Lingkaran.net - Antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU Jawa Timur belum bisa diselesaikan hanya dengan memastikan ketersediaan stok bahan bakar minyak (BBM). Percepatan distribusi dari depo ke SPBU kini menjadi pekerjaan penting untuk mengurai antrean yang meluas di sejumlah daerah.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim telah berkoordinasi dengan Pertamina Patra Niaga untuk merespons persoalan tersebut. Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa bahkan telah menggelar diskusi dengan pihak Pertamina pada Kamis malam (15/10/2026).
Baca juga: Antrean BBM Mengular di Jember, Pertamina Ungkap Dampak Geopolitik Global
“Semalam Ibu Gubernur sudah ajak diskusi Pertamina Patra Niaga,” kata Emil.
Emil menjelaskan, gangguan pasokan yang terjadi pada akhir September hingga awal Oktober lalu dipengaruhi faktor global. Namun, kondisi pasokan disebut mulai pulih sejak penghujung pekan pertama Oktober.
Dalam beberapa hari terakhir, kapal pengangkut BBM dari luar negeri juga telah bersandar di Surabaya.
Dengan kondisi tersebut, perhatian kini tertuju pada kelancaran penyaluran BBM dari terminal dan depo menuju lebih dari seribu SPBU di Jawa Timur.
Sebab, stok yang tersedia di tempat penyimpanan belum otomatis menghilangkan antrean apabila pengiriman ke SPBU belum berjalan sesuai kebutuhan.
“Sekarang tinggal menggenjot percepatan suplai ke lebih dari seribu SPBU di Jatim,” ujarnya.
Untuk mempercepat penyaluran, operasional terminal BBM Pertamina disebut telah ditingkatkan dari semula 12 jam menjadi 24 jam sehari.
Artinya, aktivitas terminal kini berlangsung dua kali lebih lama guna mempercepat proses distribusi.
“Sekarang tinggal percepatan pengiriman ke SPBU. Stok di depo sudah tersedia,” tegas Emil.
Pernyataan tersebut menjadi penjelasan penting di tengah keluhan masyarakat yang harus mengantre untuk mendapatkan Pertalite. Tantangannya bukan semata memastikan ketersediaan BBM di tingkat depo, melainkan menjaga agar pasokan dapat segera menjangkau SPBU yang mengalami lonjakan permintaan.
Baca juga: APBD Jatim 2027 Defisit Rp1 Triliun, Pemprov Andalkan Tambahan Dana Pusat
Pertamina Patra Niaga mencatat peningkatan konsumsi Pertalite di sejumlah wilayah Jawa Timur. Lonjakan permintaan terjadi di Surabaya, Malang, Kediri, Blitar, Tulungagung, Banyuwangi, hingga Bondowoso.
VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menjelaskan bahwa antrean di sejumlah SPBU dipengaruhi beberapa faktor sekaligus.
Selain meningkatnya permintaan di wilayah tertentu, terjadi pergeseran konsumsi masyarakat dari BBM nonsubsidi ke BBM bersubsidi, khususnya Pertalite dengan RON 90.
Di sisi lain, distribusi juga sempat terganggu kendala operasional armada pengangkut, termasuk persoalan teknis kapal yang memengaruhi proses pengiriman dan penerimaan pasokan.
“Antrean di sejumlah SPBU dipengaruhi peningkatan permintaan di wilayah tertentu, peralihan konsumsi dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi, serta kendala operasional, termasuk kendala teknis kapal yang berdampak pada proses distribusi dan penerimaan pasokan,” ungkap Kitty.
Kombinasi kenaikan permintaan dan hambatan distribusi tersebut membuat penanganan antrean membutuhkan percepatan suplai sekaligus penyesuaian distribusi berdasarkan kebutuhan masing-masing wilayah.
Baca juga: Emil Dardak Ramu Pengurus Demokrat Jatim, Siapa Bakal Masuk Lingkaran Inti?
Di tengah antrean yang terjadi di sejumlah SPBU, percepatan pengiriman menjadi tolok ukur penting untuk melihat sejauh mana pemulihan pasokan berjalan efektif.
Pemprov Jatim telah berkoordinasi dengan Pertamina, sementara operasional terminal BBM ditingkatkan menjadi 24 jam per hari.
Namun, masyarakat masih membutuhkan kepastian bahwa langkah tersebut segera berdampak pada kelancaran pengisian BBM di lapangan.
Dengan cakupan distribusi yang mencapai lebih dari seribu SPBU, penyaluran perlu dilakukan secara cepat dan tepat, terutama ke wilayah yang mengalami peningkatan permintaan Pertalite.
Kini, tantangannya adalah memastikan stok yang tersedia di depo benar-benar sampai ke SPBU sesuai kebutuhan. Sebab, bagi masyarakat, indikator pemulihan bukan hanya ketersediaan BBM di terminal, melainkan berkurangnya antrean dan kembalinya pelayanan pengisian BBM secara normal.
Editor : Setiadi