Lingkaran.net - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Arjuno tahun ini lebih parah dibandingkan kebakaran pada 2024. Selain dipicu musim kemarau ekstrem, titik api yang berada di ketinggian lebih dari 1.500 meter di atas permukaan laut (mdpl) membuat petugas kesulitan menjangkau lokasi kebakaran.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak mengakui beratnya penanganan kebakaran di kawasan tersebut. Di tengah medan yang sulit, Pemprov Jatim kini mengandalkan puluhan personel pemadam, strategi sekat bakar, serta pola pengawasan hutan yang lebih intensif untuk mencegah api meluas.
Baca juga: Karhutla Jatim Makin Mengkhawatirkan, 77 Persen Lahan Terbakar Berada di Hutan Konservasi
Ancaman kebakaran bahkan sempat mendekati situs bersejarah Candi Sepilar di jalur Gunung Ringgit, kompleks Gunung Arjuno. Kobaran api dilaporkan hanya berjarak sekitar 10 meter dari situs tersebut. Beruntung, belasan relawan Desa Candi Sepilar bergotong royong memadamkan api hingga berhasil dikendalikan.
Dari kejauhan, kobaran api terlihat membentuk garis di puncak gunung, sementara asap tebal menyelimuti kawasan lereng. Kondisi ini menggambarkan beratnya ancaman karhutla di salah satu kawasan pegunungan Jawa Timur tersebut.
Emil mengatakan, lokasi titik api di atas 1.500 mdpl menjadi tantangan tersendiri bagi petugas. Medan yang sulit dijangkau, ditambah kondisi kemarau ekstrem, membuat upaya pemadaman tidak bisa dilakukan secara mudah.
Untuk menangani kebakaran di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, Pemprov Jatim mengoptimalkan 53 personel Manggala Agni yang dibantu puluhan personel Dinas Kehutanan.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah membuat sekat bakar untuk menghambat pergerakan api agar tidak merembet ke kawasan lain.
Sementara itu, helikopter untuk pemadaman melalui pengeboman air (water bombing) difokuskan ke wilayah lain. Karena itu, upaya pengendalian di Gunung Arjuno bertumpu pada pengerahan personel dan strategi pencegahan perluasan kebakaran.
Baca juga: Tak Perlu Bolak-balik ke Pesantren, Kemenag Jatim Luncurkan El-Santri untuk Pantau Anak
“Untuk masalah kebakaran hutan, sekali lagi kami sampaikan, wilayah yang mengalami kebakaran ini ada yang masuk taman nasional yang dikelola Kementerian Kehutanan, Perhutani, dan taman hutan raya yang dikelola Pemprov Jatim,” ungkap Emil saat ditemui awak media, Jumat (23/10/2026).
Menurut Emil, pembagian kewenangan pengelolaan hutan tersebut membuat setiap instansi memiliki perangkat dan tanggung jawab masing-masing. Karena itu, optimalisasi penanganan perlu disesuaikan dengan wilayah pengelolaan masing-masing.
“Tiga-tiganya ini punya perangkat yang berbeda-beda. Kita ingin optimalkan di taman hutan raya ini,” tambahnya.
Tim Permanen Disiagakan
Baca juga: Karhutla Capai 9.540 Hektare, DPRD Jatim Desak Khofifah Perkuat Mitigasi
Selain mengandalkan personel dan sekat bakar, Pemprov Jatim juga mengubah pola penanganan karhutla. Jika sebelumnya petugas baru dikumpulkan setelah kebakaran terjadi, kini tim permanen disiagakan setiap hari untuk memantau kawasan hutan dan mengantisipasi munculnya titik api.
Dalam pembagian penanganan, Kementerian Kehutanan berfokus pada kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan Baluran. Perhutani menangani kebakaran di wilayah hutan yang dikelolanya, sedangkan Pemprov Jatim memusatkan penanganan di kawasan Tahura Raden Soerjo, termasuk Gunung Arjuno.
Perubahan pola tersebut diharapkan mempercepat deteksi dini dan respons petugas terhadap potensi kebakaran.
Terlebih, karhutla di Gunung Arjuno tahun ini menunjukkan bahwa kondisi kemarau ekstrem dan medan yang sulit dapat meningkatkan tantangan pemadaman sekaligus mengancam kawasan hutan dan situs bersejarah di sekitarnya.
Editor : Setiadi