Lingkaran.net - Musyawarah Daerah (Musda) VII Partai Demokrat Jawa Timur semakin mendekati babak penentuan. Pendaftaran bakal calon Ketua DPD Demokrat Jatim dijadwalkan berlangsung 14–20 Agustus 2026.
Sementara Musda akan digelar pada 29 Agustus 2026 di Surabaya. Forum ini nantinya menjaring maksimal tiga nama untuk mengikuti tahapan fit and proper test di DPP sebelum ketua ditetapkan.
Pertanyaannya sederhana, tetapi jawabannya tidak sesederhana itu:
Siapa yang paling berpeluang memimpin Demokrat Jatim periode 2026–2031?
Untuk saat ini, nama Emil Elestianto Dardak masih berada di posisi terdepan.
Bukan semata karena Emil merupakan Ketua DPD Demokrat Jatim saat ini, tetapi karena dukungan dari struktur partai di daerah terlihat terus menguat.
DPC Demokrat Surabaya, misalnya, secara terbuka menyatakan dukungan agar Emil kembali memimpin Demokrat Jatim.
Dukungan tersebut disebut diberikan berdasarkan penilaian terhadap kinerja dan konsolidasi organisasi, bukan karena pembagian jabatan.
Dukungan serupa juga pernah disampaikan DPC Demokrat Kota Mojokerto. Ketua DPC Deny Novianto bahkan menyebut pihaknya telah sepakat mengusung Emil untuk periode berikutnya dan menilai Emil masih dibutuhkan untuk menjaga soliditas serta menggerakkan mesin partai di Jawa Timur.
Emil: Petahana dengan Modal Konsolidasi
Dalam politik internal partai, dukungan struktur tentu menjadi modal penting. Emil memiliki keuntungan sebagai petahana.
Ia sudah memahami karakter organisasi Demokrat Jatim, jaringan DPC, dinamika internal, sekaligus posisi partai dalam pemerintahan Jawa Timur.
Lebih dari itu, Emil juga memiliki panggung politik sebagai Wakil Gubernur Jawa Timur.
Kombinasi antara jabatan publik dan posisi struktural partai membuat Emil memiliki modal yang relatif lengkap. Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: ketua Demokrat Jatim bukan ditentukan hanya oleh popularitas atau dukungan DPC.
Mekanisme Musda akan menghasilkan nama-nama calon, kemudian mereka mengikuti proses fit and proper test di DPP. Keputusan akhir tetap berada di tangan DPP Partai Demokrat.
Artinya, dukungan daerah penting, tetapi bukan satu-satunya tiket kemenangan.
Lalu, Siapa Penantangnya?
Di sinilah menariknya.
Sampai menjelang pembukaan pendaftaran, belum terlihat figur penantang Emil yang memiliki arus dukungan terbuka dan sebesar petahana.
Sejumlah nama kader memang pernah muncul dalam dinamika Demokrat Jatim. Namun, konteksnya perlu dibedakan antara nama yang diperbincangkan dengan nama yang benar-benar mendaftar sebagai calon Ketua DPD pada Musda 2026.
Karena pendaftaran baru dibuka 14 Agustus, peta sesungguhnya masih mungkin berubah.
Dan justru di titik inilah Musda Demokrat Jatim menarik untuk diamati. Apakah akan muncul kandidat yang benar-benar berani menantang Emil?
Atau Musda akan menjadi forum konsolidasi yang mengantarkan Emil kembali memimpin.
Kunci Bukan Hanya Ketua, tetapi Tim di Belakangnya
Jika Emil kembali dipercaya, pertarungan berikutnya justru akan semakin menarik: siapa Sekretaris dan Bendahara DPD Demokrat Jatim?
Sebab posisi tersebut akan menentukan bagaimana kepemimpinan lima tahun ke depan dijalankan.
Sejumlah nama sempat muncul dalam bursa sekretaris, antara lain Sukur Priyanto, Mugianto atau yang akrab disapa Kang Obeng, Agung Mulyono, hingga Mohammad Arbayanto.
Namun, jangan buru-buru menganggap nama-nama tersebut sebagai kandidat resmi. Posisi sekretaris dan bendahara bukan bagian dari penjaringan calon ketua dalam Musda.
Ketua terpilih bersama tim formatur nantinya memiliki peran penting dalam menyusun kepengurusan. Karena itu, siapa yang menjadi Sekretaris Demokrat Jatim akan menjadi salah satu indikator arah politik internal setelah Musda.
Emil Paling Kuat, tetapi Politik Selalu Menyisakan Kejutan
Jika menggunakan indikator yang terlihat publik saat ini dukungan DPC, posisi petahana, pengalaman organisasi, panggung pemerintahan, dan konsolidasi internal, maka Emil Dardak adalah figur yang paling kuat.
Tetapi politik tidak pernah hanya soal siapa yang paling banyak disebut. Politik adalah soal siapa yang mampu mengonsolidasikan dukungan sampai detik terakhir.
Karena itu, prediksi paling realistis saat ini adalah: Emil Dardak masih menjadi kandidat terkuat.
Namun, peluang itu belum bisa disebut sebagai keputusan final sebelum seluruh tahapan Musda dan fit and proper test DPP selesai.
Justru 14–29 Agustus 2026 akan menjadi periode penting untuk melihat apakah muncul penantang serius atau justru semakin kuat arus dukungan kepada petahana.
Jika tidak ada kejutan besar, Emil berpeluang besar melanjutkan kepemimpinan Demokrat Jatim.
Tetapi jika muncul kandidat baru dengan dukungan lintas-DPC dan mampu meyakinkan DPP, peta bisa berubah dalam hitungan hari.
Sebab dalam politik, yang terlihat sebagai “calon terkuat” hari ini belum tentu menjadi “ketua terpilih” besok.
Dan satu pertanyaan yang tak kalah menarik setelah itu: Jika Emil kembali memimpin, siapa yang akan menjadi orang nomor dua dan tiga di Demokrat Jatim?
#Catatan Redaksi Lingkaran.net
Editor : Setiadi