Connect with us

NASIONAL

Pelepasan 6 Satwa Komodo Hasil Perdagangan Satwa Ilegal di Provinsi Jatim

Avatar

Published

on

Dirjen KSDAE kementerian LHK, Ir. Wiratno, M. Sc didampingi Drh. Indra Exploitasia, MSi, Direktur KKH, Kepala Balai Besar KSDA Jatim, Dr. Nandang Prihadi, S. Hut, M. Sc dan Ir. Timbul Batubara, MSi, Kepala Balai Besar KSDA NTT saat acara Konferensi Pers terkait pelepasan 6 Komodo ke Habitatnya.

Sidoarjo, Lingkaran.net- Biawak komodo (Varanus komodoensis) merupakan spesies yang rentan terhadap kepunahan dan dikatagorikan sebagai spesies rentan dalam daftar IUCN Red List. Populasi komodo terbatas menyebar di pulau-pulau Rinca, Gili Motang, Gili Dasami, Komodo, dan daratan Flores.

Meski demikian, ada keprihatinan mengenai populasi ini karena semakin tingginya gangguan terhadap spesies langka dan asli Indonesia ini, salah satunya adalah perdagangan satwa Komodo ke Luar Negeri secara ilegal.
Pencegahan perdagangan ilegal Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) sudah menjadi komitmen bersama dalam rangka menjaga kelestarian populasinya. Komitmen bersama dalam rangka pencegahan perdagangan ilegal TSL dibuktikan dengan berhasilnya Polda Jawa Timur (Jatim) dalam mengungkap sindikat perdagangan ilegal satwa liar jenis Komodo.

Pada awal tahun 2019, bulan Februari, Mabes Polri (Bareskrim) berhasil mengungkap perdagangan satwa liar yang salah satunya berjenis Komodo sebanyak 1 ekor sebagai barang bukti. Masih dibulan Februari 2019, Polda Jawa Timur (Ditreskrimsus) kembali menangkap dan mengungkap sindikit perdagangan ilegal satwa dilindungi yang salah satunya juga berjenis komodo dengan jumlah barang bukti komodo sebanyak 4 ekor. Kembali, Polda Jawa Timur, pada bulan Maret 2019, tim Ditreskrimsus kembali menggagalkan tindak pidana yang sama dengan salah satu barang bukti 1 ekor komodo .

Kementerian LHK melalui Ditjend KSDAE menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada para pihak atas keberhasilannya dalam mengungkap sindikat perdagangan ilegal TSL di Provinsi Jawa Timur.

Penyampaian piagam penghargaan disampaikan oleh Dirjen KSDAE Kementerian LHK Ir. Wiratno, M.Sc pada tanggal 24 Mei 2019 yang dikemas dalam acara berbuka puasa.

Saat ini ada 6 ekor komodo dalam kondisi sehat dan berada di kandang transit Balai Besar KSDA Jawa Timur, sedangkan perkembangan proses hukum tindak pidana perdagangan ilegal TSL tersebut sudah dalam tahap persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

Upaya penanganan satwa komodo yang diperdagangkan secara ilegal ini dilaksanakan oleh Kementerian LHK dalam hal ini Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, Balai Besar KSDA Jawa Timur, Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur dan Balai Taman Nasional Komodo.

Dalam Konferensi Pers nya yang bertempat di Kantor Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (BKSDAE) Jalan Bandara Juanda Surabaya yang dihadiri langsung Dirjen KSDAE Kementrian LHK Ir. Wiratno, M. Sc, Direktur KKH, Drh. Indra Exploitasia, M. Si, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Dr. Nandang Prihadi, S. Hut, M. Sc, Kepala Balai Besar KSDA NTT, Ir. Timbul Batubara, M. Si, Dr. Linda dan jajaran pejabat serta pegawai BBKSDA Jawa Timur, Jum’at (12/7/2019) Pukul 20.00 WIB.

