Connect with us
[metaslider id="4417"]

Artikel

Miris Belum Menikah Di Usia “Kritis”?

lingkaran.net

Published

on

Surabaya, lingkaran.net – Berbicara menikah, ibarat mengerjakan sebuah teka-teki silang (TTS), yaitu gampang-gampang susah atau susah-susah gampang. Bahkan sebagian besar orang mengatakan, bahwa jodoh, ajal, dan rejeki adalah “suratan Illahi”. Hal itu dikarenakan, bahwa masalah menikah memang merupakan “privacy” seseorang. Fakta dan realita telah membuktikan, ternyata banyak orang yang usianya telah memasuki “masa kritis”, namun masih belum juga memiliki “calon istri” sbg idaman dan tambatan hati. Padahal tidak sedikit di antara mereka juga berparas ayu dan ganteng, status ekonominya jg mapan dengan pangkat, jabatan, maupun kedudukan yang strategis di sebuah instansi, bahkan tidak sedikit pula yang tergolong kaya-raya pula. Nah, dari fenomena tersebut kemudian timbul pertanyaan, “Kapankah usia ideal untuk menikah ?”

Kiranya sudah banyak sekali berbagai macam teori yang dikemukakan oleh para ahli yang berkompeten di bidangnya beserta dengan sederet riset yang telah sukses dilakukannya. Namun dalam tulisan kali ini, memang sengaja untuk tidak disajikan teori-teori yang terkait tentang batasan umum dalam mengambil keputusan untuk menikah. Mengapa? Karena teori-teori tersebut tidak bisa dengan serta-merta ditetapkan sebagai “harga mati” yang mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat.

Batasan umur dalam mengambil keputusan untuk menikah maupun usia ideal untuk menikah, tentunya didasarkan pada pertimbangan aspek medis dan kematangan psikis, karena masih banyak hal untuk dipertimbangkan secara seksama terkait tentang rencaba pernikahan yang akan sangat “subjektif” dan tergantung oleh keadaan setiap orang, terkait dengan pengalaman, pengetahuan, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, sosial-ekonomi, budaya, dan sebagainya.

Satu hal yang kiranya penting untuk digaris-bawahi, bahwa menikah itu memang pada hakikatnya memiliki banyal sekali manfaatnya, di antaranya yaitu: membuat hidup dan kehidupan ini lebih tenang dan berkualitas, memperoleh keturunan sebagai generasi penerus, dan sebagai sebuah wujud “ibadah”, karena menikah itu bagian dari ibadah. Janganlah mengambil keputusan untuk mengakhiri “masa lajang” dengan gegabah atau terburu-buru akibat adanya tekanan dari pihak keluarga dan lingkungan sekitar maupun gara-gara umur yang semakin “kritis” dan sebagainya demi mengejar status formalitas maupun strata belaka, karena hal tersebut nantinya justru akan memicu timbulnya berbagai macam efek negatif dalam pernikahan itu sendiri, seperti adanya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perselingkuhan, perzinahan, pelecehan maupun penyimpangan seksual, perceraian, serta hal-hal negatif lainnya yang tidak diinginkan.

Baca Juga Menarik :   Masdawati Saragih : Selamat dan Sukses Atas "Launching" Media Lingkaran.net

( Prof. Dr. SUGENG TJAHJONO, ST, SH, MM, PhD – Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Dan Manajemen Kepelabuhanan (STIAMAK) Barunawati Surabaya ).

Share this
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Artikel

“METAMORFOSA LUDRUK”

KORLIP lingkaran.net

Published

on

Insert : Pemerhati kesenian ludruk (Profesor Sugeng).

Ludruk adalah satu-satunya “ikon” kesenian dan sekaligus “aset” kebudayaan khas “Suroboyo”, yang sudah kondang di seantero Jawa, terutama di Jawa Timur.

Ludruk juga merupakan wahana ekspresi dan improvisasi dalam menyampaikan pesan dan kesan, yang sekaligus juga sebagai “kontrol sosial”, di samping muatan seni-budaya dan kearifan lokal yang terkandung di dalamnya.

Konon, dulu pagelaran Ludruk sangat dielu-elukan oleh banyak masyarakat sehingga di setiap acara pementasan Ludruk, tentu tidak akan pernah sepi penonton dari berbagai lapisan masyarakat dengan strata sosial-ekonominya masing-masing. Alhasil, di kala itu, masyarakat benar-benar terhibur sekaligus bangga dengan adanya kesenian Ludruk itu sendiri sebagai “tontonan dan tuntunan”.

Namun, kini eranya sedah berubah, seiring dengan semakin pesatnya perkembangan dunia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang telah merambah di berbagai bidang. Kesenian Ludruk kini sudah malai “kekurangan”, bahkan nyaris “kehilangan” penggemar setianya, lebih-lebih dari kalangan para “Kawula Muda”.

