Lingkaran.net - Menjelang dibukanya Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Jawa Timur 2026, Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim menggelar simulasi pendaftaran selama dua hari, yakni 8-9 Juni 2026.
Langkah ini dilakukan agar calon siswa dan orang tua lebih memahami alur pendaftaran sekaligus menghindari kesalahan yang dapat menghambat proses seleksi.
Baca juga: SPMB 2026, KPK Ungkap 28 Persen Penerimaan Siswa Baru Masih Diwarnai Pungli
Kepala Dindik Jawa Timur, Aries Agung Paewai, mengatakan simulasi tersebut menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat mekanisme pendaftaran secara daring sebelum tahapan resmi dimulai pada 11 Juni 2026.
"Kami siapkan simulasi ini agar calon murid dan orang tua memahami mekanisme pendaftaran secara online serta terhindar dari kesalahan saat proses seleksi berlangsung," ujar Aries, Senin (8/6/2026).
Aries menjelaskan, saat ini tahapan SPMB masih berada pada proses pengambilan PIN yang berlangsung hingga 9 Juni. PIN menjadi syarat wajib bagi calon peserta didik untuk mengikuti seleksi masuk SMA dan SMK negeri di Jawa Timur.
Setelah melakukan pengisian data melalui laman resmi SPMB Jatim, calon murid diwajibkan melakukan verifikasi dan validasi data di sekolah yang direkomendasikan sistem. Setelah seluruh proses selesai, PIN dapat diunduh dan digunakan saat pendaftaran resmi dibuka.
Baca juga: BPK Buka Rapor Keuangan Jawa Timur 2025 di DPRD Jatim Besok
Menurut Aries, masih banyak masyarakat yang belum memahami secara utuh mekanisme seleksi pada masing-masing jalur penerimaan.
Karena itu, simulasi diharapkan dapat meminimalkan kesalahan teknis maupun kesalahpahaman terkait aturan seleksi.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah jalur domisili untuk SMA yang tahun ini dibuka lebih awal dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Aries menegaskan, masih banyak orang tua yang menganggap jalur domisili hanya ditentukan oleh jarak rumah ke sekolah.
Baca juga: SPMB Jatim Diawasi KPK, Pelaku Pungli Siap-Siap
Padahal, dalam proses seleksi jalur domisili SMA, faktor utama yang dipertimbangkan tetap nilai akademik. Sementara jarak atau domisili menjadi faktor berikutnya jika terdapat persaingan nilai.
"Masih ada masyarakat yang mengira jalur domisili SMA hanya berdasarkan jarak rumah terdekat dengan sekolah. Padahal yang didahulukan tetap nilai akademik, baru kemudian domisili," tegasnya.
Karena itu, Dindik Jatim mengimbau calon siswa dan orang tua memanfaatkan masa simulasi sebaik mungkin agar tidak mengalami kendala saat pendaftaran resmi dimulai. Dengan memahami seluruh tahapan sejak awal, peluang kesalahan administrasi yang dapat merugikan peserta diharapkan bisa diminimalkan.
Editor : Setiadi