Connect with us

HUKRIM

Lewat “Undercover”, Ditkrimsus Polda Jatim Bongkar Praktik Aborsi dan Amankan Pelakunya

Herman Firmansyah

Published

on

Ditreskrimsus Polda Jatim melalui Wadirreskrimsus Polda Jatim AKB Arman Asmara beserta anggota nya menunjukkan tersangka Pelaku Aborsi beserta barang buktinya saat Konferensi Pers di Mapolda Jatim (25/6).

Surabaya, Lingkaran.net- Bertempat di Depan Kantor Ditkrimsus Polda Jatim WadirKrimsus AKBP Arman Asmara, S.I.K., S.H., M.H didampingi Kanit III Subdit IV Ditkrimsus menggelar konferensi pers terkait kasus Praktik Aborsi, Selasa (25/6/2019) Pukul 10.00 WIB.

Menurut WadirKrimsus AKBP Arman Asmara mengatakan berdasarkan Laporan Polisi Nomor: LP.A/29/IV/KES.15/2019/SUS/JATIM tanggal 8 April 2019, dan Laporan Polisi Nomor : LP.A/31/IV/KES.15/2019/SUS/JATIM tanggal 10 April 2019 tim Krimsus segera bergerak dan bertindak mengungkap kasus tersebut.

“Mendengar adanya informasi keberadaan tersangka, Akhirnya Pihak kami segera melakukan pengintaian di Hotel Surabaya yang terletak di Jalan Raya Diponegoro Nomor 215 Surabaya. Dari dalam Hotel tersebut tim kami melakukan penyergapan dan menangkap terhadap 7 orang yang diduga tersangka dalam kasus aborsi ini,” Tandas Wadirkrimsus Polda Jatim AKBP Arman Asmara.

Ketujuh orang tersebut adalah LWP (28)
Jenis kelamin Perempuan, Alamat Jalan Maspati 5, Kecamatan BubutanKota Surabaya, inisal TS (30) Perempuan, Dsn. Juron Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah, MSA (32) Laki-laki, Alamat Bulak Setro Surabaya, inisial RMS (26) Perempuan yang beralamat di Jalan Pulo Tegalsari Wonokromo Kota Surabaya, MB (34) Laki-laki pekerjaan swasta, Alamat Jalan Tambak Pring Timur, Asemrowo Kota Surabaya, VN (26) Perempuan, Alamat Jalan Siwalankerto Utara 48 Wonocolo Kota Surabaya dan yang terakhir adalah FTA (32) Perempuan, Pekerjaan Apoteker
yang beralamat di Jalan Tawangsari Barat RT 19/RW 04 Kecamatan Taman Kabupaten Sidoarjo.

Dalam keterangannya AKBP Arman Asmara menjelaskan, bahwa tersangka LWP telah melakukan praktik aborsi tidak sesuai dengan ketentuan undang-undang dan telah bertindak dengan melawan hukum sebagai seseorang yang bukan tenaga kesehatan telah melakukan praktik seolah-olah sebagai tenaga kesehatan yang telah memiliki izin.

Ketujuh pelaku sementara yang diduga melakukan praktik aborsi saat digelandang petugas dalam Konferensi Pers.

“Dalam melaksanakan praktik aborsi yang berlangsung selama 1 Tahun (2018-2019) tersebut, tersangka LWP dibantu oleh tersangka MB selaku suplier obat, tersangka VN selaku suplier obat, tersangka FTA selaku suplier obat, tersangka MSA selaku pemberi/penyuplai dana, tersangka RMS selaku pembantu pelaksanaan aborsi, tersangka TS dan 11 (sebelas) wanita lainnya selaku penggugur kandungan. Sarana yang digunakan oleh tersangka LWP untuk melakukan aborsi yaitu Chromalux Misoprostol tablet 200 Mcg, Cytotec Misoprostol tablet 200 µg, dan Invitec Misoprostol tablet 200 Mcg,” Jelasnya.

Lebih lanjut Wadir Krimsus mengatakan, Bahwasanya Kronologis Kejadian yakni
Pada hari-hari di awal bulan Maret 2019 Petugas Unit III Subdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim mendapat Informasi tentang adanya praktik aborsi tidak sesuai dengan ketentuan undang-undang dan seorang yang bukan tenaga kesehatan telah melakukan praktik seolah-olah sebagai tenaga kesehatan yang telah memiliki izin yang terjadi wilayah hukum Kota Surabaya.

“Setelah itu, setelah melalui rangkaian proses penyelidikan sebelumnya, selanjutnya pada hari Senin tanggal 8 April 2019 sekitar pukul 15.30 WIB petugas melakukan kegiatan “Undercover”untuk mengungkap praktik aborsi tersebut dan akhirnya melakukan penggeledahan di kamar 1120 Hotel yang beralamat Jalan Raya Diponegoro Surabaya dan didalam kamar tersebut telah ditemukan adanya kegiatan praktik tanpa izin seolah-olah sebagai tenaga kesehatan beserta barang buktinya yang dilakukan oleh tersangka LWP,” Jelasnya.