Di era “kekinian” alias di jaman “now” ini, masyarakat sudah mulai enggan dan bosan menyaksikan penampilan Ludruk di atas panggung. Maklum, kini sudah semakin sedikit jumlah grup atau kelompok Ludruk yang masih “serius dan prestisius”. Kalau pun ada, masih bisa dihitung dengan dengan jari tangan. Namun itu pun juga berasal dari kalangan “Generasi Tua”. Sedangkan dari kalangan “Generasi Muda” itu sendiri, relatif masih belum banyak yang terlihat dam terlibat kiprahnya dalam rangka melestarikan Ludruk itu sendiri dengan “baik dan benar”.

Apalagi juga belum tersedianya gedung pertunjukan kesenian yang “representatif, baik yang bertaraf regional maupun nasional. Ludruk perlu mendapatkan “ekstra” perhatian dari berbagai aspek yang terkait di dalamnya. Termasuk adanya berbagai upaya dalam rangka meningkatkan kualitas dan profesionalitas Ludruk tersebut hingga menembus dunia internasional sebagai warisan dan aset budaya bangsa yang wajib dilestarikan.

Baca Juga Menarik :   Monterado, Abad ke - 18 " KALBAR Sambas.

Jika dulu Ludruk itu hanys bisa dinikmati oleh penontonnya “hanya” di dalam gedung pertunjukan saja, kini tibalah saatnya Ludruk kudu bisa disaksikan setiap saat, kapan saja, dan di mana pun berada. Draft atau format Ludruk wajib di-“Up-Date”. Ludruk jangan hanya bisa ditampilkan secara “In-Door” melulu, baik di dalam stasiun televisi saja, apalagi hanya di dalam panggung. Namun Ludruk juga kudu bisa tampil “Out-Door” alias dikemas ala Film Televisi (FTV) sinetron, bahkan Film Layar Lebar sekalipun, sehingga “Out-Put” yang dihasilkan berupa DVD. Nah, dengan adanya DVD itulah kita bisa menyaksikan Ludruk kapan saja, dan di mana saja. Kita bisa nonton Ludruk di bioskop, TV, dan bahkan di laptop.

Sebagai salah satu aset kesenian dan warisan kebudayaan yang wajib dilestarikan dengan segenap kearifan lokal di dalamnya, maka Ludruk harus tetap menggunakan dialog dengan dialek khas bahasa Jawa “Suroboyo”-an, tapi boleh dilengkapi dengan terjemahan atau teks dalam berbagai bahasa agar Ludruk bisa dikonsumsi untuk diapresiasi oleh dunia internasional.

Ludruk tidak akan pernah sirna dari Surabaya. Ludruk tidak juga ke mana-mana, namun Ludruk ada di mana-mana, bahkan hingga ke ujung dunia!

( Prof. Dr. SUGENG TJAHJONO, ST, SH, MM, PhD – Pemerhati Seni-Budaya )

Share this
Continue Reading

Artikel

Memburu Pesan Tuhan Dibalik Isra’ Mi’raj, Sebuah Tatapan Komunikasi

Biro Situbondo

Published

on

Oleh: Achmad Nur

ARTIKEL, Lingkaran.net- Bulan Rajab merupakan bulan yang penuh dengan kenangan sejarah akan suatu peristiwa besar yang terjadi pada seorang hamba pilihan yang memiliki pengaruh besar bagi perjalanan dan perkembangan sejarah Islam. Peristiwa yang dimaksud adalah perjalanan seorang hamba dari masjidil haram menuju masjidil aqsho, hingga melanjutkan perjalanan menuju dan menghadap tuhan. Perjalanan tersebut akrab disebut Isra’ Mi’raj.

Isra Miraj merupakan peristiwa klasik yang telah lama dibicarakan,dan di kaji oleh banyak kalangan,termasuk juga dikalangan intelektual muslim dengan menekankan pada sebuah keyakinan spiritual akan sebuah peristiwa yang diasumsikan diluar wilayah akal.

Dikatakan demikian, karena,safari tersebut hanya membutuhkan waktu yang sangat pendek dengan jarak tempuh yang sangat jauh, bahkan jarak tempuh yang melampaui kerajaan bumi. Sehingga menurut sebagian banyak intelektual muslim, peristiwa ini perlu didekati dengan hati, untuk memperoleh sebuah kebenaran.

Tulisan ini tidak akan lagi mempermasalahkan kebenaran peristiwa tersebut, melainkan mengkajinya dari dimensi yang belum terbaca, yaitu dimensi intelektualitas yang terkandung dalam peristiwa isra’ mi’raj. Dengan kata lain, yang menjadi aksentuasi bukan lagi pada surface structure, melainkan lebih pada depth structure yang bersemayam dibalik sebuah peristiwa. Guna menuai hajat tersebut, akan digunakan communication paradigm, dengan berpijak pada teori audiens Stuart Hall yang menekankan pada aspek resepsi sebuah pesan.

