x lingkaran.net skyscraper
x lingkaran.net skyscraper

SBY Pamer 95 Lukisan di Surabaya, Bicara Ani Yudhoyono hingga Sikap Tak Cawe-cawe Kekuasaan

Avatar Alkalifi Abiyu

Umum

Lingkaran.net - Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menunjukkan sisi lain kehidupannya setelah meninggalkan pemerintahan dan politik praktis. SBY memamerkan sekitar 95 karya lukis dalam pameran yang digelar di Hotel Vasa Surabaya, Selasa (15/9/2026).

Puluhan karya tersebut merekam beragam perjalanan, pengalaman hingga ekspresi personal SBY. Sejumlah lukisan bahkan lahir dari kerinduan terhadap mendiang istrinya, Ani Yudhoyono, serta kegelisahannya melihat berbagai konflik yang terjadi di dunia.

“Kalau memang ada yang melihat lukisan saya, saya bersenang hati di Kota Surabaya. Sebenarnya nanti bulan Desember akan ada pameran lukisan saya. Saya akan tampilkan 500 lukisan saya di Jakarta,” kata SBY didampingi Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dan Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak.

Menurut SBY, aktivitas melukis kini menjadi salah satu bagian penting dalam kehidupannya. Hasil dari karya-karya tersebut juga dimanfaatkan untuk mendukung berbagai kegiatan sosial maupun aktivitas yang selama ini dijalankannya.

“Kalau ada yang ingin punya silakan, karena karya lukisan saya gunakan untuk banyak hal. Untuk bantuan sosial, membiayai bola voli LavAni, mendukung pembiayaan Museum dan Galeri SBY-Ani di Pacitan,” ujarnya.

Dalam pameran yang direncanakan berlangsung di Jakarta pada Desember mendatang, SBY juga ingin karya-karyanya dapat menjangkau berbagai kalangan. Karena itu, ia berencana menyediakan sejumlah kategori harga.

“Nanti di Jakarta ada harga rakyat atau harga spesial, ada harga premium. Bagi saya, kalau saudara-saudara masih ingat dengan SBY, saat ini saya menggeluti dunia seni, khususnya seni lukis,” tuturnya.

Dari sekitar 95 lukisan yang dipamerkan di Surabaya, beberapa karya memiliki cerita sangat personal. SBY mengungkapkan sejumlah lukisannya terinspirasi dari karya fotografi mendiang Ani Yudhoyono.

“Ada beberapa lukisan yang saya lukis itu hasil fotografi mendiang istri tercinta, Ani Yudhoyono. Ada kesedihan dan kerinduan setelah Ibu Ani berpulang,” ungkapnya.

Tidak seluruh karya SBY berbicara tentang pengalaman pribadi. Kegelisahannya terhadap situasi global, termasuk peperangan dan konflik di berbagai belahan dunia, juga dituangkan ke atas kanvas.

“Ada juga lukisan yang menggambarkan ekspresi hati, seperti dunia yang carut-marut, perang di mana-mana. Di situ saya punya curahan ekspresi yang saya tumpahkan dalam lukisan,” katanya.

Proses kreatif SBY pun beragam. Sebagian lukisan dibuat secara spontan ketika dirinya melakukan perjalanan. Kaki gunung hingga tepian pantai menjadi tempat yang kerap memunculkan inspirasi.

“Kalau saya melukis di luar studio, itu spontanitas saya. Seperti di kaki gunung, di pinggir pantai saat saya traveling, itu menjadi titik untuk berpikir. Ada juga yang memang sengaja saya niati, seperti melukis gunung api dari Boyolali atau melukis di Pantai Klayar, Pacitan,” jelasnya.

Di sela pembicaraan mengenai seni, SBY juga menyinggung kehidupannya setelah tidak lagi memegang kekuasaan. Ia mengaku telah lama meninggalkan politik praktis dan tidak terlibat dalam aktivitas harian partai.

“Saya sudah lama meninggalkan dunia politik, utamanya politik praktis dan kekuasaan. Saya tidak berkecimpung day to day partai. Tapi saya tetap peduli pada negara kita dan perkembangan dunia, di samping saya berkesenian,” kata SBY.

SBY mengatakan dirinya masih kerap diundang sejumlah pihak, baik di dalam maupun luar negeri, untuk berdiskusi dan menyampaikan pemikiran mengenai berbagai persoalan.

Aktivitas tersebut dipandangnya sebagai bagian dari pengabdian setelah tidak lagi berada dalam pemerintahan.

“Saya diundang teman-teman di dalam dan luar negeri agar ikut berpikir, urun rembug supaya negara kita damai dan semakin baik. Dalam konteks itu saya anggap ibadah,” ujarnya.

Namun SBY menegaskan dirinya tetap menjaga batas sebagai mantan kepala negara. Ia menyebut pemerintahan saat ini berada di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto sehingga dirinya harus berhati-hati dalam bersikap maupun menyampaikan pandangan.

“Saya sudah tidak lagi di kekuasaan. Saat ini yang memimpin adalah Presiden Prabowo. Saya harus menjaga sikap, tutur kata saya agar tidak dianggap cawe-cawe dan tidak dianggap melampaui kepatutan sebagai seorang mantan presiden,” tegasnya.

Sementara itu, pemilik Hotel Vasa Surabaya Hermanto Tanoko mengaku tidak pernah membayangkan bisa berinteraksi dekat dengan SBY sekaligus melihat lebih jauh gagasan yang tersimpan di balik karya-karyanya.

“Saya tidak pernah membayangkan bertemu dekat dengan Pak SBY. Tantangannya adalah menggali gagasan dan ide lebih jauh, karena saya meyakini setiap karya memiliki pesan kepada para penontonnya,” kata Hermanto.

Menurut Hermanto, lukisan menjadi medium SBY untuk menyampaikan berbagai pesan dengan pendekatan yang berbeda dibandingkan ketika masih aktif sebagai kepala negara maupun politisi.

“Ternyata Pak SBY punya banyak cara mengirim pesan dengan cara yang lembut melalui lukisan,” pungkasnya.

Artikel Terbaru
Selasa, 15 Sep 2026 21:59 WIB | Politik & Pemerintahan

Nama Gus Fawait Mulai Menguat di Bursa Pilgub Jatim 2029, Pengamat Ungkap Peta Kekuatan

Lingkaran.net - Nama Bupati Jember Muhammad Fawait mulai masuk dalam radar percaturan politik Jawa Timur. Wacana mendorong Gus Fawait maju dalam Pilgub Jatim ...
Selasa, 15 Sep 2026 13:59 WIB | Politik & Pemerintahan

120 Anggota DPRD Jatim Diboyong ke Jakarta Besok, Musyafak Tegaskan: Wajib!

Lingkaran.net - Sebanyak 120 anggota DPRD Jawa Timur diwajibkan mengikuti bimbingan teknis (bimtek) yang difasilitasi Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia ...
Selasa, 15 Sep 2026 13:26 WIB | Politik & Pemerintahan

Ketua DPRD Jatim Siap Suntik Modal BUMD: Harus Ada Kajian dan Perda

Lingkaran.net - DPRD Jawa Timur membuka ruang bagi penguatan permodalan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk mendorong perusahaan daerah berkembang lebih ...