Connect with us
[metaslider id="4417"]

INTERNASIONAL

Pemerintah AS ‘Shutdown’, Ini Kata Trump

lingkaran.net

Published

on

Washington DC, lingkaran.net. Setelah 2013 lalu sempat mengalami hal sama, kini Pemerintah Amerika Serikat kembali mengalami shutdown. Kondisi terjadi akibat terjadinya deadlock saat membahas anggaran 2018.

Terkait hal tersebut, Gedung Putih menyalahkan Partai Demokrat dan menyebut Senator Chuck Schumer yang mewakilinya sebagai pecundang. Schumer dianggap telah menghalang-halangi.

“Mereka menempatkan politik di atas keamanan nasional, keluarga militer, anak-anak kita, dan kemampuan negara untuk melayani semua orang Amerika,” sebut Gedung Putih dalam sebuah pernyataan seperti dilansir Reuters, Sabtu, 20 Januari 2018.

Seperti diketahui, ada beberapa persoalan yang dianggap mengganjal Partai Demokrat saat melakukan Kongres AS. Yakni permasalahan imigran dan perbatasan. Demokrat melalui Schumer selama ini memang getol menyuarakan kepentingan imigran anak-anak atau Deferred Actions for Childhood Arrival (DACA). Dengan adanya program DACA, sekira 700 ribu imigran anak-anak bakal dilindungi di Amerika Serikat.

 

Donald Trump

Sementara pada September 2017, Trump melakukan pengumuman menghentikan DACA dengan keputusan bahwa program tersebut bakal berakhir Maret 2018. Trump ketika itu memberi waktu kepada Kongres AS hingga 5 Maret untuk membahas program pengganti.

“Kami tidak akan menegosiasikan status imigran yang melanggar hukum. Inilah perilaku pecundang penghalang, bukan legislator.”

Demokrat Berkilah

Sementara itu Partai Demokrat justru berbalik menyalahkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas terjadinya kondisi shutdown Pemerintah AS.

“Ini akan disebut sebagai ‘Trump Shutdown’ karena tidak ada siapa pun, siapa pun yang pantas disalahkan atas posisi yang kita dapati sekarang selain Presiden Trump,” kata Ketua Minoritas Senat AS, Chuck Schumer, seperti dilansir CNN.

Menurut Schumer yang merupakan Senator Demokrat mewakili New York ini, Trump turut andil dalam kondisi shutdown Pemerintah AS. “Pak Presiden Trump, jika Anda mendengarkan, saya mendorong Anda, tolong pilih iya sebagai jawaban, hal yang terjadi hari ini, cara Anda berpaling dari kesepakatan bipartisan, nyaris seolah-seolah Anda mendukung shutdown,” kata Schumer.

“Sekarang kita menghadapinya dan seluruh kesalahan ada di pundak Presiden Trump,” ucapnya lagi.

Sementara itu para pemimpin Partai Demokrat dan Republik saat ini telah sepakat untuk membuka kembali perundingan pada Sabtu dan mengatakan bahwa mereka berkomitmen untuk mendapatkan kesepakatan secara cepat.

Share this
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

INTERNASIONAL

Memprediksi Calon Tempat Pertemuan Donald Trump dan Kim Jong Un Akan Menjadi Babak Baru Hubungan AS dan Korut, Serta Menjadi Sejarah Baru Dunia

lingkaran.net

Published

on

Ilustrasi Donald Trump Mau Ketemu Kin Jou Un

Jakarta, lingkaran.net – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa pertemuan dengan Korea Utara (Korut) bakal berlangsung Mei atau awal Juni. Namun, keinginan Trump untuk memantau perkembangan situasi perundingan antara Korut dan Korea Selatan (Korsel) membuatnya belum menetapkan tanggal pertemuan. Begitu pun dengan tempat perundingan. Trump mengisyaratkan, dia tengah mempertimbangkan tempat yang bakal menjadi lokasi pertemuannya dengan Pemimpin Korut Kim Jong Un. Diwartakan kantor berita AFP Kamis (19/4/2018), berikut merupakan prediksi kota atau kawasan yang menjadi calon lokasi pertemuan Kim dan Trump:

