Lingkaran.net - Dugaan pengkondisian peserta menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) kembali mencuat. Kali ini, isu yang beredar tak hanya menyangkut pertemuan sejumlah muktamirin di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, tetapi juga disebut berlangsung di beberapa hotel di Kota Pahlawan.
Seorang sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan mengklaim bahwa pengkondisian peserta memang terjadi. Ia menyebut sejumlah pertemuan dilakukan di beberapa lokasi, termasuk salah satu hotel di kawasan pusat kota dan Surabaya Selatan.
Baca juga: Cirebon Raya Resmi Bidik Tuan Rumah Muktamar NU ke-35, Pesantren Tua Jadi Andalan
Yang menjadi sorotan, sumber tersebut mengungkap adanya dugaan pemberian uang Rp50 juta kepada setiap peserta yang disebut dikondisikan.
“Mereka dikondisikan dengan disuap Rp50 juta per orang,” ujar sumber tersebut.
Menurut dia, setiap PCNU disebut mengirim empat orang untuk mengikuti forum, yakni Rais Syuriyah, Katib, Ketua Tanfidziyah, dan Sekretaris PCNU.
“Masing-masing dikasih Rp50 juta,” katanya.
Sumber itu mengaku informasi tersebut tidak hanya diperolehnya dari satu pihak. Ia menyebut telah melakukan konfirmasi kepada sejumlah pengurus yang disebut mengetahui langsung mengenai dugaan pemberian uang tersebut, termasuk perwakilan PCNU dari beberapa wilayah di Jawa maupun luar Jawa.
“Saya sudah konfirmasi ke beberapa pengurus yang hadir diundang dan pengakuannya sama saja. Itu masih DP 50 persen,” tegasnya.
Sejumlah Nama Tokoh Disebut
Isu tersebut juga menyeret sejumlah nama tokoh yang diklaim sumber hadir dalam forum-forum yang disebut sebagai bagian dari pengkondisian peserta Muktamar.
Salah satu nama yang disebut adalah Ketua Panitia Muktamar NU ke-35, Syaifullah Yusuf atau Gus Ipul.
“Gus Ipul hadir untuk mengkondisikan para peserta. Yang terlibat juga Prof Nuh,” ujarnya.
Sumber tersebut juga mengklaim Prof Nuh hadir dalam forum pengkondisian di lokasi berbeda.
Tak hanya itu, nama calon Ketua Umum PBNU Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin turut disebut hadir dalam salah satu pertemuan di hotel di Surabaya.
“Iya benar, pengkondisian di salah satu hotel di Surabaya hadir juga Gus Kikin,” kata sumber tersebut.
Namun, seluruh informasi mengenai dugaan pemberian uang dan keterlibatan sejumlah tokoh tersebut masih berupa klaim dari sumber yang identitasnya dirahasiakan dan memerlukan konfirmasi lebih lanjut dari pihak-pihak yang disebut.
Desakan Diskualifikasi Kandidat
Baca juga: Jelang Muktamar NU 2026, Gus Ulib Jagokan Gus Irfan Pimpin PBNU: Punya Kapabilitas dan Integritas
Munculnya isu tersebut menambah panas dinamika menjelang Muktamar ke-35 NU yang digelar di Jombang. Forum lima tahunan organisasi tersebut sebelumnya juga mendapat sorotan terkait transparansi, konsolidasi peserta hingga kabar mengenai pembatasan ruang gerak media dalam meliput sejumlah aktivitas Muktamar.
Sorotan terhadap dugaan praktik risywah juga datang dari KH Abdul Muhaimin A'wan, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ummahat Kotagede, Yogyakarta.
Ia mengecam segala bentuk tindakan yang dinilai dapat menurunkan kesakralan Muktamar NU sebagai forum tertinggi organisasi.
Bahkan, KH Abdul Muhaimin mendesak agar kandidat yang terbukti melakukan praktik risywah atau politik uang didiskualifikasi dari kontestasi.
“Kandidat yang terbukti terlibat langsung maupun tidak langsung dalam praktik risywah, wajib didiskualifikasi dalam pemilihan di Muktamar ke-35 NU,” tegas KH Abdul Muhaimin.
Ia menilai dugaan pengkondisian delegasi PWNU dan PCNU di Asrama Haji Sukolilo Surabaya merupakan persoalan serius yang harus menjadi perhatian seluruh muktamirin.
“Apa yang terjadi di Surabaya hari ini, baik pengkondisian delegasi PWNU dan PCNU di Asrama Haji Sukolilo dan pemberian mahar di beberapa hotel di Surabaya merupakan fakta adanya praktik merusak di tubuh NU yang dikomandani langsung oleh petinggi PBNU demi memuluskan paket 'istana',” ujarnya.
Menurut dia, peserta Muktamar tidak boleh membiarkan praktik yang berpotensi mencederai marwah organisasi.
Baca juga: Soroti Muktamar NU 2026, Gus Ulib Minta PCNU-PWNU Tak Pilih Tokoh Rezim Konflik
Muktamirin dan muktamirat, lanjutnya, harus berani menjaga independensi forum tertinggi NU. Sikap diam justru dikhawatirkan membuat persoalan tersebut menjadi beban moral bersama bagi organisasi.
“Muktamirin dan muktamirat harus satu suara, melawan praktik merusak yang bila kita diamkan akan tercatat sebagai dosa kolektif dan organisasi yang akan ditanggung mudharatnya oleh generasi abad kedua NU,” katanya.
Muktamar Digelar di Kampung Halaman Pendiri NU
KH Abdul Muhaimin juga mengingatkan bahwa Muktamar ke-35 memiliki nilai historis karena digelar di Jombang, yang dikenal sebagai kampung halaman sejumlah pendiri NU.
Karena itu, ia meminta seluruh tahapan Muktamar dijaga dari kepentingan politik kekuasaan yang berpotensi mencoreng marwah organisasi.
“Dan kampung halaman pendiri akan kembali ternodai oleh kartel politik kuasa dan elit di muktamar perdana di abad kedua NU,” tandasnya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan dari pihak-pihak yang disebut dalam klaim tersebut terkait dugaan pemberian uang Rp50 juta maupun kehadiran mereka dalam forum yang disebut sebagai pengkondisian peserta Muktamar.
Editor : Setiadi