Lingkaran.net – Momen Hari Raya Iduladha 2026, aktivitas pemotongan hewan kurban di Rumah Potong Hewan (RPH) Surabaya mengalami peningkatan. Tingginya antusiasme masyarakat membuat jumlah sapi kurban yang dipotong tahun ini bertambah dibanding tahun sebelumnya.
Direktur Utama RPH Surabaya Fajar Arifianto Isnugroho menyebut hingga saat ini tercatat sebanyak 180 ekor sapi kurban telah terdaftar untuk dipotong di RPH Surabaya selama Hari Tasyrik. Proses pemotongan dijadwalkan berlangsung mulai Rabu (27/5/2026) hingga Sabtu (30/5/2026).
“Jadi 180 sapi kurban yang dipotongkan di RPH Surabaya. Pemotongan dimulai hari Rabu, Kamis, Jumat sampai berakhir hari Sabtu atau akhir Hari Tasyrik,” kata Fajar.
Ia menjelaskan, puncak aktivitas pemotongan terjadi pada Kamis dengan total sekitar 70 ekor sapi. Sementara untuk Jumat tercatat sekitar 68 ekor, sedangkan sisanya dijadwalkan pada Jumat dan Sabtu.
Melihat tingginya antusiasme masyarakat, RPH Surabaya memutuskan memperpanjang masa pendaftaran layanan pemotongan kurban hingga 28 Mei 2026. Padahal sebelumnya, pendaftaran dijadwalkan ditutup sehari sebelumnya.
“Karena melihat animo masyarakat masih cukup besar, kami memberikan kesempatan tambahan bagi masyarakat yang ingin memotong hewan kurban di RPH Surabaya sampai tanggal 28 Mei,” ujarnya.
Fajar mengatakan, jumlah pemotongan tahun ini meningkat dibanding Iduladha tahun lalu yang mencapai 170 ekor sapi. Ia bahkan menargetkan jumlah pemotongan bisa menembus 200 ekor.
“Tahun lalu 170 ekor, sekarang sudah 180. Artinya ada peningkatan 10 ekor. Target saya sebenarnya bisa sampai 200 ekor,” katanya.
Pada Iduladha tahun ini, RPH Surabaya memilih fokus pada layanan jasa pemotongan hewan kurban dan tidak lagi menjual sapi kurban seperti tahun sebelumnya.
RPH Surabaya menyediakan dua jenis layanan utama. Pertama, layanan potong, cacah, kemas dan kirim dengan tarif Rp2,8 juta per ekor. Layanan tersebut mencakup pemotongan, pencacahan daging, pengemasan hingga distribusi.
Kedua, layanan potong daging lepas tulang dengan tarif Rp2 juta per ekor. Dalam layanan ini, karkas masih diserahkan dalam ukuran besar sehingga proses pencacahan, penimbangan dan pengemasan dapat dilakukan sendiri oleh panitia kurban.
Menurut Fajar, tarif layanan tahun ini mengalami kenaikan dibanding tahun sebelumnya akibat meningkatnya biaya produksi, terutama untuk kebutuhan kemasan food grade.
“Yang potong lepas tulang sebelumnya Rp1,8 juta sekarang Rp2 juta. Sedangkan potong kemas kirim sebelumnya Rp2,5 juta menjadi Rp2,8 juta karena biaya food grade meningkat,” jelasnya.
Selain itu, Fajar juga memastikan proses perpindahan operasional RPH dari Pegirian ke Tambak Oso Wilangun baru akan dilakukan setelah Iduladha 2026 selesai.
Ia mengatakan, sejumlah sarana dan prasarana di lokasi baru masih dalam tahap penyelesaian sehingga perpindahan operasional dijadwalkan mulai 1 Juli 2026.
“Tahun ini kami belum pindah karena di Tambak Oso Wilangun masih ada beberapa sarana-prasarana yang harus diselesaikan. Perpindahan mulai 1 Juli,” katanya.
Meski demikian, mayoritas pelanggan tetap RPH Surabaya disebut tidak keberatan dengan rencana perpindahan lokasi tersebut. Menurut Fajar, para pengguna jasa tetap membutuhkan layanan RPH untuk membantu proses pemotongan hewan kurban.
“Alhamdulillah mayoritas pelanggan tidak keberatan dan tetap menggunakan jasa kami meski nanti pindah ke Tambak Oso Wilangun,” ujarnya.
Fajar menambahkan, mayoritas pengguna layanan jasa pemotongan berasal dari wilayah Surabaya, meskipun ada juga sebagian dari Gresik dan Sidoarjo. Pengguna jasa tersebut berasal dari berbagai kalangan mulai masjid, musala, yayasan, organisasi masyarakat, partai politik hingga instansi TNI dan kepolisian.
Editor : Trisna Eka Aditya