Perjanjian di Ingkari, Sriwahyuni Menuntut Keadilan

Banyuwangi, lingkaran.net-Kasus dugaan pemalsuan data salah satu sertifikat dari program PTSL di Desa Sambimulyo terus bergulir.

Sriwahyuni sebagai pihak yang di rugikan merasa tidak terima dengan perjanjian yang dulu di sepakati waktu jual beli tanah miliknya dengan Heru Triono yang merupakan pembeli tanah.
Dalam perjanjian lisan saat itu di sepakati bahwa Sriwahyuni mau menerima uang pengembalian pembelian tanah yang telah di beli Sriwahyuni 9 tahun lalu (2007-2016) dari Yuyun dengan janji bahwa Sriwahyuni boleh menggarap tanah sampai 20 tahun.

Sriwahyuni (kiri) di dampingi Rocky J sapulette
“Setelah 3 tahun menggarap lahan, pada tahun ke 3 (2019) lahan yang saya tanami jeruk itu mau saya sewakan, pada saat itu saya mendapat info bahwa tanah tersebut telah di sertifikat oleh Heru, dan sertifikat tersebut juga atas nama Heru. Karena merasa telah mempunyai sertifikat dari tanah tersebut, Heru menghalangi rencana saya yang akan menyewakan lahan berisi tanaman jeruk tersebut. Bahkan Heru menyuruh saya untuk mencabuti tanaman jeruk saya”, ungkap Sriwahyuni.
Dengan di ingkarinya kesepakatan oleh Heru Triono, Sriwahyuni menguasakan pendampingan terkait masalah ini pada Rocky J Sapulette dari BP3RI (Badan Pemantau Penyelenggara Pemerintahan Republik Indonesia).
“Karena Heru mengingkari janjinya, saya meuntut keadilan, saya berharap keadilan itu masih ada”, imbuh Sriwahyuni.
Menyikapi hal ini selanjutnya Rocky sebagai pendamping mengajukan rapat mediasi kepada pemerintahan desa Sambimulyo dengan menghadirkan pihak pihak terkait yang rencanya akan di laksanakan hari ini, selasa pukul 10.00 wib di Kantor desa Sambimulyo.(28/07/2020).
“Tujuan mediasi ini pihak kami (Sriwahyuni) ingin memastikan apakah benar pada tahun 2007 Yuyun telah menjual tanah waris miliknya pada Sriwahyuni”, papar Rocky.
Sampai saat berita ini di buat, belum ada pihak Heru maupun Yuyun yang bisa di konfirmasi, rapat mediasi juga belum bisa di gelar, karena ada beberapa pihak belum hadir.(LNBwi)