Connect with us
[metaslider id="4417"]

INTERNASIONAL

Presiden Jokowi: Kita Seharusnya Membantu Negara Lain, Bukan Minta Bantuan

lingkaran.net

Published

on

Jakarta, lingkaran.net – Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) memperingatkan kepada para menterinya untuk tidak mencari-cari bantuan kepada negara lain. Jokowi mengatakan, Indonesia sudah masuk anggota G-20 dan berkategori negara besar.

”Ini yang perlu saya ingatkan, kita ini negara anggota G-20, sudah masuk dalam kategori negara besar. Jangan lagi merasa inferior, kita ini anggota G-20. Saya sampaikan kepada para menteri jangan mencari-cari bantuan, tapi harus membantu,” kata presiden dalam pidatonya di depan para diplomat Indonesia di kantor Kementerian Luar Negeri Indonesia, Senin (12/2/2018).

Mantan Walikota Surakarta yang juga mantan Gubernur DKI Jakarta ini meminta kepada seluruh kepala perwakilan Indonesia di luar negeri untuk tidak lagi menganggap bahwa Indonesia adalah negara kecil yang masih membutuhkan bantuan dari luar negeri.

Jokowi berujar, menjadi diplomat saat ini tidak mudah. Banyak tantangan dan juga rintangan yang dihadapi oleh diplomat Indonesia pada saat ini, mulai dari konflik berkepanjangan, kejahatan lintas batas, dan banyak tantangan lainnya.

Kendati demikian, Jokowi berpesan agar para diplomat Indonesia tetap harus mampu memperjuangkan kepentingan masyarakat Indonesia dan teguh dalam memperjuangkan wilayah Indonesia.
”Masyarakat kita yang berjumlah 260 juta jiwa mengharapkan agar diplomat kita mampu memperjuangkan kepentingan masyarakat Indonesia,” kata Jokowi.”Diplomasi yang cepat, responsif, tanggap. Bukan diplomasi yang menghamburkan uang, tapi yang menghasilkan uang,” ujarnya.

“Diplomasi yang berpihak kepada kepentingan negara, kepada kedaulatan negara, yang tidak akan mundur satu inci pun dalam mempertahankan kedaulatan negara. Memberi kontribusi bagi perdamaian dan kesejahteraan dunia,” imbuh Presiden Jokowi. (red)

Share this
Baca Juga Menarik :   Hanura Kubu Daryatmo Daftarkan Kepengurusan ke Kemenkumham
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

INTERNASIONAL

Memprediksi Calon Tempat Pertemuan Donald Trump dan Kim Jong Un Akan Menjadi Babak Baru Hubungan AS dan Korut, Serta Menjadi Sejarah Baru Dunia

lingkaran.net

Published

on

Ilustrasi Donald Trump Mau Ketemu Kin Jou Un

Jakarta, lingkaran.net – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa pertemuan dengan Korea Utara (Korut) bakal berlangsung Mei atau awal Juni. Namun, keinginan Trump untuk memantau perkembangan situasi perundingan antara Korut dan Korea Selatan (Korsel) membuatnya belum menetapkan tanggal pertemuan. Begitu pun dengan tempat perundingan. Trump mengisyaratkan, dia tengah mempertimbangkan tempat yang bakal menjadi lokasi pertemuannya dengan Pemimpin Korut Kim Jong Un. Diwartakan kantor berita AFP Kamis (19/4/2018), berikut merupakan prediksi kota atau kawasan yang menjadi calon lokasi pertemuan Kim dan Trump:

Tempat Rencana Pertemuan

  1. Panmunjom Desa yang terletak di Zona Demiliterisasi ini bakal menjadi lokasi Konferensi Tingkat Tinggi Antar-Korea pada pekan depan (27/4/2018). Namun, menurut sumber diplomatik AS, sangat kecil kemungkinan Negeri “Paman Sam” bakal memilih tempat itu sebagai lokasi. Sumber tersebut merujuk kepada Insiden Pembunuhan Panmunjom yang terjadi pada 18 Agustus 1976. Ketika itu, dua tentara AS, Kapten Arthur Bonifas dan Letnan Satu Mark Barrett, dibunuh oleh serdadu Korut ketika mereka berusaha menyingkirkan pohon yang menghalangi penyelidik PBB. Kejadian itu jelas masih membekas bagi Washington. Situs tersebut juga merupakan pengingat bagi tentara AS yang berdinas di sekitar Semenanjung Korea. Baca juga: Trump Akui Bos CIA Temui Kim Jong Un di Pyongyang.
  2. Pyongyang Ibu kota Korut ini menjadi salah satu calon lokasi berikutnya. Namun, terdapat risiko jika Trump memilih Pyongyang. Risiko tersebut adalah Korut bakal berada di atas angin, dan mempunyai kendali untuk mengatur jalannya perundingan.
  3. Seoul Ibu kota Korsel ini juga masuk  kandidat lokasi perundingan AS-Korut versi AFP setelah adik Kim sekaligus utusan khusus Korut, Kim Yo Jong, datang. Kedatangan Kim Yo Jong selain menyampaikan surat dari kakaknya, juga menghadiri Olimpiade Musim Dingin di Pyeongchang, 9 Februari lalu. Namun, kedatangan Kim berisiko memunculkan berbagai aksi demonstrasi mengingat warga Korsel ada yang tidak suka dengannya. Selain itu, Kim juga berpotensi menjadi fokus terbesar media dibanding Trump. Sesuatu yang jelas ingin dihindari Washington. Baca juga: Trump Siap Bekerja Ekstra Keras Demi Warga Jepang yang Diculik Korut
  4. Beijing China menjadi salah satu negara yang bisa dimasukkan sebagai calon tempat pertemuan mengingat pengaruhnya yang besar di Asia. Namun, terdapat masalah jika menggunakan Beijing sebagai lokasi pertemuan mengingat China adalah sekutu utama Korut. Kemudian, otoritas China dikenal ketat, dan membatasi akses media yang hendak meliput acara internasional di tempat mereka. Begitu ketatnya otoritas China terkait media berpotensi mengurangi dampak pertemuan AS dan Korut secara global.
  5. Swiss Negara yang terkenal dengan resor skinya tersebut tempat yang tidak asing bagi Kim. Sebab, dia pernah belajar di sana pada dekade 1990-an. Baca juga: Korut Berikan Gelar Ibu Negara kepada Istri Kim Jong Un Selain itu, dibandingkan ayah dan kakeknya, Kim Jong Il dan Kim Il Sung, Kim tidak takut untuk bepergian dengan pesawat. Jadi, keberadaan negara yang dikenal netral tersebut tidak bisa disepelekan dari kandidat lokasi pertemuan Kim dan Trump.
  6. Ulan Bator Ibu kota Mongolia itu merupakan rumah bagi sekitar 1.200 warga Korut yang bekerja di sana sebelum munculnya sanksi PBB pada 2017. Peneliti senior di Institut AS-Korea Universitas John Hopkins, Joel S Wit, berujar, Mongolia pernah menawarkan diri sebagai tuan rumah. “Secara politik, tempat termudah yang bisa dijangkau adalah Ulan Bator. Sebab, tempat itu merupakan Swiss-nya Asia,” kata Wit dilansir dari New York Times. Baca juga: Dikritik atas Pernyataan Soal Suksesnya Misi di Suriah, Ini Kata Trump. (red/team)
Baca Juga Menarik :   POLRES Gresik Mengirimkan Perwakilannya di Jambore " NETIZEN " POLDA JATIM.

