Connect with us
[metaslider id="4417"]

Coretan Redaksi

Taman Legendaris Yang Tragis

lingkaran.net

Published

on

Surabaya. lingkaran.net – Surabaya tempo kini, kian cantik-menawan, indah nan rindang dengan banyaknya pepohonan menghijau yang menghiasi jalan sebagai “paru-paru” kota. Bahkan semakin asri dengan tertatanya taman-taman yang tersebar di seluruh kota.

Tapi ironisnya, di antara deretan taman-taman kota tersebut, ada sebuah taman dan sekaligus satu-satunya “Taman Legendaris” di Surabaya ini yang nyaris kurang dipedulikan dan diperhatikan keadaan dan keberadaannya. Taman apakah itu? Ya… Tidak lain dan tidak bukan, taman tersebut adalah “Taman Hiburan Rakyat (THR)” yang berada di Jalan Kusuma Bangsa, Surabaya.

Dulu, THR adalah merupakan ikon seni-budaya yang berada di Surabaya. Sekaligus lengkap beserta hasil kerajinan tangan dan menu khas dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Di THR, dulu warga Surabaya bahkan masyarakat Jawa Timur yang hendak menyaksikan dan menikmati kesenian khas tradisional, bisa dengan mudah dan murah serta meriah. Di sana ada “Ludruk” yang merupakan kesenian tradisional yang khas Surabaya. Juga ada Srimulat, Kethoprak, Wayang Orang, bahkan juga tidak jarang ditampilkab pagelaran Wayang Kulit. THR sudah berkontribusi “melahirkan” banyak seniman lokal yang pada akhirnya sukses menjadi artis profesional “papan atas” di Ibukota.

Prof. Dr. SUGENG TJAHJONO, ST, SH, MM, PhD

Tapi kini, semua kesenian tradisional dan sekaligus para senimannya, nasibnya sungguh merana. Gedung keseniannya pun juga sudah kurang terawat. Kursi-kursi penonton juga sudah tidak lagi layak pakai di era milenium ini. Kemudian akses jalan yang ada di sekitar kawasan tersebut juga cukup gelap akibat minimnya lampu penerangan sehingga terkesan agak sedikit “menyeramkan”. Kios-kios cindera mata maupun anjungan kuliner khas tradisional dari sejumlah kota dan/ atau kabupaten di Jawa Timur, kini sudah berubah fungsi menjadi “Pemukiman Permanen”, sehingga menambah kesan semakin kumuh, kotor, dan jorok. Bahkan pertunjukan kesenian tradisional yang digelar di sana pun, juga sepi dari penonton alias nyaris tidak ada penonton. Padahal harga tiket masuk (HTM) untuk menonton kesenian tradisional itu pun juga tergolong relatif murah dan terjangkau. THR sesungguhnya adalah merupakan salah satu aset seni-budaya dan sekaligus cagar budaya yang wajib dilestarikan sebagai warisan anak-cucu kita sehingga bisa mengapresiasi kesenian khas tradisional yang memang perlu dilestarikan.

Baca Juga Menarik :   Miris Belum Menikah Di Usia "Kritis"?

Mungkinkah THR kelak akan bisa kembali berjaya seperti sedia kala? Marilah kita tunggu bersama respon positif dan kebijakan-kebijakan pemerintah beserta segenap instansi yang terkait, tentunya. Semoga terwujud. Aamiin.

( Prof. Dr. SUGENG TJAHJONO, ST, SH, MM, PhD – Pemerhati Seni-Budaya-Pariwisata)

Share this
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Coretan Redaksi

Harga BBM Resmi Naik , Daftar Rincian Naik Per – 24 Maret 2018

lingkaran.net

Published

on

Surabaya lingkaran.net – Pertamina kembali menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada Sabtu (24/3/2018).

Pantauan lingkaran.netsebelumnya mereka menaikkan harga BBM Umum Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex.

Selang satu bulan kemudian, giliran BBM Pertalite yang mengalami kenaikan.

Adapun, harga Pertalite bertambah Rp 200 per liternya.
Menurut Vice Presiden Corporate communication Pertamina, Adiatma Sardjito, kenaikan ini dipicu akibat adanya lonjakan harga minyak dunia.

Berikut ini rincian lengkap harga BBM Pertalite per liter, terbaru dirangkum dari lama resmi Pertamina.

