Lingkaran.net - Angka kematian ibu dan bayi di Jawa Timur masih menjadi pekerjaan rumah serius bagi pemerintah daerah. Hingga 21 September 2026, tercatat 285 kasus Angka Kematian Ibu (AKI) dan 2.721 kasus Angka Kematian Bayi (AKB).
Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur mendorong penguatan layanan kesehatan hingga tingkat desa dan kelurahan.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah mengoptimalkan peran perawat Pondok Kesehatan Desa (Ponkesdes) dan kader Posyandu untuk memantau kondisi ibu hamil secara rutin.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan, pencegahan kematian ibu dan bayi harus dimulai sejak masa kehamilan.
Dua hal yang menjadi perhatian utama adalah pemenuhan gizi ibu hamil dan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
“Setiap dinas kesehatan di masing-masing kabupaten dan kota harus menempatkan monitoring terhadap ibu hamil sebagai prioritas,” kata Emil, Kamis (5/11/2026).
Menurutnya, Jatim sebenarnya telah memiliki jaringan perawat Ponkesdes dengan satu perawat di setiap desa. Namun, keberadaan tenaga kesehatan tersebut perlu dioptimalkan agar pemantauan ibu hamil berjalan lebih efektif.
“Bagaimana satu orang perawat di setiap desa ini ikut mengampu upaya untuk memonitor kondisi ibu-ibu hamil,” tuturnya.
Selain perawat desa, Emil meminta tim pembina Posyandu dan kader PKK lebih aktif menjangkau masyarakat. Posyandu tidak boleh hanya dipahami sebagai tempat pelayanan kesehatan bayi setelah lahir, tetapi juga harus berperan dalam memantau kesehatan ibu sejak masa kehamilan.
“Jadi kader Posyandu ini paham dari hulu ke hilir sebenarnya. Ini yang tidak kalah penting,” bebernya.
Emil menegaskan, perhatian khusus harus diberikan kepada ibu hamil dengan risiko tinggi (risti). Deteksi dini dan pemantauan intensif diperlukan agar potensi komplikasi dapat diketahui lebih cepat dan segera mendapatkan penanganan medis.
Ia juga menyinggung kasus kematian ibu di Sidoarjo yang bermula dari kondisi ketuban pecah di fasilitas kesehatan (faskes). Peristiwa tersebut sempat menimbulkan tanda tanya di kalangan keluarga sebelum mendapatkan penjelasan dari tenaga medis.
Emil berharap kejadian serupa tidak terulang. Menurutnya, setiap kasus kematian ibu perlu dievaluasi secara mendalam untuk mengetahui faktor penyebab dan mencegah kejadian serupa di kemudian hari.
“Kita sangat prihatin dan mendoakan agar keluarga yang berduka diberikan ketabahan. Namun, kasus-kasus seperti ini juga menjadi persoalan kompleks yang harus kita pelajari,” ungkapnya.
Pemprov Jatim berharap penguatan layanan kesehatan berbasis desa dapat mempercepat deteksi risiko kehamilan, meningkatkan akses pemeriksaan ibu hamil, sekaligus menekan angka kematian ibu dan bayi.
Editor : Setiadi