Tempat Rencana Pertemuan

  1. Panmunjom Desa yang terletak di Zona Demiliterisasi ini bakal menjadi lokasi Konferensi Tingkat Tinggi Antar-Korea pada pekan depan (27/4/2018). Namun, menurut sumber diplomatik AS, sangat kecil kemungkinan Negeri “Paman Sam” bakal memilih tempat itu sebagai lokasi. Sumber tersebut merujuk kepada Insiden Pembunuhan Panmunjom yang terjadi pada 18 Agustus 1976. Ketika itu, dua tentara AS, Kapten Arthur Bonifas dan Letnan Satu Mark Barrett, dibunuh oleh serdadu Korut ketika mereka berusaha menyingkirkan pohon yang menghalangi penyelidik PBB. Kejadian itu jelas masih membekas bagi Washington. Situs tersebut juga merupakan pengingat bagi tentara AS yang berdinas di sekitar Semenanjung Korea. Baca juga: Trump Akui Bos CIA Temui Kim Jong Un di Pyongyang.
  2. Pyongyang Ibu kota Korut ini menjadi salah satu calon lokasi berikutnya. Namun, terdapat risiko jika Trump memilih Pyongyang. Risiko tersebut adalah Korut bakal berada di atas angin, dan mempunyai kendali untuk mengatur jalannya perundingan.
  3. Seoul Ibu kota Korsel ini juga masuk  kandidat lokasi perundingan AS-Korut versi AFP setelah adik Kim sekaligus utusan khusus Korut, Kim Yo Jong, datang. Kedatangan Kim Yo Jong selain menyampaikan surat dari kakaknya, juga menghadiri Olimpiade Musim Dingin di Pyeongchang, 9 Februari lalu. Namun, kedatangan Kim berisiko memunculkan berbagai aksi demonstrasi mengingat warga Korsel ada yang tidak suka dengannya. Selain itu, Kim juga berpotensi menjadi fokus terbesar media dibanding Trump. Sesuatu yang jelas ingin dihindari Washington. Baca juga: Trump Siap Bekerja Ekstra Keras Demi Warga Jepang yang Diculik Korut
  4. Beijing China menjadi salah satu negara yang bisa dimasukkan sebagai calon tempat pertemuan mengingat pengaruhnya yang besar di Asia. Namun, terdapat masalah jika menggunakan Beijing sebagai lokasi pertemuan mengingat China adalah sekutu utama Korut. Kemudian, otoritas China dikenal ketat, dan membatasi akses media yang hendak meliput acara internasional di tempat mereka. Begitu ketatnya otoritas China terkait media berpotensi mengurangi dampak pertemuan AS dan Korut secara global.
  5. Swiss Negara yang terkenal dengan resor skinya tersebut tempat yang tidak asing bagi Kim. Sebab, dia pernah belajar di sana pada dekade 1990-an. Baca juga: Korut Berikan Gelar Ibu Negara kepada Istri Kim Jong Un Selain itu, dibandingkan ayah dan kakeknya, Kim Jong Il dan Kim Il Sung, Kim tidak takut untuk bepergian dengan pesawat. Jadi, keberadaan negara yang dikenal netral tersebut tidak bisa disepelekan dari kandidat lokasi pertemuan Kim dan Trump.
  6. Ulan Bator Ibu kota Mongolia itu merupakan rumah bagi sekitar 1.200 warga Korut yang bekerja di sana sebelum munculnya sanksi PBB pada 2017. Peneliti senior di Institut AS-Korea Universitas John Hopkins, Joel S Wit, berujar, Mongolia pernah menawarkan diri sebagai tuan rumah. “Secara politik, tempat termudah yang bisa dijangkau adalah Ulan Bator. Sebab, tempat itu merupakan Swiss-nya Asia,” kata Wit dilansir dari New York Times. Baca juga: Dikritik atas Pernyataan Soal Suksesnya Misi di Suriah, Ini Kata Trump. (red/team)

