Lingkaran.net - Media sosial dalam beberapa hari terakhir diramaikan dengan kemunculan video seekor penguin berjalan menjauhi koloni. Warganet menjulukinya sebagai “Nihilist Penguin.”
Video tersebut telah banyak dilihat oleh pengguna media sosial. Banyak yang memaknainya sebagai simbol kelelahan dan kejenuhan.
Si penguin ditafsirkan mengasingkan diri dari kehidupan modern yang sudah menjenuhkan.
Asal Usul Video Penguin
Video tersebut sebenarnya potongan dari film dokumenter Encounters at the End of the World (2007) karya Werner Herzog. Aksi penguin merupakan salah satu adegan di dalamnya.
Di dalam video terlihat seekor penguin yang tiba-tiba berhenti mengikuti kelompoknya, berbalik arah, lalu berjalan sendirian menuju pegunungan Antartika, sekitar 70 kilometer dari jalur normal koloninya.
Perjalanan menyimpang ini kerap disebut sebagai “pawai kematian” (death march), karena dilakukan tanpa sumber makanan yang jelas.
Munculnya Istilah Nihilist
Aksi penguin tersebut kemudian dijuluki dengan istilah “nihilist” sendiri merujuk pada pandangan hidup yang memandang dunia tanpa makna, tujuan, atau nilai yang pasti.
Di titik inilah banyak netizen merasa menemukan refleksi diri. Di tengah tekanan ekonomi, tuntutan produktivitas yang seolah tak berujung, serta ketidakpastian global, penguin yang “melangkah keluar dari sistem” itu dianggap merepresentasikan perasaan burnout dan keterasingan emosional.
Popularitasnya bahkan menembus ranah politik global. Akun resmi Gedung Putih sempat mengunggah gambar hasil AI yang menampilkan Presiden Donald Trump berjalan berdampingan dengan sang “Nihilist Penguin.”
Meski begitu, dari sudut pandang ilmiah, para ahli menegaskan bahwa tidak ada muatan filosofis di balik perilaku tersebut. Penguin bisa saja tersesat akibat gangguan neurologis, penyakit, atau disorientasi pada kompas internal mereka, bukan karena krisis eksistensial.
Namun bagi manusia, kisah si penguin telanjur menjadi metafora yang terasa dekat: tentang lelah, menjauh, dan keinginan untuk berhenti sejenak dari arus yang terus memaksa berjalan.
Editor : Baehaqi