x lingkaran.net skyscraper
x lingkaran.net skyscraper

Bayar Pakai Koin Jadul, Uniknya Kulineran di Pasar Lawas Lidah Ndonowati

Avatar Redaksi

Wisata & Kuliner

Surabaya, Lingkaran.net— Kalau ke Surabaya Barat, Anda harus mampir ke tempat kulineran jadul satu ini.

Konsepnya unik dengan suasana khas pedesaan. Namanya Pasar Lidah Ndonowati di Jalan Lidah Wetan Tengah XI.

Tempat kuliner yang menyajikan berbagai menu tradisional itu buka setiap Sabtu sore dan Minggu pagi.

Menariknya, cara membeli makanan dan minuman di sana juga tak kalah jadul. Yaitu menggunakan koin.

Ketua Paguyuban Pasar Lidah Ndonowati Budi Kiswono mengatakan, koin berbahan kayu itu menjadi alat transaksi utama di pasar tersebut. Tiap keping harganya Rp2.000.

“Kalau dari sudut pandang pengunjung, koin yang estetik ini kian menambah kesan jadulnya. Sedangkan dari sisi pedagang, untuk memudahkan kami mengontrol penjualan mereka,” ujar Budi saat ditemui Lingkaran.net, Minggu (27/4/2025).

Dia menjelaskan, harga menu santapan tradisional itu bervariatif. Berkisar antara 1 keping hingga 2 keping untuk makanan ringan dan minuman. Serta 4 keping sampai 5 keping untuk makanan beratnya.

Di pasar yang diisi oleh warga RW 06 Kelurahan Lidah Wetan tersebut menyajikan menu jajanan tradisional yang saat ini jarang bisa ditemui. Seperti halnya rujak gobet, jamu, getuk lindri, sate klopo, hingga kue rangin.

Para pengunjung ternyata didominasi oleh rombongan keluarga dari dalam dan luar kota. Sehingga, berbagai kalangan usia nongkrong di tempat yang sama menyantap sajian tradisional dengan suasana sederhana.

Pengusaha muda ini mengungkapkan, sejak dibuka pada 16 Desember 2023 lalu, stan di Pasar Lidah Ndonowati totalnya sekitar 34 pedagang. Jumlah stan rencananya ditambah agar menambah variasi menu.

Budi menyebut, selain penambahan stan, sejumlah fasilitas juga akan ditambah. Mereka berencana membangun panggung terbuka sebagai sarana hiburan.

“Ada pertunjukan agar ada interaksi antara pengunjung dengan para seniman. Sehingga kesan berkunjung ke Pasar Lidah Ndonowati tetap melekat,” tambahnya.

Dia menegaskan, pertunjukan tersebut dikonsep agar menambah daya tarik wisata yang dikelola swadaya olej warga tersebut. Selain itu, juga sebagai wadah pengunjung melepas penat.

Budi berharap, Pasar Lidah Ndonowati terus berkembang dengan tetap mengusung semangat gotong royong sesama warga.

Budi dan warga lainnya masih punya mimpi untuk menjadikan kampung mereka sebagai tujuan wisata di Surabaya.

Selain itu, tentunya bisa terus berinovasi dan memberikan pengasilan tambahan bagi warga Lidah Wetan.

“Saya berharap tetap guyub rukun dan bisa maju bersama,” harapnya.(Rifqi Mubarok)

Artikel Terbaru
Kamis, 10 Sep 2026 20:52 WIB | Ekbis

Gaji ASN Mau Dialihkan ke Himbara, Legislator Jatim Ingatkan Jangan Ganggu Fiskal Daerah

Lingkaran.net - Rencana gaji Aparatur Sipil Negara (ASN) daerah dialihkan ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) bukan sekadar soal memilih bank tempat gaji ...
Kamis, 10 Sep 2026 20:34 WIB | Hype

Viral Patahan Aktif Melintasi Surabaya, Pakar Geologi ITS Buka Faktanya

Lingkaran.net - Informasi mengenai keberadaan patahan aktif di Surabaya yang viral di media sosial mendapat perhatian pakar geologi Institut Teknologi Sepuluh ...
Kamis, 10 Sep 2026 20:24 WIB | Politik & Pemerintahan

Kejar PAD 2027 Rp17,7 Triliun, Pemprov Jatim Genjot Pajak Digital hingga Aset Daerah

Lingkaran.net - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur menyiapkan sejumlah strategi untuk menggenjot Pendapatan Asli Daerah (PAD) dalam RAPBD Tahun Anggaran ...