Share this
Continue Reading

INTERNASIONAL

KOMINFO Meminta Penjelasan Dan Dokumen Atas Penyalahgunaan Data Facebook

lingkaran.net

Published

on

Jakarta, lingkaran.net – Kementerian Kominfo melalui Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kamis ,19 April 2018 kembali mengirimkan surat kepada Facebook.

Surat yang dikirimkan sebagai bentuk jawaban surat dari Head of Data Protection, Facebook Ireland Limited tertanggal 10 April 2018 dalam surat itu ditujukan guna untuk meminta penjelasan atas adanya dokumen yang berkaitan dengan penyalahgunaan data pengguna Facebook Indonesia.

Melalui tembusan surat tersebut, atas nama Pemerintah Republik Indonesia, maka Kementerian Kominfo meminta hal -hal sebagai berikut:

Konfirmasi dan penjelasan mengenai adanya informasi penyalahgunaan data pengguna Facebook yang meluas ke firma analisis lain selain Cambridge Analytica yaitu CubeYou dan Aggregate IQ
Konfirmasi dan penjelasan lebih lanjut mengenai tindakan teknis untuk membatasi akses data di Facebook, sebagaimana informasi yang telah dimuat dalam surat dari Kepala Kebijakan Publik Facebook Indonesia tanggal 5 April 2018.
Memberikan data jadwal dan/atau hasil audit atas kasus penyalahgunaan data pengguna ini;
Memberikan data pengguna Facebook Indonesia yang terkena dampak penyalahgunaan data oleh Cambridge Analytica.
Dalam surat itu juga, Kementerian Kominfo secara tertulis agar Facebook segera memenuhi permintaan tersebut selambat-lambatnya dalam 7 (tujuh) hari kalender sejak surat dikirimkan .

( Red)

Share this
Baca Juga Menarik :   Presiden Jokowi Hadiri Konvensi Nasional Gerakan Kemajuan (GK) 2018 di Bogor
Continue Reading

INTERNASIONAL

Trump Copot Penasihat Keamanan

lingkaran.net

Published

on

WASHINGTON, lingkaran.net – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan akan memecat Penasihat Keamanan Nasional HR McMaster. Berdasarkan laporan surat kabar Washington Post, Trump sudah membicarakan pergantian McMaster, namun masih membutuhkan waktu.

Pasalnya Trump tak ingin penggantian ini menjatuhkan martabat McMaster. Selain itu dia juga harus mempersiapkan calon pengganti McMaster.

Mengutip beberapa sumber di Gedung Putih, Washington Post melaporkan, penggantian McMaster menunggu dia dipromosikan mendapat bintang 4 atau ketika posisi baru untuknya sudah didapat. Dengan begitu, McMaster tidak akan dipermalukan.

Namun Juru Bicara Gedung Putih Sarah Sanders menepis kabar itu. Menurut dia, sejauh ini tidak ada rencana pergantian posisi di Dewan Keamanan Nasional (NSC).

“Hanya ingin bicara ke @POTUS dan Jenderal HR McMaster – berbeda dengan laporan, mereka memiliki hubungan kerja yang baik dan tidak ada perubahan di NSC,” kata Sanders, di akun Twitter-nya.

Laporan lain menyebut mengganti McMaster bukan prioritas Trump, tak seperti saat dia memecat menteri luar negeri Rex Tillerson beberapa hari lalu.

Ajudan Tillerson mengatakan, Trump bahkan tak memberi kabar atasannya sebelum mengumumkan pemecatan melalui akun Twitter.

Editor : ariasgari

Share this
Baca Juga Menarik :   Foto Bugil Tentara Amerika Di temukan lagi
Continue Reading

PENGADUAN ONLINE

RUANG IKLAN ANDA

Arsip

Kategori

Trending

error: Content is protected !!