Connect with us

Coretan Redaksi

Taman Legendaris Yang Tragis

Published

on

Surabaya. lingkaran.net – Surabaya tempo kini, kian cantik-menawan, indah nan rindang dengan banyaknya pepohonan menghijau yang menghiasi jalan sebagai “paru-paru” kota. Bahkan semakin asri dengan tertatanya taman-taman yang tersebar di seluruh kota.

Tapi ironisnya, di antara deretan taman-taman kota tersebut, ada sebuah taman dan sekaligus satu-satunya “Taman Legendaris” di Surabaya ini yang nyaris kurang dipedulikan dan diperhatikan keadaan dan keberadaannya. Taman apakah itu? Ya… Tidak lain dan tidak bukan, taman tersebut adalah “Taman Hiburan Rakyat (THR)” yang berada di Jalan Kusuma Bangsa, Surabaya.

Dulu, THR adalah merupakan ikon seni-budaya yang berada di Surabaya. Sekaligus lengkap beserta hasil kerajinan tangan dan menu khas dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Di THR, dulu warga Surabaya bahkan masyarakat Jawa Timur yang hendak menyaksikan dan menikmati kesenian khas tradisional, bisa dengan mudah dan murah serta meriah. Di sana ada “Ludruk” yang merupakan kesenian tradisional yang khas Surabaya. Juga ada Srimulat, Kethoprak, Wayang Orang, bahkan juga tidak jarang ditampilkab pagelaran Wayang Kulit. THR sudah berkontribusi “melahirkan” banyak seniman lokal yang pada akhirnya sukses menjadi artis profesional “papan atas” di Ibukota.

Prof. Dr. SUGENG TJAHJONO, ST, SH, MM, PhD

Tapi kini, semua kesenian tradisional dan sekaligus para senimannya, nasibnya sungguh merana. Gedung keseniannya pun juga sudah kurang terawat. Kursi-kursi penonton juga sudah tidak lagi layak pakai di era milenium ini. Kemudian akses jalan yang ada di sekitar kawasan tersebut juga cukup gelap akibat minimnya lampu penerangan sehingga terkesan agak sedikit “menyeramkan”. Kios-kios cindera mata maupun anjungan kuliner khas tradisional dari sejumlah kota dan/ atau kabupaten di Jawa Timur, kini sudah berubah fungsi menjadi “Pemukiman Permanen”, sehingga menambah kesan semakin kumuh, kotor, dan jorok. Bahkan pertunjukan kesenian tradisional yang digelar di sana pun, juga sepi dari penonton alias nyaris tidak ada penonton. Padahal harga tiket masuk (HTM) untuk menonton kesenian tradisional itu pun juga tergolong relatif murah dan terjangkau. THR sesungguhnya adalah merupakan salah satu aset seni-budaya dan sekaligus cagar budaya yang wajib dilestarikan sebagai warisan anak-cucu kita sehingga bisa mengapresiasi kesenian khas tradisional yang memang perlu dilestarikan.

Mungkinkah THR kelak akan bisa kembali berjaya seperti sedia kala? Marilah kita tunggu bersama respon positif dan kebijakan-kebijakan pemerintah beserta segenap instansi yang terkait, tentunya. Semoga terwujud. Aamiin.

( Prof. Dr. SUGENG TJAHJONO, ST, SH, MM, PhD – Pemerhati Seni-Budaya-Pariwisata)

Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply


PENGADUAN ONLINE


: aduan@lingkaran.net

: 0821 3963 6484

RUANG IKLAN ANDA

Arsip

Kategori