Keutamaan Bulan Sya’ban, Panduan Amalan dan Niat Puasa

Reporter : Redaksi
Ilustrasi Bulan Sya'ban. (ChatGpt)

Lingkaran.net - Umat Islam akan segera memasuki salah satu momentum spiritual penting, yakni bulan Sya’ban dan malam Nisfu Sya’ban. 

Berdasarkan perhitungan kalender Hijriyah global (hisab), 1 Sya’ban 1447 Hijriah diperkirakan jatuh pada 20 Januari 2026, dan berakhir sekitar 17 atau 18 Februari 2026. 

Sementara itu, Nisfu Sya’ban (15 Sya’ban) diperkirakan bertepatan dengan 3 Februari 2026, sedangkan awal Ramadhan 1447 H diperkirakan mulai 18 atau 19 Februari 2026.

Keutamaan Bulan Sya’ban dan Nisfu Sya’ban

Pendakwah Buya Yahya menjelaskan bahwa bulan Sya’ban memiliki keutamaan besar dalam syariat Islam. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan pada bulan ini adalah puasa sunnah Sya’ban.

Dinukil dari laman resminya, Puasa di bulan Sya’ban itu termasuk sunnah karena melatih agar nanti ketika Ramadhan tiba, kita sudah terbiasa dengan puasa. 

Selain sebagai latihan menyambut Ramadhan, Sya’ban juga merupakan bulan yang kerap dilalaikan oleh banyak manusia. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sejumlah hadits Nabi Muhammad SAW. Meski begitu, Buya Yahya menegaskan bahwa umat Islam tidak perlu mengkhususkan hari tertentu di bulan Sya’ban untuk berpuasa.

Tidak ada hadits shahih yang secara khusus menentukan hari tertentu untuk puasa Sya’ban. Yang ada adalah riwayat tentang anjuran berpuasa di bulan Sya’ban secara umum.

Selain puasa, menghidupkan malam Nisfu Sya’ban juga memiliki kedudukan istimewa. Buya Yahya menyampaikan bahwa jumhur ulama berpendapat, menghidupkan malam Nisfu Sya’ban hukumnya sunnah, baik dilakukan secara berjamaah maupun sendiri-sendiri.

Malam Nisfu Sya’ban boleh diisi dengan berbagai ibadah seperti shalat, doa, puasa, dan amalan kebaikan lainnya. Inilah yang diamalkan oleh para ulama.

Sementara itu, mengutip laman NU Online Jawa Timur, terdapat beberapa amalan yang dianjurkan untuk dilakukan selama bulan Sya’ban, di antaranya:

- Memperbanyak puasa sunnah
- Memperbanyak istighfar dan doa
- Memperbanyak Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW

Tata Cara Puasa Sya’ban dan Niatnya

Hadist riwayat Muttafaqun ‘Alaih dilansir dari NU Online Lampung: 

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لَا يُفْطِرُ؛ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لَا يَصُومُ. وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِي شَعْبَانَ. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ)  

Artinya: Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra, ia berkata, Rasulullah saw sering berpuasa sehingga kami katakan “Beliau tidak berbuka; beliau juga sering tidak berpuasa sehingga kami katakan: ‘Beliau tidak berpuasa, aku tidak pernah melihat Rasulullah saw menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau dalam sebulan (selain Ramadhan) berpuasa yang lebih banyak daripada puasa beliau di bulan Sya’ban’” (Muttafaqun ‘Alaih. Adapun redaksinya adalah riwayat Muslim).

Tata cara puasa Sya’ban:

- Niat puasa dilakukan sejak malam hari hingga sebelum terbit fajar.
- Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
- Dianjurkan memperbanyak doa, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan shalawat selama berpuasa.

Lafal niat puasa sunnah Sya’ban:

Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnati sya’bâna lillâhi ta‘âlâ.

Artinya:
Saya niat puasa sunnah Sya’ban esok hari karena Allah Ta’ala.

Dengan memahami keutamaan, waktu, serta amalan yang dianjurkan, diharapkan umat Islam dapat memanfaatkan bulan Sya’ban dan malam Nisfu Sya’ban sebagai momentum memperkuat keimanan, sekaligus persiapan menyambut bulan suci Ramadhan.

Editor : Baehaqi

Politik & Pemerintahan
Berita Populer
Berita Terbaru