Lingkaran.net - Tidak semua wakil rakyat datang ke gedung parlemen dengan iring-iringan mobil mewah atau barisan pendukung yang memenuhi halaman kantor dewan.
Pudji Wahyu Widodo memilih cara yang berbeda.
Hari itu, ketika akan dilantik sebagai anggota DPRD Jawa Timur periode 2024–2029, mantan Kepala Dinas Pendidikan itu berangkat dari Madiun menggunakan bus umum. Perjalanan panjang membawanya ke Terminal Purabaya.
Dari sana, ia kembali berpindah bus menuju Gedung DPRD Jawa Timur di Jalan Indrapura, Surabaya.
Tak ada protokoler. Tak ada pengawalan.
Bahkan, saat gladi bersih pelantikan, seorang staf DPRD tak menyadari bahwa pria berkemeja putih sederhana itu adalah anggota dewan yang akan segera mengucapkan sumpah jabatan.
Jas resmi pelantikannya pun tidak dikenakan sejak awal. Ia melipatnya rapi dan menyimpannya di dalam tas.
Begitulah Pudji Wahyu Widodo dikenang.
Rabu (29/7/2026) pukul 22.20 WIB, anggota Fraksi Partai Golkar DPRD Jawa Timur dari Daerah Pemilihan Madiun–Nganjuk itu mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Dolopo, Kabupaten Madiun.
Kepergiannya bukan hanya meninggalkan kursi kosong di ruang sidang DPRD Jawa Timur, tetapi juga menghadirkan kehilangan bagi mereka yang mengenalnya sebagai sosok bersahaja yang memaknai jabatan sebagai amanah, bukan kehormatan yang harus dipamerkan.
"Beliau sosok yang sederhana, rendah hati. Padahal beliau tokoh di Persaudaraan Setia Hati Terate dan pernah menjadi Kepala Dinas Pendidikan. Tetapi selama menjadi anggota DPRD Jatim, beliau tidak pernah menunjukkan kebesaran dirinya," kenang Sekretaris Fraksi Golkar DPRD Jatim, Hadi Setiawan.
Bagi Hadi, kesederhanaan Pudji bukan pencitraan. Itu adalah cara hidup yang ia jalani setiap hari.
Ia tak pernah membedakan diri dengan orang lain. Tak pernah merasa lebih tinggi karena jabatan yang disandangnya.
Di balik senyum yang tenang, ternyata tubuh Pudji sedang berjuang melawan penyakit.
Tak lama setelah dilantik, kesehatannya terus menurun. Aktivitasnya di DPRD memang menjadi terbatas.
Namun satu hal yang tak pernah berubah adalah komitmennya menjalankan tugas sebagai wakil rakyat.
Saat partai maupun DPRD memberikan penugasan, ia selalu berusaha hadir.
Bahkan suatu ketika, Hadi menceritakan dalam agenda di Jakarta, Pudji tetap mengikuti kegiatan meski masih menggunakan alat bantu pencernaan. Esok harinya, ia harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
"Beliau selalu taat terhadap penugasan. Walaupun sakit, beliau tetap hadir. Itu yang membuat kami semua hormat kepada beliau," tutur Hadi.
Perjuangan itu belum berhenti.
Pada reses Masa Persidangan III Tahun 2025-2026 yang berlangsung mulai 25 Juli hingga 1 Agustus 2026, sosok Almarhum masih menyerap aspirasi rakyat.
Ketika kondisi fisiknya semakin melemah, Pudji tetap mendatangi masyarakat. Kali ini bukan lagi dengan langkah tegap, melainkan duduk di atas kursi roda.
Bagi sebagian orang, sakit bisa menjadi alasan untuk beristirahat.
Namun bagi Pudji, amanah sebagai wakil rakyat tampaknya lebih besar daripada rasa sakit yang harus ditanggungnya.
Baca juga: Ketua DPRD Jatim Buka Suara soal Penahanan Mahrus oleh KPK
Ia tetap datang menemui warga. Tetap mendengar keluhan mereka. Tetap menjalankan kewajibannya hingga tubuhnya benar-benar tak lagi mampu.
"Informasinya saat reses kemarin beliau hadir menggunakan kursi roda. Beliau tetap menjalankan kewajibannya meski dalam keadaan sakit," ujar Hadi.
Sementara, Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Jawa Timur, Pranaya Yudha Mahardika, membenarkan kabar wafatnya Pudji Wahyu Widodo pada Rabu malam.
Bagi Fraksi Golkar, kehilangan itu bukan sekadar kehilangan seorang anggota. Mereka kehilangan seorang teladan tentang bagaimana jabatan dijalankan dengan kesederhanaan, kedisiplinan, dan ketulusan.
Di tengah dunia politik yang sering diwarnai gemerlap kekuasaan, Pudji justru memilih berjalan tanpa banyak suara.
Ia datang dengan bus. Bekerja dalam diam. Bertahan melawan sakit. Menemui rakyat meski dengan kursi roda. Lalu berpulang, meninggalkan satu pelajaran sederhana.
Kehormatan seorang wakil rakyat bukan ditentukan oleh kendaraan yang ditumpangi atau kemewahan yang ditampilkan, melainkan oleh seberapa tulus ia menjaga amanah hingga akhir hayat.
Editor : Setiadi