Connect with us

Artikel

Miris Belum Menikah Di Usia “Kritis”?

Published

on

Surabaya, lingkaran.net – Berbicara menikah, ibarat mengerjakan sebuah teka-teki silang (TTS), yaitu gampang-gampang susah atau susah-susah gampang. Bahkan sebagian besar orang mengatakan, bahwa jodoh, ajal, dan rejeki adalah “suratan Illahi”. Hal itu dikarenakan, bahwa masalah menikah memang merupakan “privacy” seseorang. Fakta dan realita telah membuktikan, ternyata banyak orang yang usianya telah memasuki “masa kritis”, namun masih belum juga memiliki “calon istri” sbg idaman dan tambatan hati. Padahal tidak sedikit di antara mereka juga berparas ayu dan ganteng, status ekonominya jg mapan dengan pangkat, jabatan, maupun kedudukan yang strategis di sebuah instansi, bahkan tidak sedikit pula yang tergolong kaya-raya pula. Nah, dari fenomena tersebut kemudian timbul pertanyaan, “Kapankah usia ideal untuk menikah ?”

Kiranya sudah banyak sekali berbagai macam teori yang dikemukakan oleh para ahli yang berkompeten di bidangnya beserta dengan sederet riset yang telah sukses dilakukannya. Namun dalam tulisan kali ini, memang sengaja untuk tidak disajikan teori-teori yang terkait tentang batasan umum dalam mengambil keputusan untuk menikah. Mengapa? Karena teori-teori tersebut tidak bisa dengan serta-merta ditetapkan sebagai “harga mati” yang mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat.

Batasan umur dalam mengambil keputusan untuk menikah maupun usia ideal untuk menikah, tentunya didasarkan pada pertimbangan aspek medis dan kematangan psikis, karena masih banyak hal untuk dipertimbangkan secara seksama terkait tentang rencaba pernikahan yang akan sangat “subjektif” dan tergantung oleh keadaan setiap orang, terkait dengan pengalaman, pengetahuan, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, sosial-ekonomi, budaya, dan sebagainya.

Satu hal yang kiranya penting untuk digaris-bawahi, bahwa menikah itu memang pada hakikatnya memiliki banyal sekali manfaatnya, di antaranya yaitu: membuat hidup dan kehidupan ini lebih tenang dan berkualitas, memperoleh keturunan sebagai generasi penerus, dan sebagai sebuah wujud “ibadah”, karena menikah itu bagian dari ibadah. Janganlah mengambil keputusan untuk mengakhiri “masa lajang” dengan gegabah atau terburu-buru akibat adanya tekanan dari pihak keluarga dan lingkungan sekitar maupun gara-gara umur yang semakin “kritis” dan sebagainya demi mengejar status formalitas maupun strata belaka, karena hal tersebut nantinya justru akan memicu timbulnya berbagai macam efek negatif dalam pernikahan itu sendiri, seperti adanya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perselingkuhan, perzinahan, pelecehan maupun penyimpangan seksual, perceraian, serta hal-hal negatif lainnya yang tidak diinginkan.

( Prof. Dr. SUGENG TJAHJONO, ST, SH, MM, PhD – Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Dan Manajemen Kepelabuhanan (STIAMAK) Barunawati Surabaya ).

Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply


PENGADUAN ONLINE


: aduan@lingkaran.net

: 0821 3963 6484

RUANG IKLAN ANDA

Arsip

Kategori