1. Prov. Nanggroe Aceh Darussalam (Rp 7.800).

2. Prov. Sumatera Utara (Rp 7.800).

3. Prov. Sumatera Barat (Rp 7.800).

4. Prov. Riau (Rp 8.150).

5. Prov. Kepulauan Riau (Rp 8.150).

6. Kodya Batam (FTZ) (Rp 8.150).

7. Prov. Jambi (Rp 8.000).

8. Prov. Bengkulu (Rp 7.800).

9. Prov. Sumatera Selatan (Rp 8.000).

10. Prov. Bangka Belitung (Rp 8.000).

11. Prov. Lampung (Rp 8.000).

12. Prov. DKI Jakarta (Rp 7.800).

13. Prov. Banten (Rp 7.800).

14. Prov. Jawa Barat (Rp 7.800).

15. Prov. Jawa Tengah (Rp 7.800).

16. Prov. DI Yogyakarta (Rp 7.800).

17. Prov. Jawa Timur (Rp 7.800).

18. Prov. Bali (Rp 7.800).

19. Prov. Nusa Tenggara Barat (Rp 7.800).

20. Prov. Nusa Tenggara Timur (Rp 7.800).

21. Prov. Kalimantan Barat (Rp 8.000).

22. Prov. Kalimantan Tengah (Rp 8.000).

23. Prov. Kalimantan Selatan (Rp 8.000).

24. Prov. Kalimantan Timur (Rp 8.000).

25. Prov. Kalimantan Utara (Rp 8.000).

26. Prov. Sulawesi Utara (Rp 8.000).

27. Prov. Gorontalo (Rp 8.000).

28. Prov. Sulawesi Tengah (Rp 8.000).

29. Prov. Sulawesi Tenggara (Rp 8.000).

30. Prov. Sulawesi Selatan (Rp 8.000).

Baca Juga Menarik :   TUNJUKAN KARYA-MU

31. Prov. Sulawesi Barat (Rp 8.000).

32. Prov. Maluku (Rp 8.000).

33. Prov. Maluku Utara (Rp 8.000).

34. Prov. Papua (Rp 8.000).

35. Prov. Papua Barat (Rp 8.000)

 

 

 

Share this
Continue Reading

Artikel

Miris Belum Menikah Di Usia “Kritis”?

lingkaran.net

Published

on

Surabaya, lingkaran.net – Berbicara menikah, ibarat mengerjakan sebuah teka-teki silang (TTS), yaitu gampang-gampang susah atau susah-susah gampang. Bahkan sebagian besar orang mengatakan, bahwa jodoh, ajal, dan rejeki adalah “suratan Illahi”. Hal itu dikarenakan, bahwa masalah menikah memang merupakan “privacy” seseorang. Fakta dan realita telah membuktikan, ternyata banyak orang yang usianya telah memasuki “masa kritis”, namun masih belum juga memiliki “calon istri” sbg idaman dan tambatan hati. Padahal tidak sedikit di antara mereka juga berparas ayu dan ganteng, status ekonominya jg mapan dengan pangkat, jabatan, maupun kedudukan yang strategis di sebuah instansi, bahkan tidak sedikit pula yang tergolong kaya-raya pula. Nah, dari fenomena tersebut kemudian timbul pertanyaan, “Kapankah usia ideal untuk menikah ?”

Kiranya sudah banyak sekali berbagai macam teori yang dikemukakan oleh para ahli yang berkompeten di bidangnya beserta dengan sederet riset yang telah sukses dilakukannya. Namun dalam tulisan kali ini, memang sengaja untuk tidak disajikan teori-teori yang terkait tentang batasan umum dalam mengambil keputusan untuk menikah. Mengapa? Karena teori-teori tersebut tidak bisa dengan serta-merta ditetapkan sebagai “harga mati” yang mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat.

Batasan umur dalam mengambil keputusan untuk menikah maupun usia ideal untuk menikah, tentunya didasarkan pada pertimbangan aspek medis dan kematangan psikis, karena masih banyak hal untuk dipertimbangkan secara seksama terkait tentang rencaba pernikahan yang akan sangat “subjektif” dan tergantung oleh keadaan setiap orang, terkait dengan pengalaman, pengetahuan, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, sosial-ekonomi, budaya, dan sebagainya.

