Lingkaran.net - Kisah penjual es kelapa muda (degan) mendaftarkan 24 anggota keluarganya pergi haji viral di media sosial. Pria bernama Haji Ali (61) warga Goa, Sulawesi Selatan itu mengundang decak kagum dan menginspirasi banyak orang.
Bagaimana tidak, di balik sosoknya yang sederhana, Haji Ali menyimpan tekad besar: memastikan anak, cucu, dan keponakannya bisa menunaikan ibadah haji.
Baca juga: Isu Penundaan Haji 2026 Mencuat, Pemerintah Pastikan Jadwal Keberangkatan Tetap Aman
Sebanyak 36 anggota keluarga diboyong ke Kantor Kementerian Haji dan Umrah Gowa saat pendaftaran. Mereka datang beriringan menggunakan lima mobil dan belasan motor.
“Kami telah menerima rombongan H Ali yang mendaftarkan anak, ponakan, dan cucu-cucunya,” kata Kepala Kantor Kemenhajumrah Gowa, H Alim Bahri.
Bagi masyarakat sekitar, pemandangan ini terasa tidak biasa. Seorang penjual es kelapa mendaftarkan puluhan anggota keluarganya untuk berhaji sekaligus menjadi cerita yang menginspirasi.
Belajar dari Pengalaman, Menabung untuk Ibadah
Haji Ali bukan orang baru dalam perjalanan haji. Ia telah dua kali menunaikan ibadah tersebut, yakni pada 1996 dan 2012.
Dari pengalaman itulah ia memahami panjangnya antrean haji di Indonesia. Ia tak ingin anak dan cucunya harus menunggu terlalu lama tanpa persiapan.
Baca juga: DPR Ungkap Isu Prioritas: Haji 2026, Super Flu, dan Alih Fungsi Hutan
Karena itu, ia memilih mendaftarkan mereka sejak sekarang, meski keberangkatan diperkirakan masih lama.
Berdasarkan estimasi, 24 anggota keluarganya kemungkinan baru akan berangkat sekitar tahun 2050. Waktu tunggu yang panjang tidak menyurutkan niatnya.
“Semoga Allah memberikan umur panjang dan dapat menunaikan rukun Islam yang kelima itu,” ucapnya.
Bagi Haji Ali, ini bukan sekadar soal perjalanan ke Tanah Suci, tetapi tentang warisan nilai dan harapan bagi generasi berikutnya.
Baca juga: Khofifah Sodorkan RTE Jatim untuk Layanan Haji, Wakil Ketua DPRD: Terobosan Besar untuk UMKM
Cerminan Realita Antrean Haji di Indonesia
Kisah Haji Ali juga menggambarkan realita antrean haji di Indonesia yang bisa mencapai puluhan tahun. Banyak masyarakat kini mulai merencanakan ibadah haji sejak dini.
Langkah sederhana namun penuh makna dari seorang penjual es kelapa ini menjadi pengingat bahwa niat dan usaha sering kali melampaui keterbatasan.
Editor : Ihya Ulumuddin