Tangis Masa Kecil Gus Fawait Berbuah Kebijakan, Kini 1.200 Nakes Datangi Rumah Warga Jember

Reporter : Alkalifi Abiyu
Bupati Jember, Gus Fawait saat ditemui di Surabaya, Jumat (31/7/2026).

Lingkaran.net - Sebuah kenangan masa kecil yang tak pernah hilang menjadi alasan Bupati Jember Muhammad Fawait atau Gus Fawait meluncurkan Program Home Care.

Di hadapan publik, ia mengaku masih mengingat wajah-wajah tetangganya di pelosok desa yang memilih menahan sakit di rumah, bukan karena biaya berobat, melainkan karena tak memiliki ongkos menuju puskesmas atau rumah sakit.

Baca juga: Survei SMRC: Kepuasan Publik terhadap Pemerintahan Prabowo 51,1 Persen

Dari pengalaman itulah lahir tekadnya menghadirkan negara langsung ke rumah warga melalui layanan kesehatan gratis. 

Bukan sekadar program pelayanan kesehatan, Home Care lahir dari kenangan Gus Fawait saat tumbuh sebagai anak desa.

Ia masih mengingat bagaimana tetangga-tetangganya di pelosok kampung memilih menahan sakit di rumah karena tidak sanggup menanggung biaya menuju puskesmas atau rumah sakit, meski pemerintah saat itu telah menyediakan surat keterangan miskin. 

"Yang membuat mereka tidak berangkat bukan karena biaya berobatnya, tetapi ongkos menuju rumah sakit, meninggalkan pekerjaan, dan keluarga yang ditinggal juga kehilangan penghasilan. Itu yang terus saya ingat sampai sekarang," tutur Gus Fawait saat ditemui Bhirawa di Surabaya, Jumat (31/7/2026). 

Pengalaman itulah yang kemudian melahirkan gagasan agar pelayanan kesehatan tidak lagi menunggu warga datang, melainkan negara yang hadir mendatangi mereka. 

"Kalau orang yang mampu punya dokter keluarga, maka keluarga yang tidak mampu juga harus punya dokter keluarga. Itulah semangat keadilan sosial yang ingin kami wujudkan," tegasnya. 

Program Home Care menjadi salah satu implementasi visi pembangunan Kabupaten Jember sekaligus mendukung Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam upaya mengentaskan kemiskinan melalui peningkatan pelayanan kesehatan. 

Sebanyak 1.200 tenaga kesehatan (nakes) diterjunkan untuk menjalankan program ini. Mereka mendatangi rumah-rumah warga yang masuk kategori prioritas, melakukan pemeriksaan kesehatan dasar, hingga menentukan apakah pasien memerlukan penanganan lanjutan. 

Jika dibutuhkan, pasien akan langsung dikonsultasikan dengan dokter spesialis maupun subspesialis melalui layanan telemedicine atau panggilan video yang terhubung dengan tiga rumah sakit milik pemerintah. 

Tak hanya itu, obat-obatan juga akan diantar langsung ke rumah pasien sehingga mereka tidak perlu lagi mengeluarkan biaya transportasi ataupun meninggalkan pekerjaan demi mendapatkan pelayanan kesehatan. 

Baca juga: Sudaryono Resmi Pimpin BGN, Prabowo Titip Program Makan Bergizi Gratis

Namun bagi Gus Fawait, Home Care bukan hanya soal memeriksa kondisi fisik pasien.

Petugas juga akan melihat apakah keluarga tersebut memiliki kecukupan pangan. Bila ditemukan keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, pemerintah akan menyalurkan bantuan sembako. 

Bahkan kondisi rumah warga juga menjadi perhatian. Rumah yang dinilai tidak layak huni akan diusulkan masuk dalam berbagai program bantuan pemerintah, baik dari pemerintah pusat maupun Pemerintah Kabupaten Jember. 

"Karena ketika tulang punggung keluarga sakit, biasanya bukan hanya kesehatan yang terganggu, tetapi ekonomi keluarga juga ikut terdampak. Maka Home Care ini memiliki efek yang lebih luas daripada sekadar pelayanan kesehatan," jelasnya. 

Pada tahap awal, Pemkab Jember memprioritaskan lima kelompok masyarakat, yakni lansia yang hidup sendiri, balita stunting, ibu hamil berisiko tinggi, penyandang disabilitas dengan penyakit penyerta, serta warga miskin ekstrem yang menderita penyakit menahun. 

Masyarakat di luar kategori pun juga tetap dapat mengakses layanan melalui hotline pengaduan Wadul Gus'e, yang telah disosialisasikan melalui berbagai media dan kendaraan operasional Home Care. 

Baca juga: Belum Sepekan Prabowo Minta MBG Dibenahi, Kepala BGN Mundur

Gus Fawait memastikan seluruh layanan diberikan secara gratis. Program ini juga tidak akan mengganggu pelayanan di puskesmas maupun rumah sakit karena memanfaatkan armada kendaraan milik organisasi perangkat daerah (OPD) yang sudah tersedia. 

"Mobilnya bukan mobil baru. Kita memanfaatkan kendaraan yang sudah ada agar anggaran lebih efisien. Yang terpenting adalah pelayanan kepada masyarakat bisa berjalan maksimal," ujarnya. 

Saat ini cakupan kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Jember telah mencapai sekitar 80 persen atau berstatus Universal Health Coverage (UHC).  

Namun, menurut Gus Fawait, apabila masih ada warga yang belum aktif kepesertaan BPJS Kesehatannya, hal itu tidak akan menjadi penghalang untuk memperoleh layanan Home Care. 

"Home Care saya pastikan gratis. Yang paling penting adalah negara hadir ketika masyarakat membutuhkan. Inilah wujud nyata keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," pungkasnya.

Editor : Setiadi

Politik & Pemerintahan
Berita Populer
Berita Terbaru