Lingkaran.net - Potensi banjir rob kembali mengintai wilayah pesisir Surabaya seiring prediksi pasang air laut tinggi pada akhir September.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tanjung Perak Surabaya memprediksi adanya periode pasang yang perlu diwaspadai masyarakat.
Baca juga: 20 Tahun Lumpur Lapindo, ITS Bikin AI untuk Deteksi Risiko Tanggul
Pakar mitigasi bencana banjir Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr Umboro Lasminto ST MSc mengatakan, ketinggian air pasang menjadi salah satu indikator penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi banjir rob.
Menurut Umboro, masyarakat perlu mencermati informasi prediksi pasang yang dikeluarkan BMKG maupun sumber resmi lainnya.
Berdasarkan pengamatan terhadap kejadian sebelumnya, pasang dengan ketinggian di atas 2,4 meter perlu mendapat perhatian lebih karena berpotensi memicu banjir rob.
“Dari hasil pengamatan yang pernah terjadi sebelumnya, apabila puncak pasang di atas 2,4 meter maka perlu diwaspadai karena berpotensi menimbulkan banjir rob,” terang Umboro.
Dosen Departemen Teknik Sipil ITS itu menjelaskan, potensi rob relatif lebih rendah apabila ketinggian pasang berada di bawah ambang tersebut.
Namun, kondisi di lapangan tidak selalu persis sama dengan prediksi.
Karena itu, masyarakat di kawasan pesisir Surabaya tetap diminta meningkatkan kewaspadaan ketika terdapat prediksi pasang tinggi.
“Masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan ketika terdapat prediksi pasang tinggi di wilayah pesisir Surabaya,” pesannya.
Senada, dosen dan peneliti mitigasi bencana banjir Departemen Teknik Infrastruktur Sipil ITS Muhammad Hafiizh Imaaduddiin ST MT menjelaskan, fenomena pasang air laut berkaitan dengan siklus bulan.
Baca juga: Sri Wahyuni Kagumi Lukisan SBY: Lima Tahun Melukis, Hasilnya Profesional
Periode bulan purnama dapat beriringan dengan terjadinya pasang yang lebih tinggi.
“Menurut saya, kenapa September ini terjadi potensi pasang tertinggi hanya karena waktunya kebetulan bersamaan, yakni bulan purnama, pasang tertinggi, kemudian potensi rob,” terangnya.
Hafiizh menyebut karakteristik Surabaya sebagai wilayah hilir pesisir membuat risiko banjir rob perlu terus diantisipasi. Kondisi tersebut semakin kompleks seiring perkembangan kawasan perkotaan yang membuat area resapan air semakin terbatas.
“Sebagai daerah hilir pesisir, Surabaya tidak dapat menghindari potensi banjir rob sehingga perlu diantisipasi melalui pengelolaan drainase,” jelasnya.
Menurut Hafiizh, pembangunan kawasan perumahan, perkantoran hingga kawasan Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) turut memengaruhi ketersediaan area resapan air di Surabaya.
Baca juga: Porprov Jatim 2027 di Surabaya, Eri Cahyadi Bidik 250 Medali Emas
Meski demikian, Pemerintah Kota Surabaya telah memiliki Surabaya Drainage Master Plan (SDMP) sebagai salah satu instrumen penanganan persoalan drainase perkotaan.
Di tingkat masyarakat, kesiapsiagaan juga dapat dilakukan melalui langkah sederhana. Warga di kawasan rawan genangan disarankan mengamankan barang-barang penting dari lokasi yang berpotensi terdampak serta menyiapkan alternatif rute perjalanan.
Kesiapsiagaan tetap diperlukan meskipun pada akhirnya banjir rob tidak terjadi. Persiapan sejak awal dinilai dapat mengurangi risiko apabila pasang tinggi berkembang menjadi genangan.
“Persiapan sejak awal dapat membantu meminimalkan risiko dan dampak apabila pasang berkembang menjadi banjir rob,” pungkasnya.
Upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan memperkuat pengelolaan drainase tersebut juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-11 yang mendorong pembangunan kota dan permukiman yang inklusif, aman, tangguh, serta berkelanjutan.
Editor : Setiadi