Krisis Iklim Mengintai, Pakar Unair Soroti Energi Menipis dan Ancaman Mikroplastik

Reporter : Alkalifi Abiyu
Ilustrasi krisis iklim

Lingkaran.net - Bumi sedang tidak baik-baik saja. Saat kebutuhan energi terus melonjak dan sampah semakin menggunung, ancaman baru bernama mikroplastik dan mikropolutan diam-diam menyusup ke lingkungan sekitar manusia.  

Pada momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, pakar lingkungan Universitas Airlangga (Unair) mengajak masyarakat bergerak sebelum dampak krisis iklim semakin sulit dikendalikan. 

Baca juga: PDIP DPRD Jatim Wanti-wanti Krisis Air Bersih, Daerah Rawan Kekeringan Diminta Bersiap

Pakar lingkungan dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Unair, Nur Indradewi Oktavitri, mengingatkan bahwa kondisi lingkungan saat ini tidak bisa lagi dianggap sebagai persoalan masa depan. Berbagai masalah mulai dari menipisnya sumber energi, meningkatnya volume sampah, hingga ancaman mikropolutan sudah dirasakan dampaknya saat ini. 

Menurut dosen yang akrab disapa Nio tersebut, kebutuhan energi nasional terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk. Di sisi lain, ketersediaan energi konvensional semakin terbatas sehingga diperlukan langkah serius untuk mengembangkan energi alternatif yang lebih ramah lingkungan. 

“Jumlah penduduk terus bertambah, kebutuhan energi juga meningkat. Karena itu, pemanfaatan energi alternatif seperti tenaga surya maupun pengolahan sampah menjadi bio-oil perlu terus dikembangkan sebagai solusi jangka panjang,” ujarnya. 

Tak hanya soal energi, persoalan sampah juga menjadi ancaman yang semakin nyata. Produksi sampah yang terus meningkat tanpa pengelolaan yang baik berpotensi mencemari udara, tanah, hingga sumber air yang menjadi kebutuhan utama masyarakat. 

Nio menyoroti keberadaan mikroplastik yang kini telah ditemukan di berbagai lingkungan, mulai dari udara hingga perairan. Jika tidak ditangani secara serius, kondisi ini dapat mengancam kesehatan manusia dan keberlanjutan ekosistem di masa depan. 

“Sekarang mikroplastik sudah mencemari udara dan air. Ini bukan hanya merusak lingkungan, tetapi juga berpotensi mengganggu kualitas hidup manusia. Akar persoalannya ada pada budaya pengelolaan sampah yang belum dilakukan secara serius,” tegasnya. 

Baca juga: Hari Lingkungan Hidup 2026, Sri Wahyuni DPRD Jatim Ajak Masyarakat Lawan Krisis Iklim dari Hal Sederhana

Selain itu, Nio mengingatkan adanya ancaman lain yang belum banyak mendapat perhatian publik, yakni mikropolutan. Zat pencemar berukuran sangat kecil tersebut dinilai berpotensi menjadi masalah besar karena dapat terakumulasi di lingkungan dalam jangka panjang. 

“Mikropolutan masih jarang dibahas di Indonesia, padahal dampaknya bisa sangat serius jika terus menumpuk di lingkungan tanpa pengendalian yang memadai,” katanya. 

Di tengah ancaman krisis iklim yang semakin sering memicu cuaca ekstrem, banjir, hingga kekeringan, Nio menilai upaya mitigasi harus diperkuat. Pemanfaatan teknologi prediksi cuaca dan peningkatan kemampuan adaptasi masyarakat menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko yang ditimbulkan perubahan iklim. 

“Perubahan iklim memang tidak bisa dihindari sepenuhnya, tetapi dampaknya bisa ditekan jika kita mampu mengelola lingkungan dengan lebih baik dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat,” jelasnya. 

Baca juga: Krisis Energi Global Mengintai, Pakar ITS Bongkar Ancaman dan Jurus Selamatkan Indonesia

Meski tantangan yang dihadapi cukup besar, Nio meyakini perubahan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana. Ia mengajak masyarakat memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan kampanye lingkungan, melakukan pemilahan sampah, mengembangkan urban farming, hingga menerapkan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan. 

Menurutnya, pemerintah juga dapat mendorong partisipasi masyarakat melalui pemberian penghargaan kepada wilayah yang berhasil menjaga dan menghijaukan lingkungannya. 

“Jangan meremehkan langkah kecil. Apa yang kita lakukan hari ini bisa menjadi perubahan besar bagi generasi mendatang. Menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama,” pungkasnya.

Editor : Setiadi

Politik & Pemerintahan
Berita Populer
Berita Terbaru