Lingkaran.net - Pengalaman berorganisasi saat kuliah sering kali dianggap hanya sebagai aktivitas pelengkap. Namun bagi Arif Syaifurrisal, pengalaman tersebut justru menjadi bekal penting yang mengantarkannya hingga terlibat dalam penyusunan kebijakan strategis di Jawa Timur.
Alumnus Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (UNAIR) tahun 2009 itu kini dikenal sebagai salah satu tenaga ahli Komisi B DPRD Jawa Timur yang turut berperan dalam penyusunan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Pembudidaya Ikan dan Petambak Garam.
Baca juga: Tambah Reses dan Fasilitas DPRD Jatim, Golkar Minta Persetujuan Pemprov dan Kemendagri Dulu
Perda yang kemudian disahkan menjadi Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2026 tersebut menjadi tonggak penting bagi perlindungan sektor perikanan dan perg araman rakyat di Jawa Timur.
Regulasi ini mendorong industri untuk menyerap garam produksi petambak lokal sekaligus memperluas akses permodalan bagi para petambak dan pembudidaya ikan.
Siapa sangka, perjalanan Arif menuju ruang-ruang perumusan kebijakan berawal dari aktivitasnya sebagai mahasiswa yang aktif di organisasi kampus.
Saat menjalani masa kuliah, Arif telah menyusun langkah pengembangan dirinya secara terencana.
Tahun pertama ia fokus mengejar prestasi akademik. Memasuki tahun kedua, ia mulai aktif di berbagai organisasi dan kegiatan penalaran, mulai dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), hingga berhasil meraih Juara II Mahasiswa Berprestasi tingkat Universitas Airlangga.
Kemampuannya dalam memimpin semakin terasah ketika dipercaya menjadi Presiden BEM UNAIR pada 2012. Di bawah kepemimpinannya, BEM aktif menjalankan program Community Development di kawasan Ngerges, Surabaya.
Melalui program tersebut, mahasiswa secara rutin mendampingi nelayan yang terdampak proyek pembangunan Teluk Lamong.
Pendampingan dilakukan dengan membantu masyarakat mengembangkan berbagai aktivitas ekonomi produktif sebagai sumber penghasilan alternatif.
Pengalaman bersentuhan langsung dengan masyarakat pesisir itulah yang kemudian membentuk kepekaan Arif terhadap persoalan yang dihadapi nelayan, pembudidaya ikan, hingga petambak garam.
Baca juga: Sri Wahyuni Optimistis Batik Bojonegoro Mendunia Lewat BWBF 2026
Setelah lulus, Arif tidak berhenti berkarya. Pada 2014, ia mendirikan Pustaka Satria Airlangga atau yang dikenal sebagai Pustaka Saga. Melalui penerbitan tersebut, ia ikut mendorong budaya literasi dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Ia juga dipercaya mengelola dua jurnal ilmiah yang bergerak di bidang pengabdian masyarakat dan ilmu sosial.
Kiprahnya terus berkembang hingga dipercaya menjadi tenaga ahli Komisi B DPRD Jawa Timur. Dalam kapasitas tersebut, ia ikut terlibat dalam penyusunan regulasi yang berpihak kepada masyarakat pesisir dan sektor perikanan.
Menurut Arif, keberhasilannya tidak lepas dari proses panjang yang dijalani sejak masa kuliah.
"Rumus keberhasilan itu ketika peluang bertemu dengan kesiapan. Kesiapan-kesiapan yang saya bangun selama di kampus itulah yang membuat saya mampu menyongsong berbagai kesempatan," ujarnya.
Baca juga: Didampingi Sri Wahyuni, Arumi Bachsin Buka Bojonegoro Wastra Batik Festival 2026
Arif pun berpesan kepada mahasiswa agar tidak hanya fokus pada pencapaian akademik semata.
Menurutnya, kemampuan kepemimpinan, manajerial, komunikasi, serta jejaring sosial memiliki peran yang sama pentingnya dalam menentukan masa depan seseorang.
Ia juga mendorong mahasiswa untuk mulai membangun literasi keuangan dan memperluas relasi sejak di bangku kuliah.
"Karena teman semasa kuliah kelak bisa menjadi mitra strategis di dunia kerja," pesannya.
Kisah Arif menjadi bukti bahwa organisasi mahasiswa bukan sekadar ruang beraktivitas, melainkan tempat menempa kemampuan yang suatu saat dapat mengantarkan seseorang berkontribusi langsung dalam lahirnya kebijakan publik yang berdampak bagi masyarakat luas.
Editor : Setiadi