Lingkaran.net - Isu meningkatnya perhatian terhadap HIV/AIDS di Kabupaten Sidoarjo menjadi salah satu aspirasi yang mengemuka dalam reses Ketua Komisi C DPRD Jawa Timur, Adam Rusydi, di Desa Bakung Temenggungan, Kecamatan Balongbendo, Rabu (29/7/2026).
Menariknya, Adam tidak hanya menyoroti pentingnya edukasi dan peran keluarga, tetapi juga mengajak generasi muda kembali melirik sektor pertanian sebagai aktivitas produktif yang mampu menjauhkan mereka dari pergaulan berisiko.
Keresahan itu disampaikan Henry, seorang mahasiswa asal Dusun Ciro Kulon. Ia menilai banyak anak muda kehilangan arah sehingga mudah terjerumus ke dalam pergaulan bebas yang berpotensi meningkatkan risiko penularan HIV/AIDS.
"Kami berharap pemerintah dapat memfasilitasi lebih banyak kegiatan kepemudaan agar teman-teman memiliki ruang untuk berkarya dan berkembang," ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Adam Rusydi menegaskan persoalan HIV/AIDS tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan kesehatan.
Menurutnya, pencegahan harus dimulai dari penguatan keluarga, pendidikan di sekolah, hingga lingkungan sosial yang sehat.
"Kita jangan kemudian saling menyalahkan. Ada tiga variabel penting, yakni keluarga, sekolah, dan lingkungan. Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab kita bersama. Hari ini persoalan HIV/AIDS menjadi pekerjaan rumah bersama," katanya.
Ketua DPD Golkar Sidoarjo itu menilai pemberdayaan generasi muda melalui kegiatan ekonomi produktif juga menjadi bagian penting dari upaya pencegahan.
Salah satunya dengan mendorong anak muda kembali menekuni sektor pertanian yang selama ini mulai ditinggalkan.
Menurut Adam, pertanian tidak lagi identik dengan pekerjaan tradisional, tetapi memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan apabila dikelola dengan inovasi dan teknologi.
"Saya mengajak anak-anak muda untuk bergerak di bidang pertanian. Jangan malu menjadi petani. Justru sektor ini memiliki peluang besar dan bisa menjadi jalan untuk membangun kemandirian ekonomi," ujarnya.
Ia meyakini kesibukan dalam aktivitas produktif akan memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan potensi diri sekaligus mengurangi risiko terjerumus dalam pergaulan negatif.
Baca juga: Ketua DPRD Jatim Buka Suara soal Penahanan Mahrus oleh KPK
Dalam reses tersebut, warga juga menyampaikan aspirasi terkait perbaikan saluran irigasi yang rusak agar produktivitas pertanian meningkat.
Selain itu, pelaku UMKM berharap mendapat bantuan rombong usaha guna meningkatkan kualitas dan daya saing usahanya.
Di sektor pendidikan, Kepala Desa Bakung Temenggungan, Abu Dawud, kembali mengusulkan pembangunan SMA Negeri di Kecamatan Balongbendo.
Menurutnya, hingga kini banyak pelajar terpaksa bersekolah ke Kabupaten Mojokerto karena belum adanya SMAN di wilayah tersebut.
Adam menyatakan mendukung aspirasi tersebut. Namun, ia menjelaskan pembangunan sekolah negeri baru harus memenuhi sejumlah persyaratan, mulai dari hibah lahan dari pemerintah kabupaten hingga menyesuaikan kebijakan moratorium pembangunan SMA/SMK.
Meski demikian, ia memastikan akan terus memperjuangkan pemerataan akses pendidikan, termasuk mendorong kolaborasi antara sekolah negeri dan swasta agar masyarakat, terutama dari keluarga kurang mampu, tetap memperoleh layanan pendidikan yang layak.
Baca juga: DPRD Jatim: Keracunan MBG di Kediri Harus Jadi Momentum Evaluasi hingga Daerah
Kabupaten Sidoarjo, baru-baru ini mencuri perhatian nasional karena tingginya kasus HIV atau human immunodeficiency virus yang merusak kekebalan tubuh.
Persoalan itu tidak lepas dari kondisi Kota Delta yang saat ini mengalami darurat peredaran minuman keras dan prostitusi terselubung.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan tentang HIV di Kabupaten Sidoarjo, sejak 2001 hingga Juni 2026 telah ditemukan 1.183 kasus HIV secara kumulatif pada kelompok usia 0-24 tahun.
Jumlah kasus yang ditemukan meningkat dari tahun ke tahun berlangsung seiring semakin luasnya cakupan layanan tes HIV di fasilitas pelayanan kesehatan, rumah sakit, puskesmas, klinik, maupun layanan berbasis komunitas.
Dari total 1.183 ODHIV (orang dengan HIV) yang telah ditemukan tersebut (sejak 2001), pada kelompok usia 0-10 tahun, tercatat 117 kasus HIV dan seluruhnya merupakan penularan dari ibu ke anak (penularan vertikal).
Dari jumlah tersebut, 32 anak masih hidup dan menjalani pengobatan antiretroviral, 35 anak meninggal, sedangkan 50 anak tercatat lost to follow-up (LFU) atau tidak lagi terpantau dalam layanan pengobatan.
Editor : Setiadi