Soto Ayam MBG Diduga Picu Keracunan Massal di Mojokerto, 261 Warga Terdampak

Reporter : Alkalifi Abiyu
Wagub Jatim Emil Elestianto Dardak.

Lingkaran.net - Pemerintah Provinsi Jawa Timur bergerak cepat menyelidiki dugaan keracunan massal yang menimpa ratusan warga di Kabupaten Mojokerto.  

Investigasi epidemiologi kini difokuskan pada menu soto ayam yang dibagikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 di Kecamatan Kutorejo, Jumat (9/1/2026). 

Baca juga: BGN Bekukan 47 SPPG Hingga Verifikasi Ulang di Bulan Ramadan, Ini Alasannya

Beberapa saat setelah menyantap hidangan tersebut, para penerima manfaat mulai dari siswa hingga orang tua siswa mengeluhkan gangguan kesehatan. Gejala yang muncul beragam, mulai dari pusing, mual, muntah, hingga diare. 

Hingga Minggu (11/1/2026), tercatat sebanyak 261 orang menjadi korban dalam peristiwa tersebut. Seluruh korban telah mendapatkan penanganan medis di sejumlah fasilitas kesehatan (faskes) di wilayah Mojokerto. 

Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Timur menduga sumber keracunan berasal dari SPPG yang menyiapkan dan mendistribusikan makanan.  

Baca juga: Jadwal Mudik Gratis Jatim 2026 Lengkap dengan 17 Rute Tujuan

Penelusuran pun dilakukan secara menyeluruh, mulai dari rantai pasok bahan pangan hingga prosedur pengolahan makanan. 

Dalam proses investigasi, Pemprov Jatim menemukan fakta yang dinilai tidak lazim. Korban tetap mengalami gejala keracunan meskipun hanya mengonsumsi bagian tertentu dari menu soto ayam, seperti daging ayam atau telur saja. 

“Kami menemukan pola bahwa korban tetap terdampak meskipun hanya mengonsumsi bagian tertentu. Ini menjadi data krusial untuk menemukan akar permasalahan,” ujar Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak saat meninjau korban yang dirawat di Pondok Pesantren Ma’had An Nur dan RSUD Prof. dr. Soekandar, Mojokerto, Minggu (11/1/2026). 

Baca juga: Menjernihkan Tata Kelola dan Anggaran MBG

Dari hasil peninjauan tersebut, Emil menyampaikan bahwa sebanyak 140 orang telah dinyatakan pulih dan diperbolehkan pulang. Sementara itu, 121 pasien lainnya masih menjalani perawatan intensif di beberapa faskes. 

Saat ini, Dinkes Jatim masih menguji sejumlah hipotesis teknis. Evaluasi dilakukan terhadap bahan baku yang telah dipersiapkan sejak H-1, proses pengemasan makanan, hingga kemungkinan kontaminasi silang termasuk dugaan kontaminasi pada cangkang telur yang disimpan dalam satu wadah bersama bahan pangan lain.

Editor : Setiadi

Politik & Pemerintahan
Berita Populer
Berita Terbaru