Lingkaran.net - Upaya pengurangan angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kabupaten Bojonegoro mulai menunjukkan hasil nyata. Sebanyak 2.212 anak berhasil kembali mengenyam pendidikan, baik melalui jalur pendidikan formal maupun pendidikan kesetaraan, setelah dilakukan verifikasi dan validasi (verval) data ATS per 30 Juni 2025.
Keberhasilan tersebut mendapat apresiasi dari Wakil Ketua DPRD Jawa Timur, Sri Wahyuni. Ia menyebut capaian ini sebagai kabar baik bagi dunia pendidikan di Jawa Timur, khususnya di Kabupaten Bojonegoro.
“Sebagai Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Timur, saya tentu menyambut dan mengapresiasi kabar baik dari Kabupaten Bojonegoro tentang kembalinya 2.212 anak ke sekolah melalui Program Gerakan Pengurangan Anak Tidak Sekolah (GP-ATS). Ini bukti bahwa kolaborasi pemerintah dan masyarakat mulai membuahkan hasil,” ujar Sri Wahyuni saat dikonfirmasi, Selasa (13/1/2026).
Menurutnya, pendidikan merupakan hak dasar setiap anak yang harus dijamin oleh negara dan seluruh elemen masyarakat. Program GP-ATS dinilai menjadi contoh konkret dalam upaya menekan angka anak putus sekolah sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Jawa Timur.
Sri Wahyuni juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dan seluruh pihak yang terlibat aktif dalam menjalankan program tersebut. Ia mengajak masyarakat untuk terus memberi dukungan dan motivasi agar anak-anak tetap bersekolah dan berani mengejar cita-cita.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa tantangan belum sepenuhnya selesai. Berdasarkan hasil verval, masih terdapat 4.143 anak di Bojonegoro yang terkonfirmasi belum bersekolah dan menjadi pekerjaan rumah bersama.
“Ini menjadi PR kita selanjutnya. Perlu langkah strategis dengan berbagai pendekatan, baik melalui keluarga maupun masyarakat. Mulai dari identifikasi dan pemetaan, penyediaan pendidikan alternatif, kolaborasi lintas sektoral, bantuan biaya pendidikan, hingga pengawasan dan pendampingan agar anak-anak tetap sekolah dan mendapatkan pendidikan berkualitas,” tegas perempuan dari Dapil Bojonegoro-Tuban ini.
Ia meyakini setiap anak memiliki potensi besar yang dapat berkembang melalui pendidikan. “Dengan pendidikan yang berkualitas, mereka dapat menjadi generasi unggul dan membawa kemajuan bagi masyarakat serta bangsa,” tambahnya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro, M. Anwar Mukhtadlo, melalui Sekretaris Dinas Pendidikan Anang Prasetyo Adi, menjelaskan bahwa proses verifikasi data ATS dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan ketepatan sasaran kebijakan.
“Verifikasi dilakukan melalui penelusuran lapangan, wawancara, serta koordinasi dengan sekolah dan pemerintah desa. Dari hasil tersebut, 2.212 anak berhasil dikembalikan ke sekolah, namun masih ada 4.143 anak yang menjadi fokus penanganan selanjutnya,” ujar Anang, Senin (12/1).
Hasil pendataan menunjukkan faktor ekonomi masih menjadi penyebab utama anak tidak bersekolah. Sebanyak 875 anak berhenti sekolah karena bekerja, sementara 351 anak tidak melanjutkan pendidikan karena menikah atau mengurus rumah tangga. Faktor motivasi juga cukup signifikan, dengan 425 anak enggan bersekolah dan 131 anak merasa pendidikan yang ditempuh sudah cukup.
Selain itu, kendala kesehatan dan disabilitas dialami oleh 253 anak, sementara 132 anak terkendala biaya pendidikan. Dari sisi sosial, tercatat 26 anak berhenti sekolah akibat kekerasan, perundungan, atau trauma, serta 23 anak terpengaruh lingkungan pergaulan.
Hambatan administratif dan geografis relatif kecil, masing-masing melibatkan 11 anak yang tidak memiliki akta kelahiran dan 5 anak terkendala jarak sekolah.
Data juga mencatat 1.495 anak berada di pondok pesantren, meninggal dunia, atau tidak diketahui keberadaannya sehingga tidak lagi tercatat dalam sistem pendidikan formal. Sementara 247 anak belum dapat diverifikasi karena keterbatasan informasi atau perpindahan domisili.
Anang menegaskan, penanganan anak tidak sekolah membutuhkan pendekatan komprehensif dan berkelanjutan. “Setiap anak memiliki latar belakang yang berbeda, sehingga intervensi harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing,” ujarnya.
Editor : Setiadi