x lingkaran.net skyscraper
x lingkaran.net skyscraper

Program MBG Disorot Usai 261 Pelajar Diduga Keracunan di Mojokerto

Avatar Alkalifi Abiyu

Politik & Pemerintahan

Lingkaran.net - Dugaan keracunan massal dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Mojokerto mendapat sorotan serius dari DPRD Jawa Timur.

Anggota DPRD Jatim dari Fraksi Partai Golkar, Sumardi, mendesak dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola program tersebut agar kejadian serupa tidak terulang. 

Besarnya jumlah korban, menurut Sumardi, menjadi alarm keras bagi pelaksana program. Ia menilai dampak insiden ini tidak hanya menyangkut kesehatan fisik para penerima manfaat, tetapi juga berpotensi menimbulkan trauma psikologis, terutama pada pelajar dan kekhawatiran mendalam di kalangan orang tua. 

“Korban cukup banyak. Ini harus dievaluasi total, karena dampaknya bukan hanya kesehatan, tapi juga psikologis siswa dan orang tua,” kata Sumardi saat dikonfirmasi di Surabaya, Senin (12/1/2026). 

Ia menegaskan, evaluasi tidak boleh dilakukan secara parsial. Seluruh rantai pelaksanaan MBG, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan makanan, hingga distribusi ke penerima manfaat, harus ditelusuri secara komprehensif. 

Menurut Sumardi, kelalaian dalam menjalankan standar operasional prosedur (SOP) berisiko menimbulkan dampak fatal. Ia mengingatkan, SOP disusun berdasarkan kajian teknis dan aspek keamanan pangan yang tidak boleh dikompromikan. 

“Kalau SOP tidak dijalankan dengan disiplin, risikonya besar. Ini harus ditelusuri dari hulu ke hilir,” tegasnya. 

Sumardi juga menyoroti kerawanan pada menu basah, seperti soto ayam, terutama jika terdapat jeda waktu yang terlalu panjang antara proses memasak dan konsumsi. Kondisi tersebut, kata dia, dapat memicu pertumbuhan bakteri yang membahayakan kesehatan. 

“Jarak waktu masak dan konsumsi yang terlalu lama harus benar-benar dikontrol,” ujarnya. 

Ia mendorong agar SOP pelaksanaan MBG ditinjau ulang dan dipastikan benar-benar dijalankan secara konsisten di lapangan.  

Menurutnya, tekanan tingginya volume produksi tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan aspek keamanan dan kualitas makanan. 

“Program ini sebenarnya baik. Jangan sampai karena kelalaian teknis, kepercayaan masyarakat justru menurun,” pungkas Sumardi. 

Diketahui, dugaan keracunan massal Program Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Mojokerto melibatkan 261 penerima manfaat, mayoritas pelajar dan santri. Peristiwa tersebut terjadi setelah konsumsi menu soto ayam yang didistribusikan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Dusun Rejeni, Desa Wonodadi, pada Jumat (9/1/2026). 

Sejumlah korban dilaporkan mengalami gejala mual, muntah, demam, hingga diare. Sebagian di antaranya harus menjalani perawatan medis di posko kesehatan setempat serta rumah sakit rujukan.

Artikel Terbaru
Rabu, 21 Okt 2026 20:19 WIB | Umum

Hari Santri Nasional 2026: Ini Tema, Makna, Jadwal Upacara, dan Daftar Kegiatannya

Lingkaran.net - Hari Santri Nasional 2026 bukan sekadar peringatan sejarah perjuangan ulama dan santri. Momentum 22 Oktober ini juga menjadi ajakan bagi ...
Rabu, 21 Okt 2026 18:35 WIB | Politik & Pemerintahan

Dua Tahun Pemerintahan, Prabowo Minta Kabinet Berani Hadapi Kenyataan

Lingkaran.net - Presiden Prabowo Subianto menegaskan pemerintah tidak boleh lagi bersikap naif atau sekadar berusaha menyenangkan pihak lain ketika kepentingan ...
Rabu, 21 Okt 2026 16:46 WIB | Umum

KPK Bongkar Lima Titik Rawan Korupsi Pemilu, Politik Uang hingga Suap Penghitungan Suara

Lingkaran.net - Biaya politik yang mahal, pencalonan transaksional, hingga dugaan suap dalam penghitungan suara menjadi celah korupsi yang mengancam demokrasi ...