Lingkaran.net - Elektabilitas Partai Demokrat di Jawa Timur mengalami dinamika dalam setahun terakhir. Setelah sempat berada di angka 12,5 persen pada Oktober 2025, elektabilitas Demokrat disebut turun hingga sekitar 9 persen pada Februari 2026. Kurang masifnya pergerakan partai di tingkat bawah dinilai menjadi salah satu penyebab penurunan tersebut.
Direktur Accurate Research and Consulting Indonesia (ARCI), Baihaki Sirajt, mengatakan hasil survei lembaganya menunjukkan adanya korelasi antara intensitas pergerakan mesin partai dengan tingkat elektabilitas. Ketika konsolidasi dan aktivitas partai masif, tingkat dukungan masyarakat cenderung ikut terdongkrak.
"Pada Oktober 2025 survei ARCI untuk Partai Demokrat meraih 12,5 persen, tapi pada Februari turun menjadi sekitar 9 persen akibat kurang masifnya pergerakan partai. Temuan kami, ketika gerakan partai masif maka secara elektoral juga naik," kata Baihaki, (Jumat 4/9/2026).
Menurutnya, kondisi Demokrat berbeda dengan Partai Gerindra yang dinilai memiliki pergerakan kader di bawah cukup kuat, termasuk melalui pemerintahan daerah.
Hal itu membuat elektabilitas Gerindra relatif terus mengalami peningkatan. Sementara Demokrat di sejumlah daerah Jawa Timur cenderung stagnan.
Baihaki menyebut Pacitan menjadi salah satu daerah yang menunjukkan basis Demokrat relatif stabil. Kekuatan Demokrat juga terlihat di Dapil VII Jawa Timur untuk DPR RI, yang menurutnya tidak terlepas dari efek elektoral Edhie Baskoro Yudhoyono. "Daerah selain Dapil VII relatif stagnan. Kemudian di Dapil VI juga ada pergeseran pemilih," ujarnya.
Meski sempat merosot pada Februari, Baihaki melihat elektabilitas Demokrat mulai kembali bergerak naik.
Menurut dia, salah satu faktornya adalah Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Timur Emil Elestianto Dardak yang sejak Juli hingga Agustus 2026 mulai lebih intens membawa identitas partai dalam berbagai aktivitas politik dan konsolidasi.
"Pada waktu survei turun di Februari 2026, konsolidasi Pak Emil belum banyak membawa nama partai. Mulai Juli-Agustus ini Pak Emil sudah lumayan sering membawa nama Partai Demokrat. Sekarang surveinya sudah mulai naik," jelas Baihaki.
Dari sisi pengenalan tokoh, Demokrat dinilai memiliki modal karena figur ketua di tingkat Jawa Timur maupun pusat sama-sama dikenal masyarakat.
Kondisi itu berbeda dengan sejumlah partai lain. Baihaki mencontohkan PSI yang menurut temuan ARCI berada pada kisaran 5 persen, namun pengenalan terhadap ketua partai di tingkat wilayah hanya sekitar 3,5 persen.
Menurutnya, dukungan terhadap PSI lebih banyak dipengaruhi efek figur Joko Widodo. Sementara pada NasDem, masyarakat dinilai lebih mengenal Surya Paloh dibandingkan pengurus partai di tingkat wilayah.
Baihaki menilai peluang Demokrat meningkatkan kembali elektabilitas menuju Pemilu 2029 masih terbuka. Namun, pekerjaan utamanya adalah memperkuat struktur dan konsolidasi hingga tingkat paling bawah.
"Demokrat ini bisa naik lagi asalkan rajin konsolidasi dan memenuhi struktur partai hingga tingkat kelurahan, desa, bahkan RT. Kuncinya struktur partai harus diperkuat sampai tingkat bawah," tegasnya.
Ia mencontohkan kekuatan struktur PKB dan PDI Perjuangan yang menurut temuan ARCI telah menjangkau lebih dari 75 persen struktur di tingkat ranting. Sementara sejumlah partai menengah masih relatif lemah pada level tersebut.
"Kenapa PDIP kuat? Pengurusnya sampai tingkat bawah, bahkan RT. Ini yang membuat mesin partai mudah bergerak dan mudah ditemukan ketika dilakukan sampling," pungkas Baihaki.
Editor : Setiadi