Dimensi Komunikasi Dalam Isra’ Mi’raj

Secara historis, peristiwa isra’ mi’raj di pahami sebagai sebuah perjalanan seorang hamba Tuhan yang bernama Muhammad SAW, dari kerajaan bumi menuju kerajaan langit dengan tujuan utama menerima sebuah perintah Shalat sebanyak lima waktu, terdiri dari 17 rakaat sehari semalam. Dalam Perjalanan tersebut, terdapat beberapa unsur komunikasi, diantaranya:

Baca Juga Menarik :   Taman Legendaris Yang Tragis

Pertama, Allah (Communikator), Kedua, Sholat (Massage) dan Ketiga, Mohammad (Communican)

Skema diatas menunjukkan bahwa Allah sebagai komunikator utama yang memiliki kehendak untuk menyampaikan sebuah pesan yang berupa Shalat kepada Muhammad sebagai komunikan pertama yang dikehendaki dan dipercayai oleh komunikator untuk menerima pesan, dengan tujuan yang dikehendaki oleh Komunikator.

Berdasar peristiwa komunikasi tersebut, yang menarik untuk dikaji adalah bagaimana Muhammad sebagai komunikan menerima sebuah pesan Tuhan. Dalam encoding and decoding, Stuart Hall, membagi model penerimaan pesan menjadi tiga: a) conform, yaitu sebuah sikap penerimaan pesan yang dilakukan oleh komunikan secara taken for granted. Artinya tidak lagi berpikir tentang pesan tersebut yang penting dia mengikuti dan menerima apa adanya. b) opposited, yaitu sebuah penerimaan dan penggunaan pesan yang dilakukan untuk melakukan perlawanan terhadap pesan tersebut. Model ini kerapkali dilakukan oleh para komunikan yang memiliki kepentingan, dan bertentangan dengan pesan tersebut. c) negosiated, yaitu sebuah pembacaan audiens/communican terhadap sebuah pesan yang dilakukan secara negosiatif-komunikatif. Artinya, komunikan tidak menerima begitu saja melainkan membacanya dan merelevansikan dengan sebuah kenyataan, dan kebutuhan sasaran pesan.

Teori diatas, apabila digunakan untuk membaca proses penerimaan pesan yang dilakukan oleh Muhammad SAW, maka dapat dikatakan bahwa model yang digunakan oleh Muhammad adalah bersifat negosiatif komunikatif. Dikatakan, demikian karena telah terjadi proses negosiasi yang dilakukan oleh Muhammad dengan tuhan sebagai pemilik pesan, yang berisi permintaan pertimbangan atas jumlah Shalat yang diberikan kepada umat Muhammad sebanyak lima puluh waktu dalam satu hari semalam.

Dengan pelbagai alasan dan pertimbangan, akhirnya permohonan komunikan dikabulkan oleh komunikator, dan Shalat menjadi lima waktu. Proses negosiasi tersebut, menggambarkan sebuah corak berpikir kritis-dialogis yang dilakukan dengan cara menelaah kembali pesan Tuhan, dengan melibatkan sebuah saran atau kontribusi pemikiran dari beberapa Nabi yang sempat berdialog dengan Muhamad SAW. Dengan kata lain, Tuhan melatih Muhammad untuk berpikir kritis dalam menyikapi persoalan, dan dalam menerima pesan, serta membiasakan hambanya untuk berkomunikasi dan berdialog dengan sesama untuk mencari jalan terbaik, dan tepat dalam menyelesaikan persoalan,dan melakukan perubahan.

Baca Juga Menarik :   Masdawati Saragih : Selamat dan Sukses Atas "Launching" Media Lingkaran.net

Dengan demikian,secara implisit peristiwa isra’ mi’raj mengajarkan pada manusia khususnya umat Muhammad, untuk cinta pegetahuan melalui usaha gemar membaca, berpikir kritis dialogis dan menyebarluaskan pengetahun tersebut secara komunikatif kepada siapapun, agar pesan yang disampaikan bisa diterima dengan baik, dan dilaksanakan dengan penuh kesadaran tanpa paksaan. Semangat ini, sangat tepat apabila diterapkan dalam kondisi zaman saat ini yang sarat akan kepalsuan dan dominasi kepentingan.

