Empat BUMD Jatim Tanpa Komisaris dan Direksi Sejak 2024, Krisis Kepemimpinan?

Reporter : Redaksi
Erick Komala anggota DPRD Jawa Timur

Surabaya, Lingkaran.net Sejumlah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) strategis milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur tengah menghadapi kondisi serius yakni kosongnya jabatan Komisaris dan Direksi yang berlarut-larut hingga nyaris setahun.

Hal ini menimpa empat BUMD besar, yakni PT BPR Jatim, PT Jatim Graha Utama (JGU), PT Panca Wira Usaha (PWU), dan PT Air Bersih Jatim.

Baca juga: Freddy Poernomo: Kasus Hibah Harus Jadi Momentum Pembenahan DPRD Jatim

Kondisi ini disorot tajam oleh Fraksi PPP–PSI DPRD Jatim, yang menyebut kekosongan tersebut sebagai ancaman nyata bagi kinerja BUMD dan penerimaan daerah.

“Ini bukan sekadar masalah administratif. Ini menyangkut arah dan kelangsungan bisnis BUMD yang seharusnya menopang ekonomi daerah. Tanpa pemimpin, bagaimana perusahaan bisa bergerak?” tegas Erick Komala, juru bicara Fraksi PPP–PSI, dalam pernyataan resminya pada rapat Paripurna DPRD Jatim, Kamis (15/5/2025).

[caption id="attachment_9193" align="aligncenter" width="300"]Komisaris dan direksi kosong di BUMD Jatim. Ilustrasi Lingkaran.net Komisaris dan direksi kosong di BUMD Jatim. Ilustrasi Lingkaran.net[/caption]

Politikus asal Surabaya ini pun menyesalkan, meski Panitia Seleksi telah dibentuk sejak Juni 2024, hingga kini tidak ada kejelasan siapa yang akan mengisi kursi-kursi strategis tersebut. Ia menilai proses seleksi berjalan lambat dan minim transparansi.

Baca juga: DPRD Jatim Ubah Status PT Petrogas Jadi Perseroda, Apa Dampaknya bagi PAD dan Energi Daerah?

Lebih memprihatinkan lagi, lanjut Erick, kondisi ini terjadi saat kinerja keuangan BUMD justru belum optimal. Realisasi PAD tahun 2024 dari BUMD hanya mencapai 99,70ri target, dan nyaris stagnan dibandingkan penyertaan modal daerah yang sudah mencapai Rp4,162 triliun.

“Ini alarm bagi Pemprov. Kita sudah gelontorkan triliunan rupiah ke BUMD, tapi hasilnya tidak sebanding. Sementara manajemen puncak justru kosong. Ini harus segera dibenahi,” kata Erick.

Tak hanya kekosongan jabatan, Fraksi PPP–PSI juga mengungkap persoalan disharmoni internal di sejumlah BUMD, termasuk kurangnya koordinasi antara Komisaris dan Direksi yang berujung pada stagnasi dan konflik manajemen.

Baca juga: Anggaran Elektrifikasi Nyaris Rp8 Miliar, DPRD Jatim Soroti Validitas Data Penerima

“Kita tidak ingin BUMD menjadi ‘ladang nyaman’ yang miskin prestasi. Butuh kepemimpinan yang kuat, transparan, dan profesional. Kalau tidak segera diisi, maka kita sedang membiarkan perusahaan-perusahaan daerah ini berjalan tanpa arah,” tandasnya.

Fraksi PPP–PSI mendesak Gubernur Jatim untuk segera mengambil langkah tegas dan terbuka terkait rekrutmen pimpinan BUMD, serta mempercepat restrukturisasi manajemen.

“Ini soal tanggung jawab publik dan marwah pemerintahan. Jangan tunggu BUMD bangkrut dulu baru sibuk bersih-bersih,” pungkas Erick dengan nada tegas. Alkalifi Abiyu

Editor : Redaksi

Politik & Pemerintahan
Berita Populer
Berita Terbaru