Lingkaran.net - Dua dekade setelah semburan lumpur panas di Porong, Sidoarjo, persoalan keamanan tanggul masih menjadi tantangan yang membutuhkan pemantauan secara konsisten.
Penurunan muka tanah, potensi rembesan, retakan hingga ancaman luapan air menjadi sejumlah kondisi yang perlu diantisipasi.
Baca juga: Hampir 1.000 Korban, Fraksi PDIP DPRD Jatim Punya Jurus Baru Agar Keracunan MBG Tak Terulang
Menjawab tantangan tersebut, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan Sidoarjo Disaster Assessment AI (SIDA-AI). Teknologi berbasis agentic artificial intelligence (AI) ini menggabungkan citra Unmanned Aerial Vehicle (UAV), sensor Internet of Things (IoT), serta data prakiraan cuaca untuk memantau kondisi tanggul secara lebih komprehensif dan real-time.
Tim pengembang SIDA-AI, Kurnia Cahya Febryanto SKom MKom, mengatakan teknologi tersebut dikembangkan dengan mempertimbangkan kondisi kawasan Lumpur Sidoarjo yang memiliki risiko cukup kompleks.
Menurutnya, berdasarkan catatan Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS), penurunan muka tanah di titik paling rentan mencapai rata-rata 0,5 meter per tahun. Sementara itu, penurunan tanah di sepanjang tanggul sepanjang sekitar 11 kilometer bervariasi antara 20 hingga 50 sentimeter per tahun.
“Risiko diperparah dengan kapasitas alir Kali Porong yang mengalami penyempitan akibat sedimentasi sungai,” ujar Kurnia.
Ia menjelaskan, persoalan tersebut menjadi semakin kompleks karena perubahan kondisi tanggul tidak selalu terjadi secara tiba-tiba.
Sebagian perubahan berlangsung perlahan sehingga berpotensi tidak terdeteksi hanya melalui inspeksi berkala.
Kondisi seperti jarak bebas (freeboard) yang semakin menipis, muka air yang masih terlihat normal, ditambah prakiraan hujan lebat, misalnya, dapat menjadi kombinasi yang meningkatkan risiko.
“Gabungan dari kondisi-kondisi tersebut membuatnya semakin berbahaya,” ungkap mahasiswa program doktoral Departemen Teknik Informatika ITS tersebut.
AI Gabungkan Data UAV, IoT, dan Cuaca
Kondisi itulah yang kemudian menjadi dasar pengembangan SIDA-AI. Sistem tersebut dirancang untuk mengintegrasikan berbagai sumber data sehingga perubahan kondisi tanggul dan lingkungan di sekitarnya dapat dianalisis secara lebih menyeluruh.
“Dengan mengintegrasikan berbagai sumber data, SIDA-AI menghubungkannya dengan faktor lingkungan yang memengaruhi tingkat risiko,” papar Kurnia.
Pengembang perangkat keras SIDA-AI, Irfan Mirda ST MKom, menjelaskan bahwa sistem tersebut dibangun dengan arsitektur dua lapis.
Lapisan pertama merupakan lapisan persepsi yang terdiri atas sejumlah model deterministik.
Baca juga: Pemprov Jatim Panggil Pengelola Dapur MBG se-Jatim Usai Keracunan Massal di Sidoarjo
Lapisan ini bertugas mengolah data hasil pengamatan untuk mengidentifikasi kondisi fisik tanggul, antara lain retakan, rembesan, dan tingkat saturasi berdasarkan citra UAV.
Tak hanya itu, lapisan persepsi juga menghitung sejumlah indikator penting lainnya, termasuk sisa freeboard dan laju penurunan tanah.
Perhitungan penurunan tanah dilakukan menggunakan metode DEM differencing dengan memanfaatkan citra UAV multitemporal.
“Sementara itu, sensor IoT digunakan untuk memantau muka air dan pendangkalan Kali Porong secara real-time,” jelas Irfan.
Data dari berbagai sumber tersebut kemudian diproses pada lapisan kedua, yakni agentic AI.
Menurut Irfan, lapisan ini berfungsi mengorkestrasi seluruh indikator yang telah diperoleh. Dengan memanfaatkan model bahasa besar (large language model), sistem dapat melakukan penilaian tingkat risiko pada setiap segmen tanggul.
Tidak berhenti pada deteksi, SIDA-AI juga dirancang untuk menghasilkan rekomendasi tindakan berdasarkan kondisi yang ditemukan di lapangan.
Agar rekomendasi tidak sekadar berasal dari analisis AI, sistem tersebut ditambatkan pada prosedur penanganan yang berlaku di PPLS.
Baca juga: 431 Santri Ponpes Manbaul Hikam Sidoarjo Diduga Keracunan Usai Santap MBG, Ini Menunya
Mekanisme tersebut menggunakan pendekatan Retrieval-Augmented Generation (RAG) sehingga rekomendasi yang dihasilkan memiliki landasan prosedural yang jelas.
Juara 1 AIDeaNation 2026
Pengembangan SIDA-AI juga telah memperoleh pengakuan melalui raihan Juara 1 AIDeaNation 2026 yang diselenggarakan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Teknologi tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya ITS mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 11 mengenai Kota dan Permukiman Berkelanjutan serta poin 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim.
Ke depan, tim pengembang berharap SIDA-AI tidak berhenti sebagai inovasi teknologi, tetapi dapat segera memasuki tahap pengujian dan implementasi bersama PPLS.
Dengan sistem yang menggabungkan citra udara, sensor lapangan, data cuaca, dan kecerdasan buatan, pemantauan tanggul di kawasan Lumpur Sidoarjo diharapkan dapat bergeser dari sekadar inspeksi berkala menuju sistem deteksi dini berbasis data dan risiko.
Editor : Setiadi