasanya akan terus menerus menerus melakukan tingkah laku kriminal atau anti sosial., namun bukan tindakan kriminalitas. Gangguan perilaku seperti ini lebih disebabkan oleh ketidak mampuan seseorang untuk mengikuti norma norma sosial yang ada selama mereka menjalani masa perkembangannya diusia remaja maupun dewasa.

Kawan…. Siapakah mereka predator sosial itu? Bukankah sikap itu sangat melekat dengan kita dan sekitar kehidupan kita. Bukankah keangkuhan yang kita pelihara yang tidak mau mendengarkan pendapat orang lain dan memaksakan apa yang kita anggap sebagai sebuah kebenaran adalah bagian dari sikap anti sosial? Menyepakati norma kebenaran yang berlaku dan berupaya menjaganya adalah sikap bijak untuk mencegah diri perilaku antisosial.

Al Qur’an menyebut mereka sebagai orang orang yang munafik :
” Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (QS. Al-Baqarah: 11-12)

” Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Al-Syuura: 30)

Predator sosial merupakan cerminan sikap kita yang tak selalu menyadari bahwa apa yang kita ucapkan, apa yang kita lakukan bisa menghambat perencanaan dan capaian menuju masa depan yang lebih baik. Predator sosial cenderung susah melakukan perencanaan.

Assallammualaikum wr wb… Selamat pagi, selamat beraktifitas, semoga kita dihindarkan dari sikap yang bisa merugikan masa depan yang lebih baik… Jadikan diri menjadi selalu bermanfaat bagi sesama… Aamiien

Surabaya, 11 Pebruari 2018

Oleh : M. Isa Ansori

Pengajar di STT Malang , Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak ( LPA) Jatim, Anggota Dewan Pendidikan Jatim

BAGAIMANA REAKSI DAN KOMENTAR ANDA?.
Share your vote!
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
Share this
Continue Reading

ARTIKEL REDAKSI

Taman Legendaris Yang Tragis

Published

on

Surabaya. lingkaran.net – Surabaya tempo kini, kian cantik-menawan, indah nan rindang dengan banyaknya pepohonan menghijau yang menghiasi jalan sebagai “paru-paru” kota. Bahkan semakin asri dengan tertatanya taman-taman yang tersebar di seluruh kota.

Tapi ironisnya, di antara deretan taman-taman kota tersebut, ada sebuah taman dan sekaligus satu-satunya “Taman Legendaris” di Surabaya ini yang nyaris kurang dipedulikan dan diperhatikan keadaan dan keberadaannya. Taman apakah itu? Ya… Tidak lain dan tidak bukan, taman tersebut adalah “Taman Hiburan Rakyat (THR)” yang berada di Jalan Kusuma Bangsa, Surabaya.

Dulu, THR adalah merupakan ikon seni-budaya yang berada di Surabaya. Sekaligus lengkap beserta hasil kerajinan tangan dan menu khas dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Di THR, dulu warga Surabaya bahkan masyarakat Jawa Timur yang hendak menyaksikan dan menikmati kesenian khas tradisional, bisa dengan mudah dan murah serta meriah. Di sana ada “Ludruk” yang merupakan kesenian tradisional yang khas Surabaya. Juga ada Srimulat, Kethoprak, Wayang Orang, bahkan juga tidak jarang ditampilkab pagelaran Wayang Kulit. THR sudah berkontribusi “melahirkan” banyak seniman lokal yang pada akhirnya sukses menjadi artis profesional “papan atas” di Ibukota.

Prof. Dr. SUGENG TJAHJONO, ST, SH, MM, PhD

Tapi kini, semua kesenian tradisional dan sekaligus para senimannya, nasibnya sungguh merana. Gedung keseniannya pun juga sudah kurang terawat. Kursi-kursi penonton juga sudah tidak lagi layak pakai di era milenium ini. Kemudian akses jalan yang ada di sekitar kawasan tersebut juga cukup gelap akibat minimnya lampu penerangan sehingga terkesan agak sedikit “menyeramkan”. Kios-kios cindera mata maupun anjungan kuliner khas tradisional dari sejumlah kota dan/ atau kabupaten di Jawa Timur, kini sudah berubah fungsi menjadi “Pemukiman Permanen”, sehingga menambah kesan semakin kumuh, kotor, dan jorok. Bahkan pertunjukan kesenian tradisional yang digelar di sana pun, juga sepi dari penonton alias nyaris tidak ada penonton. Padahal harga tiket masuk (HTM) untuk menonton kesenian tradisional itu pun juga tergolong relatif murah dan terjangkau. THR sesungguhnya adalah merupakan salah satu aset seni-budaya dan sekaligus cagar budaya yang wajib dilestarikan sebagai warisan anak-cucu kita sehingga bisa mengapresiasi kesenian khas tradisional yang memang perlu dilestarikan.

Mungkinkah THR kelak akan bisa kembali berjaya seperti sedia kala? Marilah kita tunggu bersama respon positif dan kebijakan-kebijakan pemerintah beserta segenap instansi yang terkait, tentunya. Semoga terwujud. Aamiin.

( Prof. Dr. SUGENG TJAHJONO, ST, SH, MM, PhD – Pemerhati Seni-Budaya-Pariwisata)

BAGAIMANA REAKSI DAN KOMENTAR ANDA?.
Share your vote!
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
Share this
Continue Reading

Trending