Lingkaran.net - Bencana banjir kembali melanda wilayah Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Hujan deras yang mengguyur sejumlah kawasan sejak Selasa (19/5/2026) menyebabkan aliran sungai meluap dan merendam permukiman warga di beberapa kecamatan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat sedikitnya 1.102 jiwa dari 327 kepala keluarga terdampak dalam peristiwa tersebut.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan banjir dipicu tingginya intensitas hujan yang menyebabkan debit sungai meningkat hingga meluap ke permukiman warga.
“Banjir terjadi akibat hujan deras dan meluapnya aliran sungai di beberapa wilayah,” ujar Abdul Muhari dalam keterangan resminya, Kamis (21/5/2026).
Wilayah yang terdampak meliputi Desa Toyaning, Rejoso Lor, dan Patuguran di Kecamatan Rejoso. Selain itu, banjir juga merendam Desa Kedawung Wetan, Sumberdawesari, dan Kedawung Kulon di Kecamatan Grati, serta Desa Bandaran di Kecamatan Winongan.
Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan asesmen dan penanganan darurat bagi warga terdampak.
Meski sempat menggenangi rumah warga dan mengganggu aktivitas masyarakat, kondisi banjir dilaporkan mulai berangsur surut.
“BPBD Kabupaten Pasuruan telah melakukan asesmen dan penanganan darurat di lokasi kejadian. Kondisi mutakhir dilaporkan berangsur surut,” jelasnya.
Di sisi lain, BNPB mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang masih berpeluang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia.
Berdasarkan prakiraan cuaca Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, beberapa wilayah masih berpotensi diguyur hujan sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang.
Sementara itu, sebagian daerah lain mulai memasuki musim kemarau yang memicu ancaman kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan.
BNPB pun mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan terhadap berbagai potensi bencana, mulai dari banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, kekeringan, hingga kebakaran hutan dan lahan.
Masyarakat diminta terus memantau informasi resmi dari pemerintah daerah, BPBD, BMKG, maupun PVMBG serta segera melakukan langkah antisipasi apabila terjadi peningkatan ancaman bencana.
“Kesiapsiagaan dan respons cepat seluruh unsur menjadi langkah penting dalam meminimalkan risiko dan dampak bencana,” pungkas Abdul Muhari.
Editor : Setiadi