Profil

Jejak Karier Hendra Arifianto, Alumni FKG Unair yang Kini Pimpin Biddokkes Polda Jateng

lingkaran.net
Dr. drg. Ign Hendra Arifianto, Sp.KG. (Foto: Ist)

Lingkaran.net – Perjalanan karier Dr. drg. Ign Hendra Arifianto, Sp.KG, menunjukkan bahwa keahlian profesional, integritas, dan kemampuan kepemimpinan dapat berjalan beriringan dalam pengabdian kepada masyarakat. 

Lulusan Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis (PPDGS) Konservasi Gigi Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga (Unair) angkatan 2008 ini kini dipercaya menjabat Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Kabiddokkes) Polda Jawa Tengah.

Sebelum menduduki jabatan tersebut pada 2026, Hendra memiliki pengalaman panjang di lingkungan Kepolisian. Ia pernah menjabat Direktur RS Bhayangkara Manado pada 2013–2018, kemudian Direktur RS Bhayangkara Pusdik Sabhara Porong, Sidoarjo, pada 2018–2021. Pada 2023–2026, ia dipercaya menjadi Kabiddokkes Polda Sulawesi Tenggara sebelum melanjutkan pengabdiannya di Polda Jawa Tengah.

Di balik perjalanan karier tersebut, pendidikan spesialis konservasi gigi di FKG Unair menjadi salah satu fondasi penting yang membentuk profesionalitasnya. Hendra menilai bidang konservasi gigi memiliki peran strategis karena berfokus pada upaya mempertahankan gigi alami pasien selama mungkin.

Ketertarikannya terhadap bidang ini tumbuh sejak menempuh pendidikan sarjana kedokteran gigi. Menurut dia, tingginya prevalensi karies atau gigi berlubang di Indonesia, yang disebutnya mencapai 82,8 persen, berbanding terbalik dengan cakupan penanganan yang baru 11,2 persen.

Kondisi tersebut semakin terasa ketika ia memulai karier sebagai dokter gigi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Saat itu, ketersediaan dokter gigi spesialis konservasi masih sangat terbatas.

“Menurut saya sebagai praktisi, hal ini merupakan peluang sekaligus tantangan yang baik bagi kemajuan karier saya,” ungkap Hendra, Sabtu (10/10/2026).

Ia memilih FKG Unair karena reputasi dan prestasinya dalam pengembangan pendidikan kedokteran di Indonesia. Departemen Konservasi Gigi FKG Unair juga dinilainya memiliki tenaga pengajar dengan kualifikasi yang mumpuni.

Pendidikan yang Membentuk Integritas

Hendra menyelesaikan pendidikan spesialis konservasi gigi pada 2011 setelah menjalani pendidikan selama enam semester. Ia mengenang proses pendidikan di FKG Unair sebagai pengalaman yang tidak hanya memperkuat kemampuan klinis, tetapi juga membangun hubungan profesional dan kekeluargaan.

Menurut dia, sistem pendidikan yang terstruktur, tenaga pendidik profesional, serta lingkungan belajar yang hangat menjadi pengalaman berharga. Ikatan antara dosen dan mahasiswa maupun sesama peserta pendidikan dokter gigi spesialis (PPDGS) bahkan tetap terjaga setelah mereka lulus dan berkarier.

Dua sosok dosen yang memberikan pengaruh besar dalam perjalanannya adalah drg. Karlina Samadi, MS., Sp.KG(K) dan drg. Cecilia G.J.L., M.Kes., Sp.KG(K). Ia menilai keduanya sebagai figur inspiratif selama menempuh pendidikan spesialis.

Lebih dari keterampilan klinis, Hendra membawa nilai integritas, etika, dan kekeluargaan yang ditanamkan selama pendidikan ke dalam perjalanan profesionalnya, termasuk saat berkarier di Kepolisian.

“Menjadi spesialis Konservasi Gigi merupakan salah satu jalan dari Tuhan untuk mengantarkan saya hingga seperti sekarang ini,” tuturnya.

Mempertahankan Gigi Alami di Era Teknologi

Bagi Hendra, konservasi gigi bukan sekadar tindakan medis untuk memperbaiki kerusakan gigi. Bidang ini berperan menjaga fungsi kunyah, estetika, dan kesehatan rongga mulut secara keseluruhan.

Mempertahankan gigi alami juga memberikan kenyamanan psikologis bagi pasien. Ia menilai pasien cenderung merasa lebih nyaman menggunakan gigi aslinya dibandingkan gigi tiruan, selama kondisi klinis memungkinkan gigi tersebut dipertahankan.

Sejak lulus pada 2011, ia menyaksikan perkembangan teknologi konservasi gigi yang semakin pesat. Penggunaan mikroskop dental, teknologi CAD/CAM, cone beam computed tomography (CBCT), pemindai intraoral, hingga kecerdasan buatan (AI) telah memperluas kemampuan dokter dalam melakukan perawatan secara lebih minimal invasif dan akurat.

Perkembangan biomaterial juga memungkinkan hasil perawatan yang semakin baik, termasuk dari sisi estetika.

