Lingkaran.net - Tingginya angka penyakit Tuberkulosis (TBC) di Indonesia yang menempati posisi kedua terbesar di dunia mendorong mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menghadirkan inovasi teknologi kesehatan.
Melalui riset dan pengembangan intensif, tim mahasiswa ITS menciptakan alat deteksi dini TBC berbasis suara batuk sebagai solusi skrining yang murah, mudah diakses, dan portable.
Baca juga: Jatim Jadi Episentrum Super Flu, DPRD Tegur Dinkes
Inovasi ini dirancang untuk menjawab keterbatasan akses masyarakat terhadap alat skrining dan diagnosis TBC standar, terutama di wilayah dengan fasilitas kesehatan terbatas.
TBC sendiri merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis (Mtb) yang menyerang jaringan paru-paru, dengan batuk kronis lebih dari dua hingga tiga minggu sebagai gejala utamanya.
Ketua tim pengembang, Nathania Cahya Romadhona, menjelaskan bahwa suara batuk memiliki karakteristik inharmonik dengan pola spektral tidak beraturan, sehingga menjadi tantangan tersendiri dalam proses analisis sinyal.
Sementara itu, kebanyakan sistem kecerdasan buatan masih berfokus pada fitur akustik konvensional seperti Mel-Frequency Cepstral Coefficients (MFCC).
“Diperlukan pendekatan yang mampu menangkap kompleksitas sinyal batuk secara lebih komprehensif,” ujar Nathania, Jumat (2/1/2026).
Untuk menjawab tantangan tersebut, tim memanfaatkan metode deep learning dengan memadukan Yet Another Mel Spectrogram Network (YAMNet) guna memvalidasi dan mengklasifikasikan jenis suara batuk. Model ini dinilai unggul karena memiliki akurasi dan performa tinggi dalam berbagai kondisi lingkungan perekaman.
Tak berhenti di situ, tim bimbingan Dr Eng Dhany Arifianto ST MEng yang beranggotakan Nikolas Stanislaus Sanjaya, Faisal Azmi Sirajudin, Miskiyah, dan M Rizki Dwi Kurnia Putra juga melakukan modifikasi arsitektur deep learning.
Baca juga: Rancang Halte Masa Depan, Mahasiswa Arsitektur ITS Sabet Juara II Kompetisi Nasional Transjakarta
Ekstraksi fitur MFCC diproses sebagai input ke dalam model Long Short-Term Memory (LSTM) untuk meningkatkan kemampuan sistem dalam membedakan batuk TBC dan non-TBC secara lebih akurat.
Inovasi yang diberi nama TBCare ini turut dilengkapi dengan perangkat perekam suara batuk berbasis Internet of Things (IoT).
Perangkat tersebut dapat terhubung langsung dengan basis data rumah sakit, sehingga pengelolaan dan pengiriman data medis bisa dilakukan secara efisien dan berkelanjutan.
“Perangkat ini dirancang sebagai alat pra-skrining TBC yang portable dan mudah dioperasikan oleh kader kesehatan di berbagai daerah,” jelas Nathania.
Berdasarkan hasil uji validasi medis, sistem TBCare mampu mengklasifikasikan batuk tuberkulosis dengan tingkat sensitivitas mencapai 76 persen.
Baca juga: ITS Kembangkan Paving Anti-Banjir Ramah Lingkungan dari Limbah PLTU
Pengembangan teknologi ini menggunakan data primer dari 17 pasien di Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) dan telah mencapai Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) level 6.
Capaian tersebut mengantarkan tim PKM-Karsa Cipta (PKM-KC) ITS meraih medali emas pada Pekan Ilmiah Nasional Mahasiswa (Pimnas) 2025.
Selain prestasi akademik, inovasi ini juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-3 (kehidupan sehat), ke-9 (inovasi industri), dan ke-10 (mengurangi ketimpangan).
Nathania berharap, teknologi deteksi dini TBC berbasis suara batuk ini dapat menjadi bagian dari upaya nasional dalam mendukung eliminasi TBC di Indonesia pada tahun 2030.
Editor : Setiadi