Oleh karena itu, sebagai kaum intelektual, khususnya insan akademik memiliki kewajiban untuk memupuk sikap kritis, menciptakan suasana komunikasi yang berbasis negosiatif dengan pelbagai kalangan, agar dominasi kepentingan bisa di bongkar, dan perubahan sosial bisa terlaksana dengan baik. Akhir kata, Menurut Brower seorang fenomenolog, mengatakan bahwa “dunia diwarnai dengan komunikasi, kerja, dan karya”.

Profilnya Penulis “Wakil Rektor STAINH, Ketua Lakpesdam PCNU Situbondo, Da’i Muda.

Share this
Continue Reading

Artikel

Masdawati Saragih : Selamat dan Sukses Atas “Launching” Media Lingkaran.net

KORLIP lingkaran.net

Published

on

Nampak Kapolsek Simokerto Hadiri Launching media lingkaran.net.

Surabaya, lingkaran.net – Momentum suasana meriah dan kebersamaan terlihat di restoran Taman Sari Indah, Jalan Kaca Piring Nomer 11, Kecamatan Genteng, Surabaya, Jumat (6/4/2018) saat Peresmian dan “Launching” media online dan cetak yang di terbitkan oleh PT. Lumbung Merah Putih. Acara yang dijadwalkan Pukul 13.30 WIB nampak para undangan sudah memenuhi tempat yang sudah disediakan.

Dalam sambutannya,Pimpinan umum media lingkaran.net , R. Randy L mengucapkan banyak terimakasih terutama kepada tamu undangan terdiri dari : Jajaran Polerstabes Surabaya yang di wakili oleh Kapolsek Genteng dan Simokerto, kalangan Akademis Universitas Kristen Petra (UK Petra), Perusahaan “HP”, Bakal Caleg DPRD Kota Surabaya dari Partai Perindo Dapil V (Teguh Basara, red), Bacaleg DPRD Kota Surabaya dari partai Demokrat (Bapak Irwanto,red), Semua perwakilan biro-biro lingkaran.net dan para tamu undangan lainnya yang sudah datang dalam acara “Launching” media cetak dan online lingkaran.net

Sementara itu Pemimpin Rekdaksi (Pemred) lingkaran.net, Agus Pujianto, mengatakan bahwa saya menitipkan wartawan- wartawan kami kepada pemerintah, TNI-Polri dan juga masyarakat. Saya pertegas Wartawan media lingkaran.net dalam melaksanakan tugasnya dilapangan selain harus patuh terhadap Kode Etik Jurnalistik juga senantiasa harus menghargai norma-norma yang ada.

“Dan perlu saya ingatkan, bahwasanya insan Pers ataupun wartawan itu bukanlah hakim dan bukan pula polisi, jadi dalam hal apapun yakni melaksanakan tugas profesinya jangan pernah menghakimi seseorang dikarenakan hanya seorang hakim yang berhak menentukan serta memutuskan siapa yang salah dan benar di dalam hukum yang berlaku di Indonesia,” Kata Pemred media lingkaran.net, Agus Pujianto, ST dalam sambutannya.

Dalam kesempatan yang sama Kapolrestabes Surabaya yang di wakili oleh Kapolsek Genteng, Kompol Ari Tretiawan serta Kapolsek Simokerto, Kompol Masdawati Saragih S.H, M.H dan juga perwakilan Kapolsek Sawahan, AKP Didik Sulistyo S.H, mengucapkan selamat dan sukses atas terselenggaranya “Launching” media lingkaran.net.

Baca Juga Menarik :   "METAMORFOSA LUDRUK"

“Semoga kedepannya lingkaran.net menjadi media yang besar serta profesional dan sebagai Pilar Ke-4 memberikan berita yang benar bukan berita Hoax,” tandas perwakilan Kapolrestabes Surabaya.

Acara “Launching” juga dihadiri perwakilan dari media-media lain.Mereka berharap para wartawan selalu komitmen dan menjalin komunikasi dengan redaksi dan semua Kabiro beserta para wartawan supaya dalam pemberitaannya selalu profesional, obyektif ,kooperatif dan proposional.Hal ini dikarenakan besarnya media itu tergantung dari kemampuan wartawannya.

“Kami sangat bangga dan berterimakasih dengan hadirnya rekan-rekan dari media maupun para undangan lingkaran.net,” imbuh Pemred lingkara.net.

Karena saya sebagai pemimpin redaksi sangat membutuhkan informasi yang cepat dan akurat.

“Harapan kami hendaknya media lingkaran.net ini dapat menyuarakan berita yang sebenarnya agar dapat menyentuh hati masyarakat dan bukan sebaliknya menjadi media penjilat yang tidak berani menyuarakan kebenaran, Salam Jurnalis sebagai kontrol sosial pilar ke empat,” Tutupnya. ( Sabairi/man )

Share this
Continue Reading

PENGADUAN ONLINE

RUANG IKLAN ANDA

Arsip

Kategori

Trending

error: Content is protected !!