Namun, kemajuan teknologi tersebut menghadirkan tantangan tersendiri. Dokter gigi dituntut terus memperbarui kompetensi, sementara fasilitas pelayanan kesehatan harus menghadapi kebutuhan investasi yang tinggi.

Selain itu, perkembangan media sosial turut memunculkan tantangan terkait publikasi dugaan malpraktik, promosi layanan kesehatan, serta persoalan etika dan hukum dalam praktik kedokteran gigi.

Karena itu, Hendra menilai pengembangan kompetensi harus berjalan seiring dengan pemahaman etika profesi dan tanggung jawab hukum.

Perspektif Pelayanan Kesehatan Gigi di Kepolisian

Pengalaman Hendra di berbagai rumah sakit Bhayangkara dan jabatan Kabiddokkes memberinya perspektif mengenai kebutuhan pelayanan kesehatan gigi di lingkungan Polri.

Ia menyoroti masih terbatasnya jumlah dokter gigi spesialis konservasi yang berstatus personel organik Polri maupun pegawai negeri pada Polri (PNPP). Jumlah tersebut, menurut dia, belum sebanding dengan banyaknya fasilitas kesehatan yang dimiliki Polri.

Kebutuhan dokter spesialis konservasi gigi juga meningkat seiring ketentuan pelayanan BPJS Kesehatan yang mengarahkan rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjutan untuk kasus-kasus spesialistik. Akibatnya, masih terdapat rumah sakit Bhayangkara yang belum memiliki dokter gigi spesialis konservasi.

Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah dalam pengembangan pelayanan kesehatan gigi, baik melalui pemenuhan tenaga spesialis maupun peningkatan kapasitas fasilitas kesehatan.

Menurut Hendra, kemampuan klinis saja tidak cukup untuk menjawab kebutuhan tersebut. Seorang dokter spesialis juga perlu memiliki kompetensi manajerial dan kepemimpinan agar mampu mengelola sumber daya secara efektif, baik dalam praktik mandiri maupun organisasi pelayanan kesehatan berskala besar.

Jaga Mutu Pendidikan dan Pengabdian

Hendra memandang alumni konservasi gigi Unair memiliki peran strategis dalam perkembangan pelayanan dan pendidikan kedokteran gigi di Indonesia. Sejumlah alumni, menurut dia, telah menduduki posisi penting, mulai dari dekan, direktur rumah sakit, pengurus organisasi profesi, hingga pejabat di lingkungan TNI dan Polri.

Ke depan, ia berharap pendidikan spesialis konservasi gigi di Unair terus beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pembaruan sistem pendidikan serta peningkatan sarana dan prasarana dinilai penting agar lulusan tetap kompetitif dan mampu menjawab kebutuhan pasien.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga standar keilmuan, integritas, serta mutu pelayanan kepada masyarakat. Bagi Hendra, nilai Excellence with Morality harus menjadi pegangan dalam menjalankan profesi sekaligus menjaga nama baik almamater.

Pengalaman panjangnya membuat ia menyadari bahwa pendidikan merupakan proses yang harus dimanfaatkan secara maksimal. Jika dapat kembali ke masa menjadi peserta PPDGS, ia ingin memperdalam literatur, menangani lebih banyak kasus klinis termasuk kasus sulit, serta memperluas pengalaman organisasi dan jejaring lintas keilmuan.

Pesan itu pula yang ia sampaikan kepada peserta pendidikan spesialis saat ini. Ia mendorong mereka untuk belajar sungguh-sungguh, tidak takut melakukan kesalahan selama proses pembelajaran, serta membangun hubungan baik dengan dosen dan sesama peserta didik.

Menurut dia, teman seangkatan dapat menjadi tempat berdiskusi ketika menghadapi kasus sulit setelah terjun ke dunia kerja.

Profesi sebagai Amanah Pengabdian

Bagi Hendra, makna menjadi dokter gigi spesialis konservasi tidak berhenti pada keberhasilan tindakan medis. Kebahagiaan pasien yang kembali dapat menikmati fungsi gigi dan memperoleh kepercayaan diri menjadi salah satu kepuasan terbesar dalam profesinya.

Sementara itu, kariernya di kepolisian memberinya ruang pengabdian yang lebih luas melalui pengelolaan pelayanan kedokteran dan kesehatan.

Ia memandang profesi sebagai dokter sekaligus anggota Polri bukan sekadar pekerjaan, melainkan amanah untuk melayani masyarakat. Prinsip tersebut menjadi landasan dalam menjalani setiap tahapan kariernya hingga dipercaya memimpin bidang kedokteran dan kesehatan di Polda Jawa Tengah.

“Seorang polisi adalah pelindung, pelayan, dan pengayom bagi masyarakat. Bagi saya pribadi, profesi ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan sebuah amanah, seni, dan bentuk pengabdian tanpa henti kepada masyarakat,” pungkasnya.

Editor : Zaki Zubaidi

Politik & Pemerintahan
Berita Populer
Berita Terbaru