Share this
Continue Reading

INTERNASIONAL

KOMINFO Meminta Penjelasan Dan Dokumen Atas Penyalahgunaan Data Facebook

lingkaran.net

Published

on

Jakarta, lingkaran.net – Kementerian Kominfo melalui Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kamis ,19 April 2018 kembali mengirimkan surat kepada Facebook.

Surat yang dikirimkan sebagai bentuk jawaban surat dari Head of Data Protection, Facebook Ireland Limited tertanggal 10 April 2018 dalam surat itu ditujukan guna untuk meminta penjelasan atas adanya dokumen yang berkaitan dengan penyalahgunaan data pengguna Facebook Indonesia.

Melalui tembusan surat tersebut, atas nama Pemerintah Republik Indonesia, maka Kementerian Kominfo meminta hal -hal sebagai berikut:

Konfirmasi dan penjelasan mengenai adanya informasi penyalahgunaan data pengguna Facebook yang meluas ke firma analisis lain selain Cambridge Analytica yaitu CubeYou dan Aggregate IQ
Konfirmasi dan penjelasan lebih lanjut mengenai tindakan teknis untuk membatasi akses data di Facebook, sebagaimana informasi yang telah dimuat dalam surat dari Kepala Kebijakan Publik Facebook Indonesia tanggal 5 April 2018.
Memberikan data jadwal dan/atau hasil audit atas kasus penyalahgunaan data pengguna ini;
Memberikan data pengguna Facebook Indonesia yang terkena dampak penyalahgunaan data oleh Cambridge Analytica.
Dalam surat itu juga, Kementerian Kominfo secara tertulis agar Facebook segera memenuhi permintaan tersebut selambat-lambatnya dalam 7 (tujuh) hari kalender sejak surat dikirimkan .

( Red)

Share this
Continue Reading

INTERNASIONAL

Trump Copot Penasihat Keamanan

lingkaran.net

Published

on

WASHINGTON, lingkaran.net – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan akan memecat Penasihat Keamanan Nasional HR McMaster. Berdasarkan laporan surat kabar Washington Post, Trump sudah membicarakan pergantian McMaster, namun masih membutuhkan waktu.

Pasalnya Trump tak ingin penggantian ini menjatuhkan martabat McMaster. Selain itu dia juga harus mempersiapkan calon pengganti McMaster.

Mengutip beberapa sumber di Gedung Putih, Washington Post melaporkan, penggantian McMaster menunggu dia dipromosikan mendapat bintang 4 atau ketika posisi baru untuknya sudah didapat. Dengan begitu, McMaster tidak akan dipermalukan.

Namun Juru Bicara Gedung Putih Sarah Sanders menepis kabar itu. Menurut dia, sejauh ini tidak ada rencana pergantian posisi di Dewan Keamanan Nasional (NSC).

“Hanya ingin bicara ke @POTUS dan Jenderal HR McMaster – berbeda dengan laporan, mereka memiliki hubungan kerja yang baik dan tidak ada perubahan di NSC,” kata Sanders, di akun Twitter-nya.

Laporan lain menyebut mengganti McMaster bukan prioritas Trump, tak seperti saat dia memecat menteri luar negeri Rex Tillerson beberapa hari lalu.

Ajudan Tillerson mengatakan, Trump bahkan tak memberi kabar atasannya sebelum mengumumkan pemecatan melalui akun Twitter.

Editor : ariasgari

Share this
Continue Reading

PENGADUAN ONLINE

RUANG IKLAN ANDA

Arsip

Kategori

Trending

error: Content is protected !!