Lingkaran.net - Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur, M. Hadi Setiawan, mengingatkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur agar memberi perhatian khusus terhadap ancaman cuaca ekstrem yang berpotensi mengganggu panen padi.
Pasalnya, Jawa Timur merupakan salah satu lumbung padi utama nasional dengan kontribusi produksi yang sangat besar terhadap ketahanan pangan Indonesia.
Menurut Hadi, kondisi cuaca yang semakin tidak menentu saat ini bisa menjadi ancaman serius bagi tanaman padi yang memasuki masa siap panen.
Politisi Golkar ini menilai situasi tersebut seharusnya menjadi pembelajaran penting bagi Pemprov Jatim untuk menyusun strategi tanam yang lebih adaptif, sekaligus memperkuat sarana dan prasarana pendukung sektor pertanian.
“Jawa Timur ini lumbung padi paling dasar bagi pangan nasional. Dengan produksi yang sangat tinggi, maka cuaca ekstrem yang terjadi sekarang tentu bisa mengancam padi-padi yang siap panen. Ini harus menjadi perhatian serius Pemprov Jatim,” ujar Hadi saat dikonfirmasi, Kamis (15/1/2026).
Ia menambahkan, musim tanam dan pola cuaca sebenarnya dapat diprediksi, sehingga pemerintah daerah diharapkan mampu menyusun langkah antisipatif agar risiko gagal panen dapat ditekan seminimal mungkin.
Sebelumnya, cuaca ekstrem yang melanda Jawa Timur sempat berdampak pada gagal panen atau puso lahan pertanian di sejumlah daerah, seperti Kabupaten Pasuruan dan Bojonegoro. Total lahan yang mengalami puso pada Oktober 2025 tercatat mencapai sekitar 3.000 hektare.
Meski demikian, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, Heru Suseno, mengklaim kondisi tersebut tidak berdampak pada total produksi padi Jawa Timur tahun 2025.
Ia menjelaskan, puso terjadi ketika sebagian tanaman padi telah melewati masa panen sehingga tidak memengaruhi capaian produksi secara keseluruhan.
“Puso kemarin itu sekitar 3.000 hektare, tapi tersebar di Jawa Timur. Dan itu sudah dipenuhi dengan bantuan,” ujar Heru.
Heru juga menyebutkan, banjir yang terjadi belakangan ini tidak sepenuhnya berdampak pada lahan persawahan. Sebagian besar genangan dilaporkan cepat surut sehingga tidak menimbulkan kerusakan signifikan pada tanaman padi.
“Kalau banjir, tidak semuanya melanda sawah. Ada hujan deras, tapi besoknya sudah surut, sehingga tidak banyak mengganggu tanaman,” tuturnya.
Meski begitu, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim tetap menaruh perhatian serius terhadap prakiraan cuaca ekstrem dari BMKG yang diprediksi berlangsung hingga awal Februari 2026.
Hal ini menjadi krusial karena waktunya berdekatan dengan masa panen padi yang diperkirakan jatuh pada Maret 2026.
Sebagai langkah antisipasi, Heru memastikan pihaknya terus melakukan pendataan di lapangan. Jika ditemukan puso baru akibat cuaca ekstrem, pemerintah akan memberikan bantuan berupa penggantian benih serta fasilitasi tanam ulang dengan berkoordinasi bersama Kementerian Pertanian.
“Kalau ada puso, pasti ada penggantian benih. Kami komunikasi dengan Kementerian Pertanian. Petani jangan khawatir, bisa tanam kembali,” tegasnya.
Lebih optimistis, Heru memprediksi produksi padi Jawa Timur pada 2026 justru berpotensi meningkat. Hal itu didasarkan pada luas tanam selama Oktober hingga Desember 2025 yang tercatat lebih besar dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
“Kalau kita melihat luas tanam Oktober, November, dan Desember 2025, itu lebih besar dibanding tahun 2024. Maka tahun 2026 nanti produksinya kira-kira akan meningkat,” pungkasnya.
Editor : Setiadi