Dirjen KSDAE Kementerian LHK Ir. Wiratno, M.Sc mengatakan, bahwa pelepasliaran satwa komodo ke habitatnya merupakan prioritas utama, langkah awal yang dilakukan adalah melakukan uji DNA yang bertujuan untuk mengetahui asal usul satwa Komodo (Varanus komodoensis) tersebut. ” Uji DNA dilaksanakan oleh Laboratorium Genetika Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi – LIPI. Uji DNA tersebut dilakukan melalui pembandingan antara DNA sampel darah dari 6 (enam) ekor Komodo yang merupakan barang bukti tindak pidana perdagangan satwa liar secara ilegal, dengan 8 (delapan) haplotipe Control Region (CR) 1 yang telah diketahui berdasarkan hasil penelitian LIPI sebelumnya. Ke–enam sampel darah Komodo yang diujikan tersebut mempunyai haplotipe yang khas di populasi Flores Utara, dengan jumlah 88% dari sampel populasi penelitian sebelumnya. Rencananya Ke enam Komodo ini akan diterbangkan lewat Bandara Juanda Surabaya menuju habitat aslinya malam ini,” Ungkapnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa Haplotipe tersebut juga ditemukan di Flores Barat, namun hanya dalam jumlah yang sangat kecil (<2,5 % dari sampel populasi pada penelitian sebelumnya). Hasil uji DNA tersebut juga menunjukkan bahwa ke-enam ekor Komodo tersebut berjenis kelamin betina.Berdasarkan hasil uji DNA yang dilakukan oleh LIPI tersebut dapat disimpulkan bahwa ke-enam ekor Komodo yang dipergadangkan secara ilegal tersebut merupakan jenis yang berasal dari Flores Utara, dan bukan dari kawasan Taman Nasional Komodo. "Perlu diketahui bahwa secara alami satwa Komodo menyebar di kawasan Taman Nasional Komodo dan di daratan Flores. Berdasarkan hasil monitoring tahun 2018, di kawasan Taman Nasional Komodo diperkirakan terdapat 2.897 ekor komodo yang tersebar di lima pulau besar yakni Pulau Komodo (1.727 ekor), Pulau Rinca (1.049 ekor), Pulau Padar (6 ekor), Pulau Gilimotang (58 ekor) dan Pulau Nusa Kode (57 ekor). Sedangkan berdasarkan pengamatan dengan menggunakan camera trap yang dilakukan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam NTT di daratan Flores didapatkan hasil sebagai berikut; di CA Wae Wuul terdapat 4-14 ekor (2013 s/d 2018); Pulau Ontoloe (TWA Riung 17 Pulau) 2-6 ekor (2016 s/d 2018); Hutan Lindung Pota 6 ekor (2016 s/d 2018); dan Pulau Longos 11 ekor (2016)," Jelasnya. [caption id="attachment_31239" align="alignnone" width="300"] Dirjen KSDAE kementerian LHK, Ir. Wiratno, MSc saat menjelaskan kepada rekan-rekan wartawan. [/caption]

Prosedur pelepasliaran Komodo yang telah dilaksanakan adalah Persetujuan pelepasliaran komodo dari Dirjen KSDAE dengan surat Nomor S.301/KSDAE/KKH/KSA-2/4/2019 tanggal 24 April 2019. Dalam surat tersebut Dirjen KSDAE memberikan persetujuan satwa komodo hasil perdagangan ilegal di Provinsi Jawa Timur untuk dilepasliarkan, hal ini sesuai dengan PP 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis TSL pasal 19 ayat 2, bahwa penyelamatan jenis TSL antara lain dapat dilakukan dengan pengembalian ke habitatnya.

“Lokasi pengembalian ke habitat/ pelepasliaran satwa komodo mengacu pada hasil uji DNA yang telah dilakukan oleh Laboratorium Genetika Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi – LIPI. Lokasi habituasi dan pelepasliaran direncanakan di Pulau Ontoloe, Kab. Ngada, Flores NTT (habituasi selama ±1 minggu),” Ucapnya.

Nantinya akan dilaksanakan oleh BBKSDA NTT bekerjasama dengan Yayasan Komodo Survival Program (KSP), progres persiapan sampai dengan 16 Juni 2019 yaitu pembuatan kandang sementara (kandang habituasi) ukuran 8×8 meter di Pulau Ontoloe.

“Majelis Hakim PN Surabaya telah mengeluarkan ijin kepada BBKSDA Jatim untuk melepasliarkan 6 (enam) ekor komodo ke habitatnya (Surat Penetapan Nomor 1261 dan 1267 tanggal 12 Juni 2019 dan Nomor 1593 tanggal 13 Juni 2019).
Dalam proses pengiriman satwa komodo dari surabaya menuju Nusa Tenggara Timur menggunakan dokumen SATS-DN,” Bebernya.

Lebih lanjut pihaknya mengatakan, bahwa BBKSDA Jawa Timur telah menyiapkan kandang angkut dan telah dipasang Tagging serta Chip pada keenam satwa komodo.

Menurut Dr. Linda mengatakan bahwa pemasangan Chip bertujuan apabila Komodo yang dilepas nantinya apabila dicuri lagi oleh pihak yang ingin mencuri bisa terdeteksi keberadaan komodo tersebut.
Pemeriksaan kesehatan satwa oleh Karantina Hewan.

“Tahapan prosedur pelepasliaran tersebut telah seluruhnya dilaksanakan, sehingga pada hari ini, Tanggal 12 Juli 2019 pemberangkatan ke-enam satwa komodo hasil perdagangan ilegal dapat kita laksanakan dan akan kita kawal sampai lokasi,” Tandas Dr. Linda.

Sedangkan Kepala Balai Besar KSDA Jatim, Dr. Nandang Prihadi, S. Hut, M. Sc mengatakan, bahwa Ke enam satwa Komodo sampai dengan saat ini dalam kondisi sehat dan akan diberangkatkan pada tanggal 13 Juli 2019 dari Bandara Juanda Menuju Pulau Ontoloe TWA 17 Riung, Kabupaten Ngada Nusa Tenggara Timur. Dalam perjalanan relokasi ke enam satwa komodo tersebut didampingi oleh personil Polhut Balai Besar KSDA Jawa Timur, Dokter Hewan dan personil dari Komodo Survival Program (KSP).

“Jangan pernah surut memerangi perdagangan ilegal Tumbuhan dan Satwa Liar, Jawa Timur Luar Biasa.
Kelestarian dan Konservasi Tumbuhan dan Satwa menjadi tanggungjawab bersama,” Pungkasnya. (Fir)

Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply


PENGADUAN ONLINE


: aduan@lingkaran.net

: 0821 3963 6484
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com