Selanjutnya terhadap tersangka LWP tersebut dilakukan penangkapan dan penyitaan terhadap barang bukti yang ditemukan di TKP serta terhadap tersangka LWP tersebut selanjutnya oleh petugas dibawa ke kantor Unit III Subdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim untuk dilakukan pemeriksaan secara intensif guna kepentingan penyidikan lebih lanjut.

Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap Tersangka LWP beserta alat bukti yang sudah didapat, kemudian petugas Unit III Subdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim melakukan pengembangan dan berhasil menangkap tersangka lainnya yaitu tersangka MSA dan tersangka RMS yang telah membantu tersangka TS yang menggugurkan kandungannya dengan bantuan tersangka LWP. Dari hasil penangkapan tersangka TS dkk tersebut, selanjutnya petugas Unit III Subdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim mengembangkan kasus tersebut untuk mengetahui jalur peredaran obat keras yang digunakan sebagai obat aborsi, yang kemudian pada hari Kamis dan Jumat tanggal 2 dan 3 Mei 2019 berhasil ditangkap tersangka lainnya yaitu tersangka MB, tersangka VN dan tersangka FTA yang berperan menyuplai obat keras (Chromalux Misoprostol tablet 200 mcg) yang digunakan oleh tersangka LWP melakukan praktik aborsi dan menggugurkan kandungan tersangka TS.

“Bahwa Chromalux Misoprostol tablet 200 Mcg, Cytotec Misoprostol tablet 200 µg dan Invitec Misoprostol tablet 200 Mcg adalah kategori obat keras yang tidak bisa dijual bebas untuk umum dan perolehannya hanya dapat dilakukan dengan menggunakan resep dokter. Beberapa sediaan farmasi/obat dengan merk dagang yang komposisinya berisi dan mengandung Misoprostol, sebenarnya adalah obat untuk tukak lambung, tapi mempunyai efek samping melebarkan pembuluh darah (vasodilatasi) dan meningkatkan kontraksi rahim (uterus), biasanya efek samping inilah yang dipakai oleh pelaku melakukan praktik aborsi,” Kata AKBP Arman Asmara.

Barang Bukti yang berhasil kami amankan adalah 1 (satu) unit HP merk Iphone model MQ8F2CH/A, MEID 35671008313689;
1 (satu) unit HP merk Xiaomi, IMEI 1 : 867143032086654, IMEI 2 : 867143033086653; 1 (satu) buah kotak kemasan obat Chromalux tablet Misoprostol 200 mcg produksi Pharos – Jakarta, 1 (satu) strip obat Chromalux tablet Misoprostol 200 mcg PT. Pharos – Jakarta berisi 10 butir, Kemudian 1 (satu) strip obat Chromalux tablet Misoprostol 200 mcg PT. Pharos – Jakarta berisi 9 butir, dua butir obat jenis Cytotec Misoprostol 200 µg produksi PT. Ethica Jakarta, Lalu 2 (dua) butir obat jenis Invitec Misoprostol tablet 200 mcg, produksi PT. Dankos Jakarta; 1(satu) botol larutan infus, PT. Widatra Bhakti No.Reg: GKL9230500449A1, Ringer Lactate serta selang infus;
1 (satu) bungkus tisu basah merk Sweety Baby Wipes produksi PT. Asia Pasific Fortuna Sari Tangerang Indonesia; 1 (satu) bungkus tisu kering merk Paseo Luxuriously Soft produksi PT. The Univenus Serang Indonesia;
1 (satu) lembar informasi produk chromalux tablet yang dikeluarkan oleh Pharos – Jakarta, meliputi penjelasan tentang compotitions, clinical pharmacology, indication and usage, contraindications, adverse reaction, overdosage, dosage an administration, storage, how supplied, kemudian 1 (satu) box hand scone M Ambidextrous powdered Latex PD Gloves diproduksi oleh Top Glove SDN.BHD., Malaysia, 1 (satu) satu lembar resep obat dari Rumah Sakit Rahman Rahim, 1 (satu) satu lembar resep obat dari Rumah Sakit Rahman Rahim dalam keadaan kosong, 1 (satu) satu buah tas merk Hermes warna hitam, 1 (satu) satu buah tas merk Fendi Roma warna kuning kunyit, tiga belas lembar screenshot percakapan antara tersangka terkait aborsi melalui aplikasi Whatsapp dan masih banyak bukti lainnya.

“Terhadap para pelaku akan kami jerat menggunakan Pasal Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan, Pasal 83 bahwa setiap orang yang bukan tenaga kesehatan melakukan praktik seolah-olah sebagai tenaga kesehatan yang telah memiliki izin sebagaimana dimaksud pada Pasal 64 dipidana penjara paling lama 5 (lima) tahun, Pasal 64
Setiap orang yang bukan tenaga kesehatan dilarang melakukan praktik seolah-olah sebagai tenaga kesehatan yang telah memiliki izin. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, Pasal 194
Setiap orang yang dengan sengaja melakukan aborsi tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp. 1 Miliar,” Pungkasnya. (Fir)

Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply


PENGADUAN ONLINE


: [email protected]

: 0821 3963 6484
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com