Lingkaran.net - Anggota Fraksi PDI Perjuangan dari Komisi D DPRD Jawa Timur, Dewanti Rumpoko, menyambut optimistis pembukaan kembali Bandara Notohadinegoro Jember dan operasional Bandara Internasional Dhoho Kediri.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa keberadaan dua bandara strategis itu tidak otomatis mendongkrak ekonomi dan pariwisata jika akses jalan dan transportasi pendukung tidak segera dibenahi.
“Saya berdoa mudah-mudahan itu bisa operasional jalan terus,” ujar Dewanti saat ditemui di Gedung DPRD Jatim, Surabaya, belum lama ini.
Dewanti mengingatkan bahwa kedua bandara sebelumnya sempat berhenti beroperasi akibat rendahnya jumlah penumpang yang tak sebanding dengan biaya operasional.
Ia berharap momentum ini menjadi titik balik untuk menggerakkan potensi wisata dan ekonomi kawasan.
“Mudah-mudahan ini sesuatu yang luar biasa, yang bagus. Yang nantinya berdampak pada potensi wisata lokal,” tegas mantan Wali Kota Batu tersebut.
Menurut Dewanti, dari sisi fasilitas, Bandara Jember dan Bandara Dhoho Kediri sudah sangat memadai. Bandara Notohadinegoro saat ini memiliki runway 1.645 x 30 meter, apron 68 x 96 meter, dan terminal 920 m².
Kementerian Perhubungan juga menyiapkan pengembangan runway hingga 2.250 x 45 meter, bahkan berpotensi sampai 2.500 meter untuk pesawat berbadan besar.
Sementara itu, Bandara Dhoho Kediri dibangun sebagai megaproyek modern dengan landasan 3.300 x 45 meter, terminal 18.000 m² berkapasitas 1,5 juta penumpang per tahun, serta apron yang mampu menampung 12 pesawat narrow body dan 3 pesawat wide body.
“Bandara itu pintu. Tapi tanpa jalan yang nyaman, shuttle, feeder, dan transportasi publik yang memadai, wisatawan akan berhenti di pintunya saja,” kritiknya.
Ia mendorong pemerintah daerah dan otoritas bandara untuk segera menyediakan trayek DAMRI, shuttle reguler dari pusat kota, dan transportasi feeder menuju destinasi wisata. Menurutnya, pergerakan wisatawan hanya akan optimal jika aksesibilitas terintegrasi dan terjangkau.
Pernyataan ini juga diperkuat oleh data awal operasional Bandara Dhoho. Berdasarkan laporan Angkasa Pura I (AP I), pada masa arus mudik Lebaran 2024, bandara tersebut mencatat 1.155 penumpang dalam beberapa hari, meskipun dengan penerbangan yang masih terbatas.
“Ini sinyal positif bahwa minat masyarakat cukup tinggi. Tapi kalau aksesnya tidak cepat dibenahi, potensinya tidak akan maksimal,” ujarnya.
Sebagai wakil rakyat dari Dapil Malang Raya, Dewanti memastikan Komisi D DPRD Jatim siap mengawal anggaran dan kebijakan untuk penguatan dua bandara tersebut.
Ia meminta Pemprov Jawa Timur tidak hanya fokus pada pembangunan bandara, tetapi juga infrastruktur pendukung seperti peningkatan jalan provinsi, jalur penghubung wisata, transportasi terintegrasi, hingga manajemen lalu lintas yang ramah penumpang.
“Setiap rupiah pembangunan harus kembali ke masyarakat dalam bentuk manfaat nyata—pariwisata bangkit, usaha bergerak, dan ekonomi lokal tumbuh,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Dewanti menegaskan kembali urgensi pembenahan aksesibilitas, agar investasi besar di sektor aviasi itu tidak berakhir sia-sia.
“Ingat, bandaranya sudah bagus. Sekarang saatnya membangun akses yang mudah. Kalau tidak, dampak pembangunan hanya berhenti di papan nama,” tandasnya.
“Kalau akses tidak cepat disiapkan, dampaknya hanya berhenti di papan nama, bukan di ekonomi rakyat,” pungkasnya.
Editor : Setiadi