Aktivis Driver Online Surabaya Ungkap Perjuangan Cak Sholeh Bela Driver hingga ke MA

Reporter : Alkalifi Abiyu
Aktivis driver online Surabaya Daniel Lukas Rorong mengungkap jasa Cak Sholeh dalam memperjuangkan hak pengemudi taksi online.

Lingkaran.net - Kepergian pengacara sekaligus aktivis, H. Muhammad Sholeh, S.H., M.H., meninggalkan duka mendalam bagi banyak orang yang pernah merasakan kiprah dan pendampingan hukumnya. 

Bagi para pengemudi taksi online dan ojek online, sosok almarhum bukan sekadar seorang pengacara. Ia dikenang sebagai figur yang berani berdiri di garis depan ketika para driver menghadapi persoalan hukum maupun kebijakan yang dinilai merugikan. 

Baca juga: Kapolri Buka Posko Pengaduan Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS Andrie Yunus 

Salah satu yang masih mengingat kuat perjuangan almarhum adalah Daniel Lukas Rorong, aktivis driver online Surabaya. Bagi Daniel, Muhammad Sholeh layak disebut sebagai “pahlawan” bagi para driver online, bukan hanya di Surabaya, tetapi juga di tingkat nasional. 

Salah satu perjuangan yang paling membekas adalah ketika almarhum mendampingi para pengemudi taksi online mengajukan uji materiil terhadap Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 108 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek. 

Daniel merupakan salah satu pengemudi taksi online sekaligus pihak yang ikut menggugat aturan tersebut. Ia mengenang bagaimana perjuangan itu bermula. 

Daniel mulai menjadi pengemudi taksi online pada 2017. Saat itu, ia memilih menjadi driver untuk menambah penghasilan keluarga. Sebelumnya, Daniel merupakan seorang wiraswasta yang menjalankan usaha laundry dan menjadi reseller kue. 

“Itu saya mulai awal jadi driver online, sebelum Lebaran tahun 2017. Waktu itu saya awalnya ingin cari tambahan penghasilan. Saya punya unit mobil pribadi dan memutuskan untuk mencari tambahan penghasilan karena saya sudah punya tiga anak,” kata Daniel, Jumat (7/8/2026). 

Pada masa awal menjadi pengemudi taksi online, Daniel mengaku penghasilannya cukup menjanjikan. Bahkan, momentum Lebaran 2017 menjadi salah satu masa terbaiknya sebagai driver karena adanya insentif khusus. 

“Waktu itu masih awal-awal saya menjadi driver online, sebelum Lebaran. Saat Lebaran saya narik dan ada insentif Lebaran. Saya bisa dapat penghasilan dari bonus sampai Rp6 juta sekian selama tujuh hari. Itu bonus saja, di luar penghasilan harian,” ungkapnya. 

Melihat peluang tersebut, Daniel kemudian memutuskan untuk lebih serius menekuni pekerjaan sebagai pengemudi taksi online. 

Dalam tiga bulan pertama, penghasilan kotornya bahkan bisa mencapai Rp500 ribu hingga Rp600 ribu per hari. Angka tersebut belum termasuk bonus maupun insentif dari perusahaan. 

“Dari situ saya akhirnya berkomitmen untuk konsisten menjadi driver taksi online. Waktu itu masih awal-awal dan dalam tiga bulan berjalan masih bagus. Sehari bisa mendapat Rp500 ribu sampai Rp600 ribu. Tapi itu kotor, di luar bonus, insentif dan lainnya,” jelasnya. 

Namun, kondisi tersebut berubah setelah pemerintah menerbitkan Permenhub Nomor 108 Tahun 2017. 

Daniel kemudian mulai mempelajari aturan tersebut dan menemukan sejumlah ketentuan yang menurutnya memberatkan para pengemudi taksi online. 

Saat itu, Daniel tercatat sebagai mantan Humas Perhimpunan Driver Online Indonesia (PDOI) Jawa Timur dan mantan Humas Front Driver Online Tolak Aplikator Nakal (Frontal) Jawa Timur. 

“Ini berjalan sekitar tiga bulan, mulai Juni sampai September 2017. Setelah itu muncul Permenhub Nomor 108 Tahun 2017. Saya akhirnya tergelitik untuk mempelajari apa isinya. Ternyata isinya memberatkan saya sebagai driver online,” katanya. 

Salah satu persoalan yang dipermasalahkan adalah kewajiban kendaraan menjalani uji KIR. Daniel merasa keberatan karena kendaraan yang digunakan merupakan mobil pribadi yang saat itu masih relatif baru. 

Selain itu, aturan mengenai kewajiban memiliki SIM A Umum juga menjadi perhatian para pengemudi. 

“Waktu itu mobil saya baru beli awal 2016. Masa mobil saya baru satu tahun harus diuji KIR? Dan apa saya harus mempunyai SIM A Umum? Saya juga punya SIM A. Saya menjaga keselamatan saya sendiri, juga mobil pribadi saya,” ujarnya. 

Daniel juga menyoroti ketentuan mengenai penggunaan stiker identitas pada kendaraan taksi online. 

Menurut dia, pada masa itu keberadaan taksi online masih kerap mendapat penolakan dari sebagian pengemudi transportasi konvensional. Karena itu, penanda khusus pada kendaraan dikhawatirkan justru membuat mobil pengemudi online lebih mudah menjadi sasaran. 

“Kenapa harus pakai stiker? Ini bisa memicu orang yang tidak suka dengan taksi online. Mereka bisa melihat, ‘itu mobil online, ayo dirusak’ dan segala macam. Waktu itu kan masih sering bentrok antara pengemudi taksi dan angkutan konvensional dengan pengemudi taksi online,” katanya. 

Keresahan tersebut kemudian mendorong Daniel bersama sejumlah rekannya di komunitas Driver Online Community (DOC) untuk mencari jalan keluar melalui jalur hukum. 

Baca juga: Perjalanan Politik Agung Supriyanto: Dari Pemimpin Barisan Hingga Anggota DPRD yang Peduli

Sejumlah pertemuan dan kopi darat digelar. Hingga akhirnya muncul kesepakatan untuk mengajukan gugatan uji materiil terhadap Permenhub Nomor 108 Tahun 2017 ke Mahkamah Agung. 

Di titik inilah sosok Muhammad Sholeh hadir dan menjadi bagian penting dari perjuangan para driver. 

“Waktu itu Pak Sholeh bersedia menjadi pengacara kami untuk mengajukan gugatan uji materiil mengenai aturan tersebut ke Mahkamah Agung,” tutur Daniel. 

Setelah menunggu sekitar enam bulan, perjuangan tersebut membuahkan hasil. Daniel menyebut gugatan yang mereka ajukan diterima Mahkamah Agung. 

Menurutnya, putusan tersebut menjadi angin segar bagi para pengemudi taksi online karena sejumlah ketentuan yang selama ini dianggap memberatkan tidak lagi menjadi hambatan seperti sebelumnya. 

“Teman-teman taksi online tidak perlu KIR mobilnya, tidak perlu memiliki SIM A Umum, tidak perlu mobilnya ditempeli stiker penanda mobil taksi online, termasuk tidak harus bergabung dalam koperasi yang jelas-jelas merugikan pengemudi taksi online saat itu,” ungkapnya. 

Namun, bagi Daniel, bukan hanya kemenangan hukum yang membuat sosok Muhammad Sholeh begitu dikenang. 

Hal yang paling menyentuh justru sikap almarhum yang bersedia mendampingi perjuangan para driver tanpa meminta bayaran sebagai pengacara. 

“Beliau bersedia menjadi pengacara untuk mengajukan gugatan tersebut tanpa mau dibayar sepeser pun,” kenang Daniel. 

Muhammad Sholeh, kata Daniel, hanya meminta agar biaya administrasi dan kebutuhan pengajuan gugatan seperti fotokopi berkas serta biaya lainnya dikumpulkan secara gotong royong oleh para pengemudi. 

Tujuannya, agar perjuangan tersebut menjadi bentuk kebersamaan dan solidaritas para driver.
Bahkan, Daniel mengungkapkan, almarhum juga ikut mengeluarkan uang dari kantong pribadinya. 

“Beliau mengajukan syarat agar biaya untuk mengajukan gugatan seperti fotokopi berkas dan biaya-biaya lainnya harus urunan dari teman-teman pengemudi taksi online sendiri. Tujuannya untuk kebersamaan dan bukti solidaritas. Bahkan, beliau juga ikut urunan dari kantong pribadi waktu itu,” ujarnya. 

Perjuangan Terakhir Bersama Ojol Surabaya

Kenangan Daniel bersama Muhammad Sholeh ternyata tidak berhenti pada perjuangan taksi online. 

Salah satu pertemuan terakhir mereka terjadi pada akhir Oktober 2025. Saat itu, Daniel mendampingi sejumlah perwakilan ojek online Surabaya mendatangi kediaman almarhum di kawasan Lebak Jaya, Surabaya. 

Para ojol datang menyampaikan keluhan terkait sepeda motor mereka yang mengalami masalah atau “mbrebet” setelah mengisi BBM di sejumlah SPBU Pertamina di Surabaya. 

Meski saat itu kondisi Muhammad Sholeh sedang lelah setelah menjalani agenda di luar kota, Daniel mengatakan almarhum tetap menerima kedatangan mereka. 

“Saat itu saya mendampingi perwakilan ojol Surabaya untuk datang ke kediaman beliau. Beliau membantu memviralkan keluhan yang dialami rekan-rekan ojol Surabaya, di mana motor mereka mbrebet usai mengisi BBM di sejumlah SPBU Pertamina di Surabaya,” ungkap Daniel. 

Bagi Daniel, kesediaan Muhammad Sholeh untuk tetap mendengar keluhan para driver di tengah kondisi kesehatannya menjadi salah satu kenangan yang tidak akan dilupakan. 

“Beliau mau menerima kehadiran kami meski kondisi almarhum saat itu lelah karena habis agenda di luar kota Surabaya,” pungkasnya. 

Bagi para driver online, kepergian Muhammad Sholeh bukan hanya kehilangan seorang pengacara. Ia meninggalkan jejak perjuangan sebagai sosok yang pernah berdiri bersama mereka ketika suara para pengemudi belum banyak didengar. 

Bagi Daniel dan para driver online, almarhum akan selalu dikenang sebagai pejuang yang membela mereka tanpa pamrih.

Editor : Setiadi

Politik & Pemerintahan
Berita Populer
Berita Terbaru