x lingkaran.net skyscraper
x lingkaran.net skyscraper

Banyak yang Belum Tahu, Ini Bahaya Godzilla El Nino

Avatar Alkalifi Abiyu

Hype

Lingkaran.net - Fenomena mulai menjadi perhatian publik seiring prediksi kemunculannya pada 2026. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan dengan kekuatan jauh lebih besar dari biasanya.  

Bukan sekadar siklus iklim tahunan, tetapi anomali ekstrem yang berpotensi memicu dampak luas. 

Secara ilmiah, merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur.

Namun ketika intensitasnya menguat, pola pembentukan awan dan hujan ikut berubah drastis. Awan lebih banyak terbentuk di wilayah Pasifik, sementara kawasan seperti Indonesia justru mengalami penurunan curah hujan. 

Kondisi inilah yang memicu musim kemarau menjadi lebih panjang, lebih kering, dan lebih panas dari biasanya. 

Mengutip Badan Riset dan Inovasi Nasional (), fenomena ini dijuluki “Godzilla” karena skalanya yang besar serta dampaknya yang signifikan.  

Profesor Riset Pusat Penelitian Iklim dan Atmosfer , Erma Yulihastin, bahkan menyebutkan bahwa fenomena ini berpotensi meningkatkan suhu hingga 1,5–2 derajat Celsius secara bertahap. 

Diperparah IOD Positif 

Dampak kuat diprediksi semakin parah karena terjadi bersamaan dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Kondisi ini ditandai dengan pendinginan suhu laut di wilayah barat Indonesia, terutama sekitar dan

Akibatnya, pembentukan awan semakin berkurang dan curah hujan menurun drastis. Kombinasi kuat dan IOD positif inilah yang berpotensi memicu kemarau ekstrem di berbagai wilayah Indonesia. 

Mulai Terasa April 2026 

Sinyal awal kemunculan diperkirakan mulai terlihat pada April 2026. Meski demikian, kondisi cuaca tidak langsung berubah drastis. Hingga akhir Maret, hujan masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah. 

Namun memasuki April, intensitas hujan diprediksi mulai menurun, diikuti berkurangnya awan dan meningkatnya suhu udara. Secara bertahap, cuaca akan didominasi kondisi kering dan panas. 

Dampak Berbeda di Tiap Wilayah 

Dampak fenomena ini tidak merata di seluruh Indonesia. Wilayah selatan ekuator, seperti Pulau dan sebagian , berpotensi mengalami kekeringan lebih parah, peningkatan suhu, hingga risiko kebakaran hutan dan lahan. 

Sebaliknya, wilayah utara ekuator seperti sebagian Kalimantan dan Sumatra bagian utara justru berpotensi mengalami hujan dengan intensitas tinggi yang dapat memicu banjir. 

Dengan skala dan dampaknya yang besar, menjadi peringatan serius bagi berbagai sektor, mulai dari pertanian, lingkungan, hingga ketahanan air. Antisipasi sejak dini menjadi kunci untuk meminimalkan risiko yang ditimbulkan oleh fenomena iklim ekstrem ini.

Artikel Terbaru
Rabu, 26 Agu 2026 16:50 WIB | Umum

DPRD Surabaya Apresiasi Pemusnahan Rokok Ilegal

Ketua Komisi A DPRD Surabaya Yona Bagus Widyatmoko mengapresiasi langkah Bea Cukai dan Pemkot Surabaya memusnahkan 43,248 ...
Senin, 24 Agu 2026 14:40 WIB | Umum

Pendaftaran Petugas Haji 2027 Dibuka 25 Agustus, Ini Syarat Lengkap dan Formasinya

Lingkaran.net - Kabar baik bagi masyarakat yang ingin menjadi bagian dari pelayanan jamaah haji. Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia resmi membuka ...
Senin, 24 Agu 2026 14:30 WIB | Politik & Pemerintahan

Wakil Ketua DPR RI Ingatkan RUU Perampasan Aset Jangan Jadi Alat Pukul Penguasa

Lingkaran.net - Pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perampasan Aset diminta dilakukan secara hati-hati. Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati ...