Lingkaran.net - Istilah super flu mendadak ramai diperbincangkan publik setelah varian influenza A (H3N2) Subclade K dilaporkan telah masuk ke Indonesia.
Namun di balik istilah yang terdengar mengkhawatirkan itu, para ahli menekankan satu hal penting. Bahwa yang perlu diwaspadai bukan kepanikan massal, melainkan pemahaman tepat tentang karakter virus dan kesiapan respons terhadapnya.
Baca juga: Tren Kasus Influenza A di Asia Tenggara Naik, Epidemiolog UNAIR: Jangan Sepelekan Gejala Flu
Subclade K bukanlah virus baru yang muncul secara tiba-tiba. Akan tetapi bagian dari evolusi alami virus influenza, yang memang terus mengalami perubahan genetik dari musim ke musim.
Mengapa Subclade K Jadi Sorotan Global?
Sorotan terhadap Subclade K tidak lepas dari peningkatan kasus influenza A (H3N2) di sejumlah negara, bersamaan dengan laporan bahwa varian ini memiliki kemampuan penyebaran yang relatif cepat. Kombinasi inilah yang kemudian melahirkan istilah populer super flu di ruang publik.
Mengutip dari laman Universitas Komputama, penyebutan Super Flu lebih merujuk pada kecepatan penyebaran dan skala infeksi daripada tingkat kematian (mortalitas) yang luar biasa tinggi.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan disebut telah mengonfirmasi bahwa Subclade K telah terdeteksi pada akhir Desember 2025. Meski demikian, otoritas kesehatan menegaskan bahwa jumlah kasus masih terbatas dan belum menunjukkan tren lonjakan nasional.
Kendati demikian, pemerintah berpesan agar masyarakat tetap waspada, bukan panik.
Baca juga: 520 Kasus Suspek, Pamekasan Darurat Campak
Gejala Super Flu
Secara klinis, gejala Subclade K tidak jauh berbeda dari influenza pada umumnya, yakni demam, batuk, pilek, nyeri otot, sakit kepala, hingga kelelahan ekstrem.
Namun para tenaga medis mengingatkan bahwa durasi keluhan bisa lebih panjang pada sebagian pasien, terutama jika daya tahan tubuh sedang menurun. Akan tetapi yang sering luput disadari, flu musiman ini jika menyerang dalam skala besar dapat menjadi masalah kesehatan publik, bukan sekadar penyakit ringan individual.
Berikut ini gejalanya dikutip dari laman Universitas Komputama:
- Demam tinggi atau menggigil.
- Batuk dan sakit tenggorokan.
- Pilek atau hidung tersumbat.
- Nyeri otot atau nyeri badan yang hebat.
- Sakit kepala dan kelelahan ekstrem (fatigue).
- Gejala tambahan pada anak: Muntah dan diare lebih sering ditemukan pada pasien anak-anak dibandingkan dewasa.
Langkah Pencegahan dan Penanganan
Berikut ini langkah pencegahan dan penanganan dikutip dari laman yang sama:
- Vaksinasi Influenza: Pakar sangat merekomendasikan vaksin flu tahunan. Walaupun tidak menjamin 100 persen terhindar dari infeksi, vaksin terbukti sangat efektif mencegah gejala berat dan risiko rawat inap.
- Protokol Kesehatan: Menggunakan masker di tempat keramaian (terutama dalam ruangan) dan rutin mencuci tangan (PHBS).
- Deteksi Dini: Karena gejalanya sulit dibedakan dengan flu biasa tanpa tes laboratorium, segera konsultasi ke dokter jika mengalami demam tinggi yang tidak kunjung turun atau sesak napas.
Kasus Subclade K mengingatkan kembali bahwa ancaman kesehatan tidak selalu datang dalam bentuk virus baru yang dramatis. Kadang, tantangan terbesar justru muncul dari penyakit lama yang berubah secara perlahan, sementara kewaspadaan publik ikut menurun.
Disiplin menjaga kebersihan, menggunakan masker saat sakit, istirahat cukup, dan vaksinasi tetap menjadi fondasi utama pencegahan. Lebih dari itu, literasi kesehatan menjadi kunci agar masyarakat tidak terjebak antara ketakutan berlebihan dan sikap meremehkan.
Editor : Baehaqi