Satu hal yang kiranya penting untuk digaris-bawahi, bahwa menikah itu memang pada hakikatnya memiliki banyal sekali manfaatnya, di antaranya yaitu: membuat hidup dan kehidupan ini lebih tenang dan berkualitas, memperoleh keturunan sebagai generasi penerus, dan sebagai sebuah wujud “ibadah”, karena menikah itu bagian dari ibadah. Janganlah mengambil keputusan untuk mengakhiri “masa lajang” dengan gegabah atau terburu-buru akibat adanya tekanan dari pihak keluarga dan lingkungan sekitar maupun gara-gara umur yang semakin “kritis” dan sebagainya demi mengejar status formalitas maupun strata belaka, karena hal tersebut nantinya justru akan memicu timbulnya berbagai macam efek negatif dalam pernikahan itu sendiri, seperti adanya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perselingkuhan, perzinahan, pelecehan maupun penyimpangan seksual, perceraian, serta hal-hal negatif lainnya yang tidak diinginkan.

Baca Juga Menarik :   TUNJUKAN KARYA-MU

( Prof. Dr. SUGENG TJAHJONO, ST, SH, MM, PhD – Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Dan Manajemen Kepelabuhanan (STIAMAK) Barunawati Surabaya ).

Share this
Continue Reading

Coretan Redaksi

Cerdas Dalam Menentukan Sikap Era  Media Sosial ( Medsos). Indikasi  Perguruan Tinggi ” Sakit “.?

lingkaran.net

Published

on

Bagi para calon mahasiswa yang hendak melanjutkan studinya hingga ke jenjang Perguruan Tinggi, hendaknya harus super ekstra, waspada dan berhati – hati dalam menentukan pilhan ,Janganlah mudah terkesimah oleh berbagai media yang mempromosikan merilis kampus dengan menampilkan aneka fasilitas yang cukup menarik mencari simpati perhatian publik.

 

Prof. Dr. Sugeng Tjahjono, ST, SH, MM, PhD

Memang, info yang diperoleh via medsos cetak atau on line tidak selamanya & tidak semuanya “seindah” fakta dan realita yang sesungguhnya di lapangan.

Bahkan tidak jarang hal itu ibarat “Fatamorgana” belaka. Apalagi di saat “musim” penerimaan mahasiswa baru.

Ada beberapa catatan penting yang terkait tentang Indikasi Perguruan Tinggi “Sakit”, yaitu:

  1. Pendapatan kampus yang tidak mencukupi untuk memenuhi biaya operasional sehari-hari.
  2. Rasio yang tidak ideal antara jumlah mahasiswa dan dosen.
  3. Izin Program Studi yang tidak rutin diperbarui.
  4. EPSBED (Evaluasi Program Studi Berbasis Evaluasi Diri) yang tidak rutin dilaporkan.
  5. Konflik internal kampus yang berkepanjangan dan tidak kunjung usai, yakni antara pihak yayasan atau perkumpulan dengan pihak rektorat atau pelaksana.
  6. Kepercayaan masyarakat terhadap kampus tersebut relatif tidak ada, sehingga jumlah mahasiswa yang mendaftar semakin lama, semakin menurun drastis.
  7. Lulusan kampus tersebut praktis tidak bisa terserap dengan baik di dunia kerja karena banyak perusahaan, dan instansi maupun institusi lainnya yang meragukan kompetensi & kualitas lulusan kampus tersebut.

Baca Juga : Insiden Kartu Kuning Di Universitas Indonesia, Saat Jokowi Hadiri Acara Dies Natalis Ke-68 UI

Demikianlah, sekelumit rangkuman yang diolah dari berbagai sumber yang terkait tentang Indikasi Perguruan Tinggi “Sakit”. Semoga bermanfaat bagi kita semua dalam rangka mencerdaskan anak bangsa. Aamiin.

Baca Juga Menarik :   Harga BBM Resmi Naik , Daftar Rincian Naik Per - 24 Maret 2018

( Prof. Dr. SUGENG TJAHJONO, ST, SH, MM, PhD – Pemerhati Dunia Pendidikan )

Share this
Continue Reading

PENGADUAN ONLINE

RUANG IKLAN ANDA

Arsip

Kategori

Trending

error: Content is protected !!