x lingkaran.net skyscraper
x lingkaran.net skyscraper

Canggih! Hanya Rogoh Kocek Rp 5 Juta, Dua Siswa Surabaya Ciptakan Alat Deteksi Disleksia Berbasis Mobile

Avatar Redaksi

Jeda Ngopi

Surabaya, Lingkaran.net Siapa bilang deteksi disleksia harus rumit dan memakan waktu? Dua siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 2 Surabaya, Fathi Zahiya dan Nur Maisyah Ilmira, telah menciptakan alat inovatif yang memungkinkan deteksi disleksia hanya melalui aplikasi mobile.

Aplikasi yang mereka beri nama "DMD" ini memanfaatkan teknologi canggih Neural Network dan Elektroensefalografi (EEG) untuk memantau gelombang otak.

Dengan perangkat sederhana yang ditempelkan pada kepala pengguna, sensor EEG akan merekam gelombang otak—seperti alfa, beta, delta, gama, dan theta—dan menganalisisnya secara cepat.

Hasilnya? Skor deteksi disleksia yang akurat langsung keluar tanpa harus menunggu berhari-hari.

“Metode ini jauh lebih praktis dan hasilnya lebih cepat dibandingkan tes psikologis tradisional yang bisa memakan waktu hingga 10 hari,” ungkap Fathi, Senin (9/9/2024).

Menariknya, meski teknologi ini terbilang canggih, biaya pembuatan alat hanya sekitar Rp 5 juta.

Waktu pembuatan? Tak lebih dari dua bulan! Dengan biaya dan waktu yang terjangkau, alat ini bisa menjadi terobosan besar di dunia pendidikan dan kesehatan, khususnya dalam deteksi dini disleksia.

Guru pembimbing mereka, Vira Wardati, mengakui bahwa teknologi EEG ini belum banyak digunakan oleh psikolog, padahal potensinya sangat besar.

“Dengan alat ini, orang tua bisa lebih cepat mendeteksi gejala disleksia pada anak mereka, sehingga terapi bisa segera dimulai,” ujar Vira.

Disleksia adalah gangguan yang menyebabkan kesulitan dalam membaca dan menulis. Data dari Dyslexia Center Indonesia (2019) menunjukkan bahwa sekitar 10 persen populasi di Indonesia mengalami disleksia, namun banyak kasus terlambat terdeteksi karena metode observasi tradisional yang melelahkan dan seringkali tidak efektif.

Dengan alat deteksi berbasis mobile ini, Fathi dan Nur berharap bisa mengubah cara masyarakat mendeteksi disleksia. Tidak hanya cepat, alat ini juga membuat proses deteksi lebih mudah diakses oleh semua kalangan.

Alat "DMD" ini memang tidak berfungsi sebagai terapi, melainkan untuk deteksi dini. Namun, langkah awal ini penting untuk mencegah dampak lebih lanjut dari disleksia pada anak-anak. Dengan teknologi yang mereka ciptakan, Fathi dan Nur berharap bisa memberikan dampak besar pada dunia pendidikan di Indonesia.

“Semoga dengan alat ini, makin banyak anak yang bisa segera mendapatkan terapi yang tepat, tanpa harus melewati proses panjang dan sulit,” tutup Fathi.

Keren, bukan? Inovasi dari dua siswa ini membuktikan bahwa solusi besar bisa datang dari ide sederhana dan teknologi yang tepat!

Reporter: Achmad Rifaldi Maulana/mg

Artikel Terbaru
Sabtu, 30 Mei 2026 18:21 WIB | Umum

Awas, KPK Temukan Pungli, Uang Bangku hingga Titipan Siswa di SPMB 2026

Lingkaran.net - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap sejumlah praktik curang yang masih membayangi pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) ...
Sabtu, 30 Mei 2026 14:02 WIB | Umum

Gus Ulib Ungkap Fakta Pelayanan Haji 2026: Tenda Sesak, Maktab Jauh, Jemaah Kurang Pendampingan

Lingkaran.net - Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang, KH Zainul Ibad Wijaya As’ad atau yang akrab disapa Gus Ulib, melontarkan kritik tajam terhadap p ...
Sabtu, 30 Mei 2026 11:40 WIB | Politik & Pemerintahan

Saat Kasus Pokir Menyeret Ketua DPRD Suratno, Pemkab Magetan Sabet WTP ke-12 Kalinya

Lingkaran.net - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magetan kembali menorehkan capaian positif dalam tata kelola keuangan daerah. Di tengah sorotan publik terhadap ...