x lingkaran.net skyscraper
x lingkaran.net skyscraper

DPRD Jatim Datangi Kemenpora, Bahas Masa Depan dan Dana Pensiun Atlet

Avatar Alkalifi Abiyu

Politik & Pemerintahan

Lingkaran.net - Prestasi di arena pertandingan tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan pembinaan olahraga. Masa depan atlet setelah gantung raket, sepatu, atau meninggalkan arena kompetisi juga harus mendapat perhatian serius.  

Isu inilah yang mengemuka dalam pertemuan anggota Komisi E DPRD Jatim yang diketuai Wakil Ketua DPRD Jawa Timur, Deni Wicaksono, dengan Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga (Wamenpora) RI, Taufik Hidayat, di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Jakarta, Selasa (13/10/2026). 

Dalam pertemuan tersebut, Deni menekankan pentingnya memastikan kesejahteraan atlet tetap terjamin setelah masa aktif mereka berakhir.  

Menurutnya, negara tidak cukup hanya mendorong atlet meraih prestasi, tetapi juga perlu memikirkan keberlangsungan hidup mereka ketika tidak lagi mampu bersaing di level kompetitif. 

“Pada bidang kepemudaan dan keolahragaan, kita juga ingin berkoordinasi dan memastikan bagaimana pascapensiun nanti kesejahteraan atlet tetap bagus. Terima kasih atas diskusinya, semoga bisa menghasilkan langkah konkret untuk kita semua,” ujar Deni. 

Perhatian terhadap masa depan atlet menjadi penting karena karier olahraga memiliki batas waktu. Di tengah tuntutan latihan dan kompetisi yang tinggi, atlet juga menghadapi tantangan menyiapkan kehidupan setelah pensiun, baik dari sisi ekonomi, pendidikan, maupun kesempatan memasuki dunia kerja. 

Karena itu, pembinaan atlet idealnya tidak berhenti pada peningkatan kemampuan dan perolehan medali. Sistem pendampingan yang mempersiapkan atlet menghadapi masa transisi setelah pensiun juga perlu menjadi bagian dari kebijakan keolahragaan. 

Menanggapi hal tersebut, Wamenpora Taufik Hidayat menyampaikan bahwa Kemenpora tengah menyiapkan skema dana pensiun bagi atlet sebagai salah satu upaya memperkuat perlindungan dan jaminan kesejahteraan mereka. 

Selain skema perlindungan finansial, literasi keuangan juga menjadi perhatian. Atlet perlu memiliki pemahaman yang memadai dalam mengelola penghasilan selama masa produktif agar dapat mempersiapkan kehidupan setelah tidak lagi aktif bertanding. 

Langkah tersebut menjadi relevan mengingat masa produktif atlet relatif terbatas, sedangkan kebutuhan hidup terus berjalan setelah karier olahraga berakhir. Tanpa persiapan yang memadai, prestasi yang diraih selama bertahun-tahun belum tentu berbanding lurus dengan jaminan kesejahteraan pada masa mendatang. 

Taufik juga menilai pengembangan olahraga membutuhkan investasi jangka panjang. Jawa Timur, yang memiliki potensi besar di berbagai cabang olahraga unggulan, termasuk bulu tangkis, dinilai perlu memperkuat sinergi antara Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Jatim dengan DPRD Jatim. 

Menurutnya, pembinaan atlet harus berlangsung secara konsisten dan didukung kompetisi berkelanjutan. Namun, pembangunan ekosistem olahraga juga perlu memperhatikan aspek lain yang menopang keberlanjutan karier atlet. 

“Olahraga ini bukan hal yang instan. Olahraga adalah investasi dan butuh proses. Kalau olahraga berhenti seminggu saja, performa atlet bisa berantakan. Pembinaan dan kompetisi atlet harus berjalan terus,” kata Taufik. 

Kemenpora juga mendorong penguatan pembinaan sejak usia dini melalui kerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Upaya tersebut antara lain diarahkan untuk mempermudah perizinan sekolah bagi atlet muda dan meningkatkan kapasitas guru olahraga. 

Di sisi lain, keterlibatan sektor swasta dalam pengembangan olahraga dinilai dapat membuka peluang ekonomi yang lebih luas. Industri olahraga tidak hanya menciptakan ruang bagi penyelenggaraan kompetisi, tetapi juga berpotensi menghadirkan kesempatan kerja dan sumber penghasilan bagi masyarakat. 

Meski demikian, upaya memperkuat industri olahraga idealnya juga membuka jalur karier bagi atlet setelah pensiun, misalnya melalui pendidikan lanjutan, sertifikasi kepelatihan, profesi di bidang olahraga, maupun peluang usaha. 

Dengan demikian, atlet tidak harus memulai kembali dari nol ketika masa kompetitifnya berakhir. Pengalaman, kedisiplinan, dan pengetahuan yang diperoleh selama berkarier dapat menjadi modal untuk menekuni profesi berikutnya. 

Pertemuan DPRD Jatim dengan Taufik Hidayat diharapkan dapat memperkuat koordinasi pusat dan daerah dalam membangun ekosistem olahraga yang lebih berkelanjutan. 

Tantangan selanjutnya adalah menerjemahkan perhatian terhadap kesejahteraan atlet menjadi kebijakan konkret, termasuk memperjelas skema perlindungan pascapensiun, akses pendidikan dan keterampilan, serta peluang kerja setelah karier kompetitif berakhir. 

Sebab, keberhasilan pembinaan olahraga semestinya tidak hanya terlihat ketika atlet berdiri di podium menerima medali. Keberhasilan itu juga harus tercermin dari kemampuan negara memastikan mereka tetap memiliki kehidupan yang layak setelah meninggalkan arena pertandingan.

Artikel Terbaru
Selasa, 13 Okt 2026 07:33 WIB | Umum

Jawa Timur Masuk 3 Besar Provinsi dengan PHK Terbanyak, 6.154 Pekerja Kehilangan Pekerjaan

Lingkaran.net - Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) masih menjadi tantangan serius bagi pasar tenaga kerja di Indonesia. Jawa Timur menempati posisi ...
Senin, 12 Okt 2026 22:56 WIB | Politik & Pemerintahan

Golkar, PKB, PAN Mulai Merapat ke Prabowo, Demokrat Masih Berhitung demi AHY

Lingkaran.net - Peta politik menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mulai memperlihatkan arah dukungan sejumlah partai politik. Partai Golkar, Partai ...
Senin, 12 Okt 2026 17:25 WIB | Edukasi

Mudipat Sport Center Diluncurkan, Mendikdasmen Abdul Mu’ti Tekankan Pentingnya Olahraga bagi Siswa

Lingkaran.net - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Abdul Mu’ti, M.Ed, mengapresiasi capaian SD Muhammadiyah 4 (Mudipat) S ...