Cap Go Meh Merupakan Bagian Dari Kebudayaan Indonesia Yang Beraneka Ragam

JAKARTA, lingkaran.net – Cap Go Meh merupakan bagian dari kebudayaan Indonesia yang beraneka ragam. Cap Go Meh, juga disebut Yuan Xiaojie, Yuanxi, Yuanye atau Shang Yuanjie dalam bahasa Mandarin, merupakan puncak acara perayaan Tahun Baru Tionghoa (Tahun Baru Imlek).

 

Cap Go Meh secara bahasa berasal dari kata Cap = Sepuluh, Go = Lima, dan Meh = Malam, secara harafiah Cap Go Meh bermakna “hari kelima belas dari bulan pertama (Lunar New Year)”. Cap Go Meh juga menandakan hari terakhir dan puncak dari masa perayaan Imlek yang telah berlangsung selama lima belas hari.

Soal asal mula Cap Go Meh terdapat banyak versi cerita. Namun pada intinya perayaan ini bertujuan untuk mengungkapkan syukur kepada Tuhan dan menumbuhkan hubungan positif antara manusia, hewan, tumbuhan, lingkungan sekitar, dan dewa dewi.

Karnaval Budaya Nusantara Cap Go Meh Glodok 2018 pada hari Minggu 4 Maret 2018 ini diselenggarakan di Glodok, Jakarta Barat. Karnaval berlangsung di jalan Hayam Wuruk dan Gajah Mada, yang telah ditutup untuk waktu tertentu bagi kendaraan umum selain peserta karnaval. Peserta karnaval berasal dari bermacam-macam komunitas, suku, adat istiadat, dan agama.

 

Karnaval tersebut menampilkan ragam budaya nusantara yang terdiri dari:

  1. Pasukan Brigade Motor POM TNI
    2. Korps Polisi Berkuda (Datasemen Turangga)
    3. Marching Band Remaja Masjid Istiqlal
    4. Paskibraka dengan Bendera Merah Putih Raksasa
    5. Komunitas Sepeda Onthel
    6. Barongsai dan Liong
    7. Tari Kabasaran Bapontar
    8. Joli (tandu yang membawa dewa dan dewi yang diarak)
    9. Reog Ponorogo
    10. Mobil hias kesatu (tema Cap Go Meh)
    11. Tari Papua
    12. Gemu famire
    13. Tatung
    14. Tim Kesenian Betawi : Palang Pintu, Ondel-Ondel dan Tanjidor
    15. Mobil Hias kedua (Tema Jakarta dengan Abang None Jakarta)
    16. Gondang Batak plus mobil
    17. Mobil hias ketiga (Koko Cici Jakarta)
    18. Sisingaan
    19. Engrang
    20. Marching Band

Iringan joli dari berbagai vihara yang dihias dengan bunga, tumbuhan, dan pita yang menjadi bagian penting dalam kebudayaan Tionghoa. Ada joli yang diangkat oleh dua orang saja, ada juga yang sampai enam orang karena berat dan besar. Ada joli yang tampak bergoyang-goyang. Menurut kepercayaan mereka, joli yang bergoyang-goyang selama diarak adalah pertanda bahwa dewa yang berada di dalam patung ikut bergembira bersama mereka. Banyak warga yang sengaja datang untuk memberi angpau dan berdoa kepada patung-patung dewa yang lewat dalam karnaval supaya diberi keberkahan. (Ingka)

 

Paskibraka

Polisi Berkuda
Reog

 

Mobil Hias Kapal

 

ondel-ondel

 

mobil hias kapal betawi

 

mobil hias koko cici

 

drum

 

marching band

 

marching band

 

liong

 

tandu goyang

 

joli hias bunga

 

patung dewa tiang

 

angpau patung

 

polisi berkuda

 

debus

 

dua patung

 

joli miniatur vihara

 

liong

 

barongsai makan angpau

 

barongsai kilin

Leave a Reply

Your email address will not be published.

14 − 7 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.