x lingkaran.net skyscraper
x lingkaran.net skyscraper

DPRD Jatim Kritisi Kebijakan Penghapusan Jurusan di SMA oleh Mendikbudristek, Begini Katanya

Avatar Redaksi

Umum

Surabaya, Lingkaran.net Anggota Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur, Mathur Husyairi, memberikan pandangannya terkait kebijakan Mendikbudristek yang menghapus jurusan IPA, IPS, dan Bahasa di tingkat SMA sederajat.

Kebijakan yang merupakan bagian dari perubahan kurikulum K-13 menjadi Merdeka Belajar ini, menurut Mathur, perlu ditinjau lebih dalam berdasarkan kondisi riil pendidikan di Indonesia, khususnya di Jawa Timur.

"Mendikbudristek kita ini pemikirannya jauh ke depan, mungkin terinspirasi oleh sistem pendidikan luar negeri. Namun, perubahan kurikulum yang cepat ini harus sesuai dengan fakta dan kondisi masyarakat kita," ujar Mathur, Jumat (19/7/2024).

Mathur menegaskan bahwa meskipun kebijakan ini memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih mata pelajaran sesuai bakat dan minat mereka, ada banyak hal yang harus dibenahi terlebih dahulu.

Politisi asal Madura ini pun mempertanyakan apakah pendidikan di Indonesia sudah memenuhi Standar Pelayanan Minimum (SPM).

"Saya pikir ini yang harus dibenahi terlebih dahulu. Jangan sampai kebijakan ini hanya berpihak pada sekolah-sekolah negeri di perkotaan. Bagaimana dengan sekolah negeri di pedesaan, apalagi yang swasta? Fasilitas, infrastruktur, dan kualitas SDM mereka sangat berbeda," katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya pembenahan dari tingkat dasar. "Pengarusutamaan pendidikan berbasis minat dan bakat seharusnya dimulai sejak Sekolah Dasar (SD). Jika dari hulunya belum dibenahi, kebijakan ini akan sulit diimplementasikan di tingkat SMA," lanjut Mathur.

Menurutnya, keselarasan antara SD, SMP, dan SMA sangat penting untuk memastikan kesiapan peserta didik dan sekolah dalam menghadapi perubahan kurikulum.

"Jika tidak searah dan linier, ini akan menjadi persoalan tersendiri nantinya terkait kesiapan peserta didik dan sekolah," tegasnya.

Mathur mengingatkan bahwa transformasi pendidikan harus menyeluruh dan merata, tidak hanya menguntungkan sebagian kecil sekolah yang sudah memiliki fasilitas memadai.

"Pemerataan akses dan kualitas pendidikan harus menjadi prioritas utama dalam kebijakan ini," pungkasnya.

Dengan dukungan dan penyesuaian yang tepat, harapan untuk melihat pendidikan Indonesia yang lebih inklusif dan merata bisa terwujud.

Kebijakan penghapusan jurusan di SMA ini bukan hanya tentang perubahan kurikulum, tetapi juga tentang menciptakan masa depan yang lebih baik bagi seluruh siswa di Indonesia. Alkalifi Abiyu

Artikel Terbaru
Jumat, 10 Apr 2026 16:22 WIB | Umum

4 Pegawai KPK Gadungan Ditangkap Usai Minta Uang ke DPR

Lingkaran.net - Tim gabungan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama Polda Metro Jaya mengamankan empat orang yang diduga melakukan penipuan dengan modus ...
Jumat, 10 Apr 2026 08:43 WIB | Umum

Khofifah Resmikan Gerha Majapahit BPBD Jatim, Siap Hadapi Ancaman Godzilla El Nino

Lingkaran.net - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meresmikan Gedung Gerha Majapahit dan Gedung Olahraga Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) ...
Kamis, 09 Apr 2026 23:25 WIB | Politik & Pemerintahan

Gebrakan Bupati Bojonegoro: Perjalanan Dinas Dipangkas Separoh, ASN Disuruh Gowes

Lingkaran.net - Bupati Bojonegoro Setyo Wahono resmi menerbitkan Surat Edaran Nomor : 050/481/ 412.022/ 2026 tentang Pelaksanaan Efisiensi Anggaran di ...