x lingkaran.net skyscraper
x lingkaran.net skyscraper

Jejak Nicolas Maduro, Presiden Venezuela yang Ditangkap AS Usai Caracas Digempur

Avatar Redaksi

Politik & Pemerintahan

Lingkaran.net - Dunia dikejutkan setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan militer berskala besar ke Venezuela pada 3 Januari 2026, yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, dan istrinya, Cilia Flores. 

Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi penangkapan tersebut termasuk dalam serangan besar ke Caracas. 

Siapa Nicolás Maduro?

Nicolás Maduro lahir di Caracas pada 23 November 1962 dan sebelum terjun ke dunia politik bekerja sebagai sopir bus. Ia mulai dikenal secara nasional melalui keterlibatannya dalam serikat pekerja, kemudian berhasil masuk ke politik dan menjadi anggota parlemen. 

Maduro meraih posisi penting dalam pemerintahan Hugo Chávez, termasuk sebagai Menteri Luar Negeri dan kemudian Wakil Presiden, sebelum akhirnya menggantikannya pada 2013. 

Ia merupakan sosok pemimpin yang berhaluan Marxis. Figurnya dikenal dekat dengan rakyat. Maduro kerap tampil di televisi pemerintah, menari salsa, berbicara tentang banyak hal salah satunya bisbol, sampai dimunculkan sebagai dalam seial kartun karakter bernama Super-Bigote (Super-Kumis).

Selama masa kepemimpinannya, Maduro disebut oleh pihak oposisi dan sejumlah negara Barat sebagai pemimpin otoriter. Hasil pemilu 2018 dan 2024 yang dimenangkannya mendapat kecaman karena dinilai syarat kecurangan. 

Total per Januari 1015 Maduro telah berkuasa di Venezuela selama 18 tahun. Rezimnya dituduh melakukan penekanan kepada para oposisi, memenjarakan lawan politik, dan mengabaikan proses hukum. 

Selama kepemimpinan Maduro, Venezuela menghadapi tantangan cukup berat. Mulai dari tekanan berupa sanksi ekonomi dari AS, anjloknya Harga minyak, hingga krisis ekonomi. 

Mengapa AS Menjalankan Serangan Militer ke Venezuela?

Ketegangan antara AS dan Venezuela telah memuncak selama bertahun-tahun, dipicu oleh perbedaan ideologis, penuduhan korupsi, dan tuduhan keterlibatan Maduro dalam perdagangan narkoba internasional. 

Pemerintahan Trump menuduh Maduro menjadi bagian dari apa yang mereka sebut sebagai “narco-state” dan pemimpin jaringan kriminal internasional, termasuk kelompok atau geng seperti Tren de Aragua, tuduhan yang juga termasuk penyelundupan narkoba ke AS. 

Mengutip dari Jaksa Agung Muda Pemela Bondi, Nicolas Maduro telah didakwa melakukan narco-terrorism, konspirasi impor kokain, kepemilikan senapan mesin dan alat perusak terhadap Amerika Serikat. 

"Mereka akan segera menghadapi murka keadilan Amerika di tanah Amerika di pengadilan Amerika. Atas nama seluruh Departemen Kehakiman AS, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Presiden Trump atas keberaniannya menuntut pertanggungjawaban atas nama Rakyat Amerika," cuitnya dikutip Minggu (4/1/2026). 

Lebih dari itu, ada dugaan terkait juga dengan kekayaan sumber daya alam Venezuela, terutama cadangan minyak terbesar di dunia, yang kerap menjadi titik konflik geopolitik antara Caracas dan Washington. 

Kronologi Serangan dan Penangkapan Maduro

Pada 3 Januari 2026, pasukan militer AS melancarkan serangan mendadak ke Venezuela, termasuk di ibu kota Caracas dengan serangkaian ledakan dan koordinasi udara yang intens. Beberapa instalasi sipil dan militer dilaporkan terkena dampak serangan tersebut. 

Dalam pernyataannya, Trump mengumumkan bahwa operasi itu berhasil menangkap Nicolás Maduro dan istrinya, lalu menerbangkan mereka keluar dari Venezuela. Klaim ini disampaikan melalui platform media sosialnya, namun detail independen tentang lokasi penahanan dan kondisi mereka belum sepenuhnya terverifikasi. 

Pihak Venezuela, termasuk Wakil Presiden Delcy Rodríguez menyatakan mereka tidak mengetahui keberadaan Maduro dan istrinya setelah serangan dan menyebut tindakan AS sebagai agresi militer serta “penculikan brutal”. Pemerintah Venezuela kemudian menetapkan status darurat nasional. 

Menurut laporan terbaru, Maduro juga telah tiba di New York dan berada di bawah pengawasan ketat otoritas AS untuk menghadapi dakwaan, termasuk terkait narkoterorisme di pengadilan federal AS. 

Tindakan AS ini memicu kecaman dari berbagai negara dan pakar hukum internasional, yang menilai operasi tersebut melanggar hukum internasional serta kedaulatan Venezuela karena tidak ada otorisasi PBB maupun persetujuan kongres AS. Kritikus juga menyebut serangan itu sebagai bentuk intervensi yang menciptakan preseden berbahaya dalam hubungan global.

 

Artikel Terbaru
Senin, 05 Jan 2026 07:08 WIB | Hype

Profil Personel Nusantara Beat: Band Belanda Bernuansa Indonesia

Nusantara Beat, grup musik psychedelic-folk berbasis di Amsterdam, Belanda, kini menjadi sorotan publik Tanah Air. ...
Minggu, 04 Jan 2026 08:55 WIB | Umum

Suli Daim DPRD Jatim Serahkan Bantuan Hand Traktor ke Petani Purworejo Ponorogo, Dorong Produktivitas Pertanian

Lingkaran.net – Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Suli Daim, menyerahkan bantuan alat mesin pertanian (alsintan) berupa hand traktor rotary kepada petani di D ...
Sabtu, 03 Jan 2026 19:09 WIB | Umum

GMNI Surabaya Minta Investigasi Independen atas Kematian Alfarisi di Rutan Medaeng

Lingkaran.net - Kabar duka menyelimuti keluarga dan rekan-rekan aktivis setelah Alfarisi bin Rikosen (21), seorang demonstran aksi Agustus–September 2025, d ...