Lingkaran.net - Peringatan Hari Santri Nasional 2026 menjadi momentum untuk memperkuat peran pesantren dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) unggul menuju Indonesia Emas.
Santri tidak cukup hanya memiliki kedalaman ilmu agama, tetapi juga harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), memperkuat literasi, serta mampu berkolaborasi menghadapi tantangan zaman.
Anggota DPRD Jawa Timur dari daerah pemilihan Gresik-Lamongan, Ahmad Iwan Zunaih atau yang akrab disapa Gus Iwan, menilai tema Hari Santri Nasional 2026, “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, bukan sekadar jargon. Tema tersebut merupakan pengakuan atas kontribusi pesantren sekaligus harapan besar terhadap peran kiai dan santri dalam menentukan masa depan bangsa.
Menurut Gus Iwan, pesantren memiliki rekam jejak panjang dalam perjalanan Indonesia, termasuk andil besar dalam perjuangan merebut kemerdekaan.
Kini, peran tersebut harus terus diperkuat agar pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga episentrum pengembangan masyarakat di berbagai bidang, termasuk ekonomi dan sosial.
“Tema ini bukan sekadar jargon, tetapi ada pengakuan, harapan, sekaligus keyakinan bahwa pesantren bersama kiai dan santrinya merupakan elemen bangsa yang telah berkiprah besar dalam memperjuangkan kemerdekaan. Kiprah itu juga selalu ditunggu untuk masa depan Indonesia,” ujarnya.
Gus Iwan optimistis harapan menjadikan santri sebagai penguat negeri dapat diwujudkan. Terlebih, saat ini semakin banyak lulusan pesantren yang mampu mengisi posisi strategis dan berkontribusi dalam berbagai sektor pembangunan.
Namun, ia mengingatkan, potensi besar tersebut harus diimbangi dengan kemauan untuk terus berbenah dan meningkatkan kualitas diri.
Pesantren dan santri dituntut mampu menjawab perubahan zaman tanpa kehilangan identitas serta nilai-nilai keislaman yang menjadi fondasinya.
“Tema ini harus menjadi spirit besar bagi pesantren dan santri untuk selalu berbenah dan meningkatkan kualitas diri. Santri harus menjadi SDM unggul yang mampu menggerakkan bangsa menuju baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, yang dalam konteks kebangsaan dapat kita maknai sebagai cita-cita Indonesia Emas,” tegasnya.
Ia menambahkan, untuk mewujudkan cita-cita tersebut, santri perlu memperkuat karakter akhlak dan etos kerja, memperdalam ilmu pengetahuan dan teknologi, meningkatkan kemampuan literasi, serta membangun budaya kolaborasi.
Seluruh kompetensi itu, lanjutnya, harus tetap berlandaskan pada keteguhan memegang ajaran agama dan keyakinan kepada Allah SWT. Dengan demikian, kemajuan intelektual dan profesionalisme santri dapat berjalan seiring dengan pembentukan karakter serta tanggung jawab moral.
Gus Iwan berharap Hari Santri Nasional tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Momentum ini harus menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan untuk terus mendukung pengembangan pesantren dan meningkatkan kualitas santri agar mampu berkontribusi lebih luas bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Dengan bekal ilmu agama, penguasaan teknologi, literasi, karakter kuat, serta semangat kolaborasi, santri diharapkan mampu mengambil peran lebih besar dalam pembangunan dan menjadi salah satu kekuatan penting dalam mewujudkan Indonesia Emas.
Editor : Setiadi