Lingkaran.net - Thinkleap Indonesia sukses menggelar kegiatan Launching dan Bedah Buku Pembangunan Inklusif: Harapan, Realitas, dan Tantangan melalui Zoom Meeting, Sabtu (25/4).
Agenda ini menjadi ruang diskusi strategis yang mempertemukan akademisi, praktisi, dan pegiat sosial untuk membahas masa depan pembangunan Indonesia yang lebih adil, partisipatif, dan berkelanjutan.
Baca juga: BPBD Jatim Genjot Edukasi Bencana di Sekolah dan Pesantren Lewat Program Mosipena
Direktur Utama Teguh Imami dalam sambutannya menyampaikan bahwa Thinkleap lahir dari kegelisahan atas berbagai persoalan bangsa, mulai dari pertumbuhan ekonomi yang belum selalu sejalan dengan kesejahteraan masyarakat, program sosial yang belum tepat sasaran, hingga kebijakan yang belum sepenuhnya berpijak pada realitas di lapangan.
Menurutnya, perubahan yang baik harus dimulai dari riset yang kuat dan berpihak pada kebutuhan masyarakat.
“Membangun Indonesia tidak cukup dengan niat baik, tetapi membutuhkan pemahaman yang benar,” tegasnya.
Buku Pembangunan Inklusif sendiri merupakan karya kolaboratif yang ditulis oleh para akademisi dari berbagai kampus terkemuka di Indonesia, praktisi, mahasiswa, serta aktivis sosial.
Buku ini menghadirkan ragam perspektif tentang tantangan pembangunan sekaligus menawarkan gagasan solutif menuju Indonesia yang lebih setara.
Forum ini menghadirkan narasumber utama, yakni Munari Kustanto, Deni Aris Kurniawan, dan Yelly Yelanda, dengan moderator Agil Darmawan.
Baca juga: BBP Jatim Teguhkan Peran Strategis Penguatan Bahasa Indonesia, Gandeng Multipihak di Kota Malang
Dalam paparannya, Munari menegaskan bahwa pembangunan inklusif harus dimulai dari perubahan paradigma, yakni tidak lagi sekadar mengejar angka pertumbuhan ekonomi, tetapi memastikan seluruh hasil pembangunan dapat diakses secara adil oleh semua lapisan masyarakat.
Sementara itu, Deni Aris Kurniawan menyoroti pentingnya hilirisasi pertanian yang tidak hanya berorientasi pada nilai tambah produk, tetapi juga menjadi instrumen pemerataan kesejahteraan.
Menurutnya, petani kecil masih menghadapi berbagai hambatan seperti keterbatasan modal, teknologi, akses pasar, dan tingginya risiko usaha. Karena itu, hilirisasi harus dibangun melalui penguatan kapasitas petani, pembiayaan yang inklusif, koperasi yang kuat, serta kemitraan yang adil dengan industri.
Adapun Yelly Elanda mengangkat isu kota inklusif melalui studi tentang Surabaya sebagai kota multikultural.
Baca juga: Tips Mengatasi Anak Malas Sekolah usai Libur Panjang
Ia menilai keberagaman kota seringkali dibayangi segregasi ruang dan sosial, salah satunya melalui fenomena gated community yang mempersempit ruang interaksi publik dan memperkuat ketimpangan akses.
Karena itu, pembangunan kota inklusif harus diarahkan pada reformasi tata ruang berbasis keadilan, penguatan kampung kota, serta perluasan ruang publik yang terbuka bagi semua warga.
Melalui kegiatan ini, Thinkleap Indonesia berharap lahir gagasan-gagasan baru dan kolaborasi nyata demi mewujudkan pembangunan Indonesia yang lebih merata dan berkeadilan.
Thinkleap sendiri berfokus pada layanan di bidang riset, pelatihan, dan penulisan sebagai kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.
Editor : Setiadi