Lingkaran.com - Fenomena alam tak biasa berupa sinkhole atau lubang amblas telah mengegerkan warga di Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat sejak awal Januari 2026.
Lubang yang muncul tiba-tiba di lahan persawahan itu memiliki diameter lebih dari 10 meter dan kedalaman signifikan, sehingga menarik perhatian masyarakat luas.
Baca juga: Perjalanan Ketua DPRD Jatim Kusnadi, dari Kursi Dewan ke Podium Dosen
Kemunculan sinkhole ini menjadi sorotan setelah air di dalam lubang tersebut ramai diambil oleh warga. Banyak yang percaya memiliki khasiat atau manfaat kesehatan, bahkan dibawa pulang oleh warga dari berbagai daerah di Sumatera Barat.
Banyak warga sampai mengantre mengambil air dengan botol atau ember yang sempat viral di media sosial.
Pihak pemerintah dan Badan Geologi mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati. Dikhawatirkan air tersebut mengandung bakteri dengan kadar yang tidak aman untuk langsung dikonsumsi.
masyarakat diimbau tidak minum air tersebut secara sembarangan sebelum dilakukan analisis ilmiah yang komprehensif.
Pakar Geologi UGM Ungkap Penyebab Sinkhole
Pakar Geologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Eng. Ir. Wahyu Wilopo S.T., M.Eng., IPM, turut memberikan komentar ilmiah terkait fenomena sinkhole ini. Menurutnya, peristiwa ini bukan sekadar kejadian unik, melainkan hasil dari kombinasi faktor geologi dan kondisi cuaca ekstrem.
Prof Wahyu menjelaskan bahwa wilayah Sumatera Barat memiliki formasi batuan seperti batu gamping/kapur, yang sangat rentan terhadap pelarutan oleh air. Ketika curah hujan sangat tinggi, seperti yang terjadi akibat Siklon Senyar di akhir November 2025, air hujan intensif mempercepat proses pelarutan batuan dan erosi material di bawah tanah, sehingga menyebabkan runtuhan tanah secara tiba-tiba.
“Kita ketahui bersama di daerah Sumatera Barat terdiri dari beberapa satuan batuan salah satunya gamping dan adanya siklon Senyar yang bisa memicu terjadinya sinkhole. Pencegahan total sulit dilakukan, tetapi mitigasi dapat melalui pemantauan geologi, pengendalian tata guna lahan, serta sistem drainase yang baik,” ujarnya dikutip dari laman UGM.
Potensi munculnya di daerah dengan karakter geologi seperti karst (batu gamping/kapur), tanah berongga, atau wilayah dengan aktivitas manusia yang mempercepat pelarutan dan erosi.
Pada kawasan karst, air hujan bisa melarutkan batuan yang membentuk rongga bawah tanah. Sedangkan di tanah berongga dapat diakibatkan oleh gua alami maupun kegiatan tambang.
Wahyu menambahkan wilayah dengan material vulkanik lapuk mengakibatkan mudah erosi hingga rentan ambles. “Ada pula yang terjadi ini dapat karena daerah eksploitasi air tanah berlebihan sehingga menurunkan muka air tanah, memperbesar rongga, dan melemahnya struktur tanah hingga sinkhole,” ungkapnya.
Terakhir Wahyu mengingatkan mengenai penanganan sinkhole yang bukan hanya sekadar menutup lubang, melainkan juga mengelola air, memperkuat tanah, dan melibatkan masyarakat dalam kewaspadaan.
Setelah proses evakuasi warga, survei geologi dan geofisika dilakukan untuk identifikasi kedalaman lubang baik dengan geolistrik, seismik, ground penetrating radar (GPR). Stabilisasi tanah dapat dilakukan dengan pengisian material padat maupun teknik grouting (penyuntikan semen cair ke dalam rongga). Langkah lain menurutnya ialah perbaikan drainase dan aliran air, serta rekayasa struktur penguatan pondasi.
“Pemerintah perlu melakukan survei geologi pemetaan rawan sinkhole, masyarakat juga perlu aktif melaporkan kecurigaan sesuai tanda-tanda seperti yang disebutkan tadi. Jadi, edukasi bersama penting untuk warga memahami risiko dan mitigasi,” katanya.
Kementerian ESDM telah menurunkan tim ahli dari Badan Geologi untuk melakukan kajian cepat dan pengambilan data di lokasi. Tujuan kajian ini adalah untuk memahami karakteristik sinkhole, kondisi tanah, serta potensi risiko bagi masyarakat dan sarana pertanian di sekitarnya.
Tim tersebut bekerja untuk memberikan rekomendasi mitigasi bencana yang lebih tepat, termasuk upaya pencegahan agar masyarakat tidak terpengaruh oleh informasi yang tidak berdasar di media sosial.
